Opini

Celah Lain Kematian di Masa Pandemi Covid-19

Oleh:
Nur Setia Alam Prawiranegara         
Ketua Indonesian Feminist Lawyers Club (IFLC)

Pandemi Covid-19 menjadi menarik untuk ditelaah lebih lanjut dari sisi pendidikan. Mayoritas pelajar, baik dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai jenjang Universitas merasasan kendala besar di dalam proses belajar selama masa pandemi ini.

Kendala dalam roses pembelajaran online salah satunya muncul saat siswa yang tidak memiliki HP dan kuota internet untuk belajar. Belum lagi kendala jaringan internet yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Belum lagi, tidak semua orang tua mampu mendampingi anak belajar di rumah lantaran punya tanggung jawab lainnya.

Siswa yang kesulitan konsentrasi belajar dari rumah dan mengeluhkan beratnya penugasan dari guru pun patut diperhatikan.

Bisa saja hal inj merupakan akumulasi peningkatan rasa stres dan jenuh akibat efek belajar di rumah yang berkelanjutan, dimana akhirnya berpotensi menimbulkan rasa cemas dan depresi bagi anak.

Belum lagi, perbedaan akses karena masalah jangkauan listrik dan internet, maupun biaya akses serta kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda.

Patut pula diantisipasi kelangsungan belajar mengajar yang tidak dilakukan di sekolah berpotensi menimbulkan dampak negatif berkepanjangan, seperti terjadinya kekerasan pada anak dan risiko eksternal ancaman putus sekolah hingga penurunan capaian belajar anak.

Sebagai warga negara, hak mendapat pendidikan yang layak dilindungi dalam Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Sayangnya, hal itu ternyata masih berupa slogan! Contoh kasus terbaru misalnya, curhat guru SMP Negeri 7 Padang yang menyebut, saat tidak semua siswanya memiliki HP, maka solusinya, proses pembelajaran dilakukan secara bergantian.

Lalu siswa kelas 6 SDN Brumbun, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun yang harus nekat menyeberang sungai Catur yang memisahkan antara dusun Sukorejo dan dusun Malang, Madiun agar bisa nebeng HP di rumah temannya guna mengetahui pelajaran dan tugas yang diberikan guru.

Ada juga di wilayah lain, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Pasawahan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat belajar di Pos Ronda untuk mendapatkan sinyal dan bisa mempergunakan HP bersamaan.

Yang paling menyakitkan dan mungkin di luar pemikiran kita selama ini, seorang siswi kelas XI di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ditemukan meninggal dunia di bawah tempat tidurnya. Ia diduga tewas setelah menenggak racun.

Ditemukan pula video di galeri ponsel korban yang merekamnya sedang meminum cairan berwarna biru dari sebuah cangkir.

Dan ternyata, siswi tersebut pernah menyampaikan kepada sahabatnya, sebelum meninggal kerap mengeluhkan tugas-tugas sekolahnya dan juga selalu mimpi tengah dimandikan seperti orang meninggal.

Sejumlah kasus ini harus segera diselesaikan. Salah satu solusi terbaik, Menteri Pendidikan bersama Pemerintah Daerah langsung menelaah serta bergerak cepat untuk menggunakan metode belajar yang disesuaikan dengan wilayah dan kemampuan dari siswa, orangtua dan guru.

Jika kondisi dirasa aman, langsung saja kembali ke metode sekolah seperti biasa guna menurunkan kendala yang terjadi selama masa pandemi. Tentu saja dengan tetap menjaga protokol kesehatan di sekolah.

Kematian ternyata bukan karena langsung diakibatkan virus Covid-19 saja. Sisi lain dari imbas wabah ini yakni kondisi pembelajaran online yang banyak terkendala pun bisa menjadi celah kematian.

Penulis:
Editor:Redaksi

Baca Juga