Bursa

Bursa Saham AS Pecahkan Rekor Sepanjang Masa

Jakarta, Akuratnews.com - Bursa saham AS berakhir lebih tinggi, dimana laporan pendapatan emiten yang positif mampu mendorong bursa S&P 500 dan Nasdaq ke rekor penutupan tertinggi. Banyak perusahaan telah melaporkan pendapatannya, sejauh ini telah melampui harapan. Karena itu, masa lalu tidak selalu prolog. Pasar masih berharap masa-masa indah ini akan masih bergulir.

Bursa saham Asia bervariasi pada perdagangan awal Rabu, berbalik turun dari kenaikan diawal perdagangan, setelah S&P 500 dan Nasdaq ditutup pada tertinggi sepanjang masa. Indek Nikkei Jepang, hampir datar setelah awalnya naik sekitar 0,4%. Indek Hang Seng Hong Kong juga menyerahkan keuntungan awal dan terakhir di zona merah. Indek Kospi Korea Selatan, turun sekitar 1%.

Pada perdagangan mata uan, Dolar AS menunjukkan keperkasaannya, sedangkan Euro menjadi mata uang yang paling terpukul. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang, naik 0,34% menjadi 97,622, tertinggi sejak Juni 2017. Euro bergerak 0,33% lebih rendah pada $1,1218 setelah sempat tergelincir di bawah $1,1200 untuk pertama kalinya dalam hampir tiga minggu.

Euro menjadi kontributor terbesar bagi pembentukan indek dolar yakni 57,6%, disusul Poundsterling 11,9%. Yen sebesar 13,6%, Dolar Kanada sebesar 9,1%, Krona Swedia sebesar 4,2% dan Franc Swiss sebesar 3,6%.

Dolar AS mendapat dorongan penguatan setelah The Federal Reserve menyampaikan prediksinya bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal I 2019 yang diprediksi sebesar 2,8%. Angka ini lebih tinggi dari prediksi pasar sebesar 2,2%. Dengan keyakinan tersebut, menggarisbawahi bahwa kondisi ekonomi AS masih cukup kuat.

Optimisme tersebut ditunjang juga dengan data-data yang apik pada pekan lalu. Penjualan ritel di AS dilaporkan melonjak di bulan Maret. Data yang dirilis pekan lalu oleh Departemen Perdagangan AS menunjukkan data penjualan ritel sebesar 1,6% dari bulan sebelumnya yang turun 0,2%. Kenaikan di bulan Maret  tersebut menjadi yang terbesar sejak September 2017. Sementara penjualan ritel inti, yang tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan, dilaporkan naik 1,2% setelah mengalami penurunan 0,2% di bulan Februari.

Data ekonomi terkini menyebutkan bahwa Departemen Perdagangan AS melaporkan angka penjualan rumah baru meningkat 4,5% ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 692.000 unit bulan lalu, level tertinggi sejak November 2017.

Lawan-lawan dolar sedang mengalami tekanan. Euro, kembali diterpa isu pelambatan ekonomi setelah rilis data aktivitas bisnis sektor manufaktur dan jasa yang mengecewakan. Hal itu membuat mata uang 19 negara ini anjlok ke level US$ 1,1216, atau yang terendah dalam dua pekan terakhir.

Poundsterling sedang limbung akibat kemungkinan adanya pemakzulan Perdana Menteri Inggris, Theresa May. Para elite Partai Konservatif, yang ketuanya adalah Theresa May sendiri, dikabarkan akan mendesak sang pimpinan untuk mengundurkan diri. GBPUSD berakhir di 1.2939 pada saat sesi perdagangan Selasa ditutup atau lebih 0,36% dari penutupan sesi Senin. Tekanan bearish masih membayangi hingga menjelang siang ini. Jika level terendah kemarin diterjang dengan kuat, GBPUSD akan jatuh ke target bearish lainnya.

Dari Jepang, yen juga sedang tidak dalam kondisi yang bagus setelah banyak ekonom yang memprediksi Bank of Japan (BOJ) akan melonggarkan kebijakan moneter. Bahkan tiga dari sekian banyak ekonom tersebut memprediksi pelonggaran atau stimulus moneter akan dilakukan pada Kamis (25/4/19) nanti. USDJPY mengakhiri sesi perdagangan hari Selasa di 111.85 atau lebih rendah 0,06% dari penutupan sesi Senin. USDJPY masih berpeluang untuk bergerak sideways di kisaran 111.50 hingga 112.15 yang menjadi batasan konsolidasi sejak hampir delapan hari terakhir.

Harga emas dalam perdagangan bursa berjangka berakhir turun, bahkan jatuh hingga ke posisi termurahnya di tahun ini. Penurunan harga emas hari ini didorong oleh dua faktor, penguatan dolar dan risk appetite pada perdagangan di bursa saham. Dengan hasil perdagangan emas hari ini, telah menantang tingkat harga dukungan kritis di $ 1.273,10. Namun demikian ini masih belum menjadi sinyalemen perubahan tren pasar menjadi bearish. Sebagaimana terlihat, penurunan emas sebesar 0,30% seiring dengan penguatan Dolar AS sebesar 0,32%. Artinya hanya masalah perimbangan dalam hubunga antara Emas dan Dolar AS. Dengan kata lain, harga emas yang lebih rendah hari ini sepenuhnya merupakan hasil kekuatan dolar daripada tekanan jual.

Secara teknis penutupan harga emas hari masih di atas level support kritis pada $ 1.273,10, yang merupakan level retracement berbasis Fibonacci 50%. Namun, harga terendah hari ini di $ 1267,90 tentu menembus jauh di bawah level support itu. Disisi lain, level resistance saat ini di $ 1.276,40 dimana resistensi utama pada $ 1.291,60 masih terjaga. Jika harga emas terus diperdagangkan di bawah tekanan dan ditutup secara substansial di bawah level support yang ditentukan, tentu level support utama berikutnya tidak muncul hingga $ 1.247,30 per troy ons.(HQM)

Penulis:

Baca Juga