oleh

Bursa Saham Asia Diperkirakan Anjlok, Terimbas Bursa Saham AS

Jakarta, Akuratnews – Hasilperdagangan bursa saham AS pada akhir pekan kemarin berakhir dengan menurun tajam.Penurunan ini diperkirakan akan diikuti oleh bursa saham Asia termasuk BursaEfek Indonesia. Indek Harga Saham Gabungan diyakini akan turun.

Pasar merasa kurang puas dengan kemajuan nyata tentang upaya ketegangan Perang Dagang AS-China. Hal ini memicu sentimen risk-off  dikalangan investor, ditengah bayang-bayang laporan ketenagakerjaan AS dibulan November yang mengecewakan.

Dalam perdagangan diakhir pekan, Indek Dow Jones turun 558,72 poin, atau 2,2%, ditutup pada 24.388,95, indeks S & P 500 mundur 62,87 poin, atau 2,3%, ke 2,633,08, sementara Indek Nasdaq merosot 219,01 poin, atau 3%, dengan berakhir pada 6,969.25. Sepuluh dari 11 sektor di S & P 500 melemah, dengan hanya sektor utilitas yang maju, sementara semua 30 komponen Dow Jones diperdagangkan lebih rendah.

Dalam catatan kinerja perdagangan selama sepekan, Indek Dow Jones turun 4,5%, Indek S&P 500 turun 4,6%, dan Indek Nasdaq jatuh 4,9%. Itu adalah penurunan persentase mingguan terbesar untuk ketiga indek utama tersebut sejak bulan Maret. Sementara itu, juga menandai kinerja awal terburuk untuk bulan Desember sejak 2008, menurut Market Data dari Dow Jones.

Tidak tanggung-tanggung, penurunan ini mendorong indek S & P 500 dan Dow Jones kembali ke teritori negatif untuk catatan kinerja sepanjang 2018, sementara Nasdaq masih berpegang dengan keuntungan sebesar 1% sepanjang tahun ini.

Kekhawatiran atas perdagangan global terus membebani sentimen investor, bahkan setelah laporan Jumat pagi dari Departemen Tenaga Kerja yang menunjukkan keuntungan pekerjaan bulan November yang sehat untuk perekonomian AS dan laju pertumbuhan upah tercepat dalam hampir 10 tahun.

Meskipun ada upaya dari pemerintahan Trump dan mitranya di Cina dengan mengurangi ketegangan Perang Dagang, tetap saja investor menuntut lebih banyak bukti bahwa kedua pihak akan menghindari pengenaan tarif baru dan diperluas pada 2019, pelaku pasar mengatakan. Sekali lagi, sepasang pejabat pemerintah memberikan pandangan yang berlawanan tentang negosiasi tersebut dalam penampilan televisi yang terpisah Jumat.

Efek dari kekhawatiran perdagangan di pasar dapat diamati dalam angka-angka kinerja sektor-per-sektor, karena perdagangan ritel mengambil kerugian terberat pada hari Jumat, turun 6,5.

Sementara rencana pemungutan suara pada kesepakatan yang mencakup keluarnya Inggris dari Uni Eropa serta negosiasi antara Italia dan UE terkait defisit anggarannya juga berkontribusi pada investor sentimen yang berisiko.

Hal ini meskipun laporan pekerjaan yang relatif kuat, yang menunjukkan bahwa ekonomi AS menambahkan 155 ribu pekerjaan baru pada November, Departemen Tenaga Kerja memperkirakan, ada penurunan di bawah ekspektasi 190 ribu pekerjaan baru, menurut jajak pendapat MarketWatch.  Laporan pekerjaan ini juga menunjukkan tingkat pengangguran bertahan stabil di 3,7%, seperti yang diharapkan. Penghasilan per jam rata-rata tumbuh 6 sen per jam dari Oktober, atau 0,2%, hanya sedikit dari ekspektasi, dan tumbuh 3,1% year-over-year, tingkat tertinggi sejak 2009.

Angka-angka pekerjaan sangat penting bagi investor, karena data ini akan menginformasikan kepada Komisi Perdagangan Bebas Federal (FOMC) dalam The Federal Reserve, untuk memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang 18-19 Desember. Juga proyeksi kenaikan ditahun yang akan datang. Tanda-tanda bahwa Komite Pasar Terbuka Federal mungkin mengambil tindakan yang kurang agresif dalam menormalisasi suku bunga terlihat dari laporan bahwa pejabat Fed sedang mempertimbangkan dan menunggu kondisi dibulan Desember itu.

Gubernur Bank Sentral AS wilayah St Louis, James Bullard, mengatakan dia akan menganjurkan menunda kenaikan suku bunga akhir bulan ini. Pernyataan Bullard ini hanya dianggap sebagai sinyal, mengingat dia tidak memiliki suara dalam memutuskan masalah kenaikan suku bunga di Bank Sentral AS.

Aksi jual di bursa dianggap berlebihan, tapi memang dalam jangka pendek ada begitu banyak ketidakpastian seputar pembicaraan perdagangan, Brexit dan Italia. Saat ini memang bukan waktu yang baik untuk mengambil risiko secara berani. Banyak perusahaan baru-baru ini meningkatkan kepemilikan kas dalam banyak dana, bahkan mereka tetap memegang ekuitas AS dalam jangka panjang, untuk membantu mengurangi risiko dan mengendarai patch yang bermasalah di pasar.

Sementara itu, laporan tenaga kerja AS membuat jarum sangat baik, pada bulan November tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah bagi investor. Tak heran pasar bisa menafsirkannya sebagai angka yang akan memaksa Fed menaikkan suku bunga bukan hanya pada bulan Desember, tetapi pada bulan Maret juga. Dalam jangka pendek, laporan pekerjaan itu masih bullish, dan berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi perdagangan pasar.

Dalam perdagangan di bursa saham Asia, pada akhir pekan lalu sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi Jumat. Indek Nikkei 225 naik 0,8% dan Indek KOSPI Korea Selatan naik pada hari itu.  Performa pasar keuangan dalam negeri bertolak belakang pada pekan lalu. Dalam sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,16% sementara nilai tukar rupiah justru melemah 1,15% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.

IHSG menutup pekan lalu di level 6.126,36, sedangkan rupiah bercokol di level Rp 14.465/dolar AS. Meski di akhir pekan mampu melaju kencang, rupiah tak mampumenutupi koreksi selama tiga hari berturut-turut sebelumnya.

IHSG menjadi bursa saham dengan performa terbaik di Asia dalam sepekan lalu. Mayoritas bursa saham Benua Kuning justru harus berkubang di zona merah. Dalam sepekan, indeks Nikkei jeblok 3,01%, indeks Hang Seng amblas 1,67%, indeks Kospi turun 1,01%.

Sebaliknya, nilai tukar rupiah justru menjadi yang terlemah kedua di Asia, kala mata uang utama lainnya bergerak variatif terhadap greenback. Performa mingguan rupiah hanya lebih baik dari rupee India yang terdepresiasi hingga 1,74%. Predikat mata uang Asia terbaik pekan lalu disandang oleh yuan China yang mampu menguat hingga 1,19%.

Loading...

Komentar

News Feed