Cara Budi Luhur Ambil Pelajaran Dari “Bu Tejo”

Hampir 400 peserta webbinar turut mengikuti kegiatan yang mengambil tema Belajar Cerdas Berbudi Luhur dari Film Tilik. Para peserta berkesempatan langsung menimba dari seluruh narasumber terkait film Tilik yang telah mempopulerkan nama Bu Tejo dalam film Tilik.

Jakarta, Akuratnews.com - Bu Tejo pada bulan Agustus 2020 ini begitu menjadi fenomena di dunia daring. Dengan logat Jawa yang diucapkan, banyak hal tersirat menjadi sebuah kejadian yang ada di tengah-tengah masyarakat. Menjadi gambaran kemajemukkan, bagaimana hubungan masyarakat yang ada, membawa anak manusia tak berlepas pada sebuah keadaan.

Universitas Budi Luhur memiliki cara dalam mengambil sebuah pelajaran positif dari Bu Tejo dalam film berjudul Tilik. Berlatar belakang kehidupan masyarajat Jogja, Film tilik mencoba memeras alam bawah sadar dan menyaringnya dalam sebuah pahatan Cerdas Berbudi Luhur.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Yayasan Budi Luhur Cakti Kasih Hanggoro, cinta kasih, tolong menolong mrnjafi prsan yang tersirat dalam film tilik. Namun, dirinya mengingatkan bagaimana tolong menolong tersebut bukan sekedar melakukan kegiatan toling menolong tetapi kegiatan tersebut menjadi kegiatan positif dan harus tepat.

"Bisa dikatakan menolong penting. Bagi saya dialog yang ada (film Tilik) sebetulnya untuk menunjukkan adanya prasangka buruk terhadap seseorang. Maka, mari kita bersama-sama tidak berprasangka buruk terhadap semua yang ada di sekitar kita," ujarnya dalam webbinar Belajar Cerdas Berbudi Luhur dari Film Tilik, Senin (7/9).

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Univ. Budi Luhur Dr. Ir. Wendi Usino, M.Sc., M.M mengatakan, fiom Tilik menjadi sarana belajar dari karya anak bangsa yang sederhana, namun menarik dan bermanfaat yang hisa memberikan dorongan kepada mahasiswa untuk bisa melakukan sesuatu atau sebuah karya yang bisa mengisnpiratif dengan ide sederhana.

"Film ini menggambarkan rasa empati untuk menjenguk Bu Lurah yang sakit. Namun dalam perjalanannya muncul hal bermacam macam, dari mulai obrolan ringan hingga gibah (membicarakan orang-red). Namun, intinya ini menjadi pengingat bagi kita semua, di mana akhir cerita film ini tidak menggambarkan hitam dan putih tetapi semua abu-abu," ungkapnya.

"Kebenaran menjadi hal relatif, di mana film ini dapat menjadi contoh dari sebuah karya yang baik yang memanfaatkan kondisi masyarakat menjadi karya yang menarik. Ini bisa menjadi contoh bagi mahasiswa budi luhur untuk dapat melahirkan karya yang bermanfaat," tambahnya.

Kasih mengatakan, kekuatan film ini dari perbincangan yang ada. Menurutnya perbincangan memang pyur ada di masyarakat yang dapat memggambarkan bagaimana keadaan masyarakat.

"Pyur ini bisa juga menunjukan keadaan, bahwasannya masyarakat kita sedang sakit, itu yang terjadi dengan menggambarkan keadaan masyarakat yang suka melakukan hal seperti itu," imbuhnya.

Terkait dengan medsos, Kasih menyampaikan hanya sebuah media. Tetapi menghadapi perubahan, masyarakat waspada atau tidak menghadapi perubahan tersebut. Bagi pihaknya di UBL bersama dengan Yayasan dan pusat kebudi luhuran selalu menjaga kebudi luhuran itu di kemudian hari, bukan hanya saat ini saja.

"Kita menjaga anak-anak kita akan kasih sayang empati, dengan mata kuliah kebudi luhuran dan mungkin akan banyak lagi. Kenapa takut (perkembangan medsos), karena tidak mempersiapkan perubahan. Di Budi luhur yang kita persiapkan terkait dengan perkembangan teknologi adalah pemimpin sebagai ketauladanan. Untuk itu ke depan kita perlu mempersiapkan pemimpin yang memiliki ketauladanan. Tanpa itu, kehebatan mata kuliah hingga prestasi tidak menjamin ketika pemimpin tidak menunjukkan ketauladanan. Kedekatan mahasiswa dengan dosen itu perlu ditunjukkan," paparnya.

"Oleh karena itu kita harus bijak. kita harus memiliki kecerdasan, makanya ada pesan jadilah manusia cerdas berbudi luhur, itu yang harus kita tanamkan kepada mahasiswa. Kita pesankan kepada mahasiswa apa yang ditangkap di internet dengan mengedepankan kebudilihuran. Jadi cerdas berbudi luhur merupakan dua hal yang sangat penting untuk memanfaatkan teknologi sosial media," sambung rektor.

Menanggapi tentang pesan dari film, Sutradara Film Tilik Wahyu Agung Ptasetyo mengungkapkan, film Tilik berangkat dari sebuah keresahan. Dimana banyak informasi beredar di medsos yang dinilai sangat menyesatkan. Selain itu juga, film didasari dari tradisi tilikkan. Dimana penulis dan produser melakukan konservasi terlebih dahulu dari tradisi yang ada.

"Mengenai sosok bu Tejo, merupakan hak bagi para penonton untuk mereprentasikan pandangannya. Kami sebagai sineas tidak bisa mengambil opini mutlak dari pesan yang ada," pungkasnya.

Sebagai informasi, Film Tilik dibuat pada tahun 2018 dan baru diunggah ke Medsos (channel Youtube) pada bulan Agustus 2020. Hal ini dilakukan karena sebelumnya film Tilik diikutsertakan dalm festival film di manca negara, yang mengharuskan film tidak diperbolehkan ditayangkan dimanapun. Hasil kerjasama Dinas Pariwisata Yogyakarta dan cineas muda ini, menghasilkan film yang cukup fenomenal hingga menyerap penonton mencapai 22 juta untuk di channel Youtube saja.

Penulis:

Baca Juga