Opini

Chavez dan Revolusi di Venezuela

Rusdy Setiawan Putra Ketua Umum DPP Forum Rakyat Desa (FORDES)
Rusdy Setiawan Putra Ketua Umum DPP Forum Rakyat Desa (FORDES)

AKURATNEWS - Keberhasilan Hugo Rafael Chavez Frías atau yang sangat dikenal dengan Hugo Chavez melakukan revolusi di Venezuela tidak lepas dari perencanaan dan kalkulasi yang matang. Hugo Chavez berhasil melakukan mobilisasi perangkat-perangkat yang ada secara serentak dan sistematis. Semua perencanaan dilakukan dengan perhitungan matematis yang akurat dengan mempertimbangkan faktor nasional, regional dan global.

Hugo Chavez telah berhasil menjadi inspirator bagi kaum muda Venezuela untuk melakukan revolusi yang berkelanjutan. Kaum muda, di mata Chavez adalah aset besar yang harus dibina sejak dini dan secara berkelanjutan diberikan pendidikan politik, pendidikan hukum dan lainnya yang bermuara pada lahirnya generasi yang mandiri.

Belajar dari Chavez, pemuda dan aktivis muda Indonesia harus sudah melangkah pada tatanan yang dilakukan Chavez. Tidak bergerak dalam langkah gelap yang selalu terjebak kepentingan sempit. Tapi, harus benar-benar mengabdikan diri secara total guna memberikan pendidikan politik terutama bagi kaum miskin yang selama ini terkungkung dalam kebodohan dan kemiskinan.

Sosok Chaves adalah reinkarnasi dari Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno. Pasalnya, yang dilakukan Presiden Venezuela tersebut meniru tindakan Bung Karno semasa masih memerintah Indonesia di masa kemerdekaan.

Berbagai kebijakan Hugo Chaves yang melakukan nasionalisasi badan usaha milik negara, keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keluar dari International Monetary Fund (IMF) serta Bank Dunia, hingga melakukan reformasi agraria merupakan tindakan nyata dirinya melawan kebijakan kapitalisme global.

Kebijakannya menasionalisasi perusahaan minyak yang ada di Venezuela menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi yang dijalankan Chavez tidak mau diatur dengan bangsa barat seperti Amerika Serikat. Ini merupakan langkah berani yang patut diberi penghargaan yang setinggi-tingginya.

Sementara keputusannya untuk keluar dari PBB menunjukkan bahwa tidak selamanya suatu negara bergantung kepada lembaga itu. Pasalnya, selama PBB masih disetir Amerika Serikat dan sekutunya, maka selama itu pula keberadaan lembaga itu menjadi tidak berguna.

Sedangkan keputusan Chavez untuk keluar dari IMF dan Bank Dunia menunjukkan kalau dirinya secara mental dan material untuk tidak bergantung dengan pinjaman lembaga donor internasional itu.

Menurut Chaves, pemerintah seharusnya menggunakan instrumen-instrumen kebijakan ekonomi yang mengakar pada kehidupan sosial Venezuela sebagai policy mix untuk mencapai tujuan pertumbuhan yang jelas dan berkeadilan.

Chaves berpandangan bahwa untuk menciptakan kondisi tersebut pemerintah Venezuela perlu menciptakan kerangka ekonomi makro yang kondusif untuk iklim investasi, produksi dan distribusi yang sepenuhnya dikendalikan oleh Venezuela, bukan oleh investor asing.

Salah satu instrumen yang termasuk ke dalam wilayah ekonomi makro, yaitu kebijakan menasionalisasi perusahaan minyak oleh pemerintah dipakai untuk mencapai keadilan sosial ekonomi dengan cara menerapkan sistem tarif pajak yang progresif guna meningkatkan pendapatan negara.

Di sisi lain, kebijakan keuangan juga difungsikan untuk pengendalian gejolak pasang surutnya ekonomi yang kini sedang melanda kawasan Amerika Latin, paling tidak ditujukan untuk mengurangi ketajaman gejolak negara tersebut.

Pemerintah Venezuela juga mempelajari dan meneliti sedalam-dalamnya setiap kontrak dalam mengeksploitasi sumber daya alam (SDA), apakah benar bahwa sumber-sumber alam dan semua kekayaan alam yang terkandung di dalamnya telah dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat? Atas dasar temuan penelitian ini, eksploitasi SDA akan dilakukan oleh pemerintah Venezuela sendiri.

Dalam hal apakah swasta perlu dilibatkan dalam eksplorasi dan eksploitasinya, dibuat peraturan dan persyaratan baru yang menguntungkan rakyat secara optimal. Seperti dikatakan tadi, kalau perlu SDA dieksploitasi oleh pemerintah Venezuela sendiri dengan BUMN sebagai instrumennya.

Menantang Badai
Apa yang dilakukan Hugo Chaves ibarat menantang badai. Badai itu ditentukan oleh cuaca buruk yang ditimbulkan oleh negara kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Mungkin perlawanan Chaves tersebut karena tidak ada yang berani menolak kehendak Amerika Serikat yang ingin menanamkan faham kapitalisme global pada negara-negara yang ditujunya.

Apa yang dibuat Chaves semata-mata hanya untuk kemakmuran rakyatnya. Kemakmuran tersebut menurut pandangannya dapat diwujudkan jika ketergantungan kepada pihak asing dapat dikurangi atau kalau mungkin dihilangkan sama sekali. Karena itu, karakter pemimpin seperti itu patut dicontoh oleh pemimpin Indonesia. Pemimpin Indonesia pasca Soekarno seakan menjadi pemimpin yang tidak memiliki kharisma.

Seperti diketahui, pada masa jayanya Bung Karno pernah mengusulkan blok perdagangan yang tidak diatur oleh pihak asing. Blok tersebut dapat menjadi sekutu kuat untuk menghadapi kapitalisme global yang pada waktu itu didominasi oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Pemimpin Indonesia saat ini lebih mengiba-iba kepada pihak barat dengan menawarkan diri menjadi sekutu mereka. Padahal, Indonesia memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan pada masa Soekarno dulu. Pemimpin Indonesia saat ini tidak mampu mempelajari apa yang dilakukan oleh para pendahulunya.

Akibatnya, selama 32 tahun bangsa Indonesia berada dalam kungkungan pihak asing yang jelas-jelas tidak sesuai dengan sejarah Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Apa yang dilakukan Chaves mencerminkan ketidakinginan dia untuk menghamba kepada pihak barat, khususnya Amerika Serikat. Sebab, Amerika sudah memiliki motif jelas untuk menguasai perekonomian Venezuela dan negara-negara di benua Amerika Latin.

Presiden Chaves juga dapat dianggap sebagai inspirator bagi pemimpin-pemimpin bangsa dan negara di belahan dunia lainnya yang ingin membebaskan diri dari kungkungan imperialisme barat dengan kekuatan kapitalismenya.

Walaupun sempat dimusuhi oleh pihak barat, namun keteguhannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Keteguhannya yang gigih melawan penjajahan ekonomi tersebut memberikan nilai lebih sebagai seorang pemimpin.

Kelebihan itu kabarnya ‘diperoleh’ dari Presiden Soekarno yang berani menentang imprialisme yang dilakukan bangsa asing semasa penjajahan dan pasca kemerdekaan Indonesia.

Jadi, Chaves telah memilih sosok yang tepat melanjutkan perjuangannya melawan aksi imperialisme modern. Imperialisme ini ditunjukkan dengan ikut campurnya Amerika Serikat dalam menanamkan pengaruh ekonominya pada negara-negara di benua Amerika Latin.

Untuk itu, Presiden Hugo Chaves perlu dipandang sebagai pemimpin baru dunia ketiga yang berani menentang kebijakan negara-negara di dunia dengan konsep anti imperialismenya.

Kisah dan sepak terjang Hugo Chavez sangat inspiratif kendatipun dia sudah berpulang.

Baca Juga