Bursa Saham Global Rontok, Investor Ketakutan

Bursa saham jatuh akibat aksi jual besar-besaran.
Bursa saham jatuh akibat aksi jual besar-besaran.

Akuratnews - Bursa saham global melemah, ketakutan investor atas kenaikan suku bunga dan bunga Obligasi AS mendorong aksi jual besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, bahkan Bursa saham Dow Jones harus turun lebih dari 800 poin.

Keguncangan tidak berhenti disitu saja, bursa S&P 500 juga mendapati hari terburuk mereka sejak Februari silam. Aksi jual atas saham-saham teknologi mendorong kejatuhan indek bursa. Hingga penutupan perdagangan, terhitung bahwa Indek Dow Jones tergelincir 831,83 poin, atau 3,2%, menjadi 25.598,74, mencatat penurunan terburuk satu hari sejak Februari. Indek S & P 500 turun 94,66 poin, atau 3,3%, ke 2,785.68, jatuh untuk hari kelima berturut-turut. Tercatat sebagai penurunan beruntun terpanjang sejak November 2016. Kerugian indek utama didorong sektor teknologi, yang merosot 4,8%, paling curam persentase penurunannya sejak Agustus 2011. Indeks Nasdaq turun 315,97 poin, atau 4,1%, menjadi 7.422,05. Tercatat sebagai penurunan terbesarnya sepanjang 2018.

Sementara itu, bursa saham Asia harus ditutup bervariasi. Perdagangan bursa saham di Cina sedikit lebih tinggi. Sedangkan indek bursa saham Eropa cenderung lebih rendah.

Tindakan pasar ini dipengaruhi oleh kenaikan bunga obligasi dan suku bunga acuan Federal yang lebih tinggi. Meskipun disisi lain, keduanya juga dapat menandakan fase baru di pasar pascakrisis setelah periode bunga ultra rendah.

Kenaikan suku bunga menjadi penyebab langsung kejatuhan ini. Ketika tingkat suku bunga melonjak seperti saat ini, beberapa reaksi tidak dapat dihindari. Tingkat suku bunga adalah dasar penilaian dalam semua aset keuangan, dan ketika ini naik akan mengguncang segalanya. Titik di mana investor harus mulai memperhatikan adalah ketika S & P 500 turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari di 2,765.

Kenaikan bunga pinjaman yang lebih curam untuk perusahaan dan investor, menyebabkan penilaian ulang dari penilaian ekuitas. Di atas itu, kenaikan bunga obligasi yang bebas risiko dapat menarik investor menjauh dari ekuitas, yang dianggap sebagai aset yang relatif lebih berisiko. Namun, bunga yang tinggi juga dilihat sebagai cerminan dari ekonomi yang kuat, terlebih dengan didukung oleh sejumlah data ekonomi yang kuat. Pada hari Rabu, imbal hasil Treasury 10-tahun AS sedikit menurun setelah naik ke 3,23%.

Pedagang melihat prospek perbaikan dimasa depan seiring dengan mulainya musim laporan laba di kuartal ketiga, yang secara tidak resmi dimulai akhir pekan. Investor menunggu sejumlah laporan dari emiten keuangan utama. Secara umum, pertumbuhan laba diperkirakan akan kuat, yang dapat memberikan dukungan terhadap harga ekuitas, meskipun ada beberapa kekhawatiran bahwa ekspektasi terlalu tinggi, dapat menyebabkan kekecewaan.

Dalam jangka pendek, bursa saham AS diyakini akan memasuki zona jenuh jual. Ada potensi penguatan kembali karena S & P berusaha menguji level support pertama pada garis pergerakan harga selama 50 hari. Sementara Nasdaq berada pada rata-rata pergerakan 100 hari. (Hqm)

Penulis:

Baca Juga