Cawapres Sipil Lebih Tepat Dampingi Jokowi

Jokowi akan pilih capres.
Jokowi akan pilih capres.

Jakarta – Akuratnews.com - Joko Widodo atau Jokowi masih menutup rapat-rapat bakal calon wakil presidennya di Pilpres 2019. Tidak heran masyarakat pun masih menunggu, sekaligus menebak-nebak siapa gerangan. Namun, relawan Jokowi percaya jika mantan gubernur DKI Jakarta itu akan memilih pasangannya yang tepat.

Dalam sebuah kesempatan, Jokowi pernah menyampaikan jumlah kandidat cawapresnya berkisar lima orang. Dalam kesempatan lain, ia menyebutkan empat nama cawapres, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar, Mahfud MD, Airlangga Hartarto, dan Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.

Menanggapi bursa calon wakil presiden ini, Budi Mulyawan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Komunitas Banteng Asli Nusantara atau Kombatan, siap memberikan masukan.

Sebagai relawan, Kombatan kata Budi tidak dalam posisi dukung mendukung, karena Kombatan adalah relawan Jokowi, bukan relawan calon wakil presiden (cawapres) kata Budi pada Minggu (22/7/2018). “Karenanya kita harus percaya, memberi keleluasaan full ke pak Joko Widodo untuk memilih calon pasangannya,” ujar Budi.

Sebagai capres incumbent lanjut dia, maka dalam pencalonannya ini harus mendapat dukungan politik yang maksimal dari partai koalisi. Hal ini demi menjaga soliditas partai koalisi itu sendiri memenangkannya dalam pilpres 2019.

“Berbahaya juga jika sampai partai koalisi pendukung pak Jokowi tidak solid, ada persolan ditimbulkan,” ujar Budi. Nah kata dia, untuk menjaga soliditas tersebut, Kombatan menyarankan cawapres Jokowi sebaiknya dari luar unsur partai politik. Cawapres Jokowi lebih tepat harus non parpol. “Harus non parpol,” tegasnya.

Sosok atau figur dari non parpol itu kata Budi harus mempertimbangkan situasi politik seperti menjelang pilpres nanti, misalnya apakah Indonesia sedang menghadapi persoalan-persoalan perekonomian, atau Indonesia sedang menghadapi ancaman persatuan dan kesatuan bangsa.

“Pak Jokowi harus mempertimbangkan seperti apa situasi politik yang sedang berkembang nanti,” imbuhnya. Dari semua pertimbangan tersebut, Budi Mulyawan melihat Jokowi lebih tepat jika memilih calon pendampingnya menghadapi pilpres 2019 memberi peluang sebesar-besarnya pada civil society. “Pilihan kepada civil society tepat di alam demokrasi dewasa ini,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, pada Senin (24/07/2018) sore, Jokowi bertemu dengan 6 pimpinan partai politik pengusungnya. Dalam pertemuan tersebut, disepakati secara bulat satu nama sebagai calon wakil presiden. Menurut Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, mekanisme pengumuman calon wakil presiden tersebut akan dilakukan oleh Jokowi. (Lukman Hqeem)

Penulis:

Baca Juga