Opini

Corona Belum Usai, Jangan Hanya Bermain Diksi

Ilustrasi Virus Corona

Akuratnews.com - Setiap kebijakannya seringkali menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan. Greget memang jika menilai pola penanganan Covid-19 yang lambat dari pemerintah. Tak hanya lambat bahkan salah langkah sejak awal penanganan. Akibatnya per 12 Juli 2020, kasus Covid-19 bertambah 1.681 kasus, sehingga jika ditotal ada 75.699 orang positif Covid-19 di Indonesia. Dari banyaknya kasus tersebut, ada 71 pasien yang tutup usia dalam rentang waktu 11-12 Juli 2020. Sehingga, total yang tutup usia di Indonesia adalah sebesar 3.606 orang.

Sungguh mudah sekali kalimat "Diksi new normal dari awal, diksi itu segera ubah. New normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru," meluncur dari ucapan jubir pemerintah untuk penanganan Covid-19. Kalimat ini menegaskan kepada rakyat, bagaimana posisi rakyat di mata pemerintah. Tidak berlebihan jika masyarakat geram terutama tenaga medis yang terjun langsung menghadapi pasien corona.

Karena, santainya masyarakat menghadapi pandemi tanpa memperhatikan protokol kesehatan, disinyalir gagal faham terhadap diksi new normal. Pemerintahpun mengakui hal itu. Ia menambahkan bahwa istilah new normal yang digaungkan oleh pemerintah tidak cukup dipahami masyarakat. Diksi tersebut mispersepsi sehingga masyarakat mengira Indonesia sudah normal dari pandemi. Maka, pemerintah mengganti diksi new normal dengan adaptasi kebiasaan baru.

Dalam ranah negara yang memiliki 270 juta jiwa dengan pajak sebagai penerimaan anggaran belanja terbanyak, mengganti diksi new normal tak selevel dengan itu. Tiga ribu orang lebih yang meninggal karena corona tak sebercanda itu. Mereka bukanlah angka statistik yang terus di update. Mereka adalah manusia yang juga membayar pajak semasa hidup mereka. Jangan sampai pemerintah menyia-nyiakan mereka, dengan membiarkan rakyat yang lain menyusul.

Di kutip dari aa.com pemerintah mengatakan bahwa anggaran kesehatan untuk penanganan Covid-19 tidak akan bertambah hingga akhir tahun walaupun kasus positif Covid-19 saat ini semakin bertambah. Anggraran sebesar Rp 87,55 triliun tersebut tak akan bertambah meski rata-rata penambahan pasien 1000 kasus per hari.

Meski dalam kacamata pemerintah, anggaran yang dialokasikan tersebut sudah mempertimbangkan perkiraan modeling untuk jumlah kasus hingga ratusan ribu orang yang positif Covid-19 hingga akhir tahun. Realisasi penyerapan anggaran kesehatan hingga 24 Juni 2020 baru 4,68 persen saja. Pemerintah juga beranggapan bahwa naiknya kasus hanya karena tes yang semakin massif, bukan karena tidak diputusnya rantai sebaran.

Ini menegaskan kepada rakyat bahwa menurut pemerintah adalah suatu yang wajar jika kasus bertambah, karena banyaknya tes massal yang dilakukan. Bahkan, sebuah prestasi bagi pemerintah yang berhasil melakukan tes ke lebih banyak orang.

Padahal jika pemerintah mau mengevaluasi kebijakannya, justru program pelonggaran/ PSBB atau new normal lah yang membuat penanganan Covid-19 sulit dilakukan. Seharusnya, yang dilakukan pemerintah adalah ketika melihat kegagalan dalam penanganan Corona, mereka segera membuat terobosan penanganan wabah corona, termasuk juga menambah anggaran untuk penanganan Covid-19 ini. Bukan hanya sekedar mengganti diksi.

Ironi, banyak masyarakat Indonesia justru berduka dengan adanya kematian pasien Corona yang tinggi. Karena salah satu di antara mereka adalah orang yang sangat mereka cintai. Islam sangat menghargai satu nyawa umat yang binasa. Bahkan dunia seisinya lebih baik hancur daripada satu nyawa umat Islam yang meninggal sia-sia.

Betapa sangat mulianya nyawa manusia di mata Islam. Mindset tersebut telah berhasil menjaga darah umat di bawah naungan Islam. Karena menjaga darah dan nyawa mereka adalah kewajiban negara dan pemimpinnya. Bahkan pemimpin negara yang memiliki mindset Islam akan sekuat tenaga mencegah kematian ratusan bahkan ribuan umat yang mati sia-sia. Mereka tahu, bahwa setiap kepemimpinan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Mindset ini menjadi dasar pemimpin dan para jajaran di bawahnya juga diikuti oleh rakyatnya. Dengan mindset itu, pemimpin akan melakukan bahkan mencari strategi yang jitu agar pandemi segera mereda. Dan rakyat yang diliputi keimanan akan patuh terhadap segala anjuran dan aturan pemerintah.

Tentu saja, ini sangat berbeda dengan negara yang memiliki mindset kapitalisme. Karena uang menjadi dasar pemikiran mereka. Apapun akan dilakukan pemerintah agar roda ekonomi terus berputar. Bahkan sebisa mungkin mengais recehan rupiah dengan membuka sektor-sektor umum seperti mall, pariwisata, pelayanan umum bahkan bioskop yang notabene sebagai tempat berkumpulnya masyarakat. Meski ini dapat menjadikan kluster-kluster baru Covid-19.

Bayangkan jika yang masuk ke tempat-tempat umum tersebut adalah masyarakat yang bermental permisif. Yang tidak taat dan santai dalam protokol kesehatan, karena telah terbuai dengan diksi new normal tersebut? Berapa lagi jumlah angka yang akan positif corona? Dan berapa jumlah rakyat yang akan tutup usia karena virus yang menyerang alat pernafasan bagian bawah tersebut.

Maka, pandemi telah membuka borok penguasa yang tak memperdulikan nyawa rakyatnya. Mereka bekerja hanya demi kepentingan pengusaha dan mengejar recehan rupiah. Sudah seharusnya Indonesia berbenah, dengan mengganti sistem yang sudah lama mendzolimi bangsa atas nama kepentingan rakyat dan negara. Sudah lama masyarakat dibuai mimpi kerja, kerja, dan kerja. Semisal sistem negara sudah mengagungkan kepentingan, kekuasaan dan harta. Pertanyaannya, mereka bekerja demi siapa?

Sudah saatnya masyarakat sadar, bahwa sistem kapitalismelah yang membuat seluruh sendi-sendi negara rusak sehingga tak mampu melayani rakyat. Saatnya shutdown sistem kapitalisme dan instal Islam kaffah. Wallahu a’lam bisshowab.

Baca Juga