Curhat, Ibu Korban Pencabulan Kesulitan Dapatkan Pendamping Psikologi Anaknya

Ilustrasi Pelecehan Seksual Anak)PIXABAY

Surabaya, Akuratnews.com - RN (36), ibu kandung YA (17), remaja yang menjadi korban pencabulan oleh guru spiritual ayah kandungnya, kesulitan mendapatkan bantuan pendamping psikolog.

Kepada akuratnews.com, RN menceritakan, psikologi anaknya pasca mengalami pencabulan selama 8 tahun.

"Tiap malam dia mimpi buruk, jadi susah tidur. Sering mood swing (perubahan emosi secara cepat), tiba-tiba marah-marah gak jelas mas," ungkap RN, Senin (8/3/21).

Lanjut RN, hal tersebut diperparah setelah korban TA menerima telefon dari pihak keluarga JK (ayah korban), yang mengintimidasinya untuk mencabut laporannya di Polda Jatim.

"Gara-gara kemarin keluarganya JK menghubungi TA, minta laporannya dicabut dan diselesaikan secara kekeluargaan. Itupun mereka nelepon langsung ke TA dan bilang jangan kasih tau bunda (RN)," kata RN.

RN juga menyampaikan, anaknya saat ini sudah minta untuk kembali bersekolah. "TA sudah minta sekolah lagi, tapi saya belum berani menyekolahkan. Selain saya sedang mengalami kesulitan ekonomi, kondisi psikologi TA yang seperti itu, menurut saya dia belum siap," terangnya.

Kepada akuratnews.com, RN mengaku bingung, pasalnya beberapa lembaga yang menangani bidang perlindungan anak, tidak merespon keluhannya.

"Aku sudah menghubungi beberapa lembaga perlindungan anak, tapi no respon mas. Aku bingung, karena anakku ini bener-bener butuh pendamping psikologi," ungkapnya.

Bahkan saat akan mengeluh kepada Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, di nomor ponselnya +62812-9194-xxx, RN tidak mendapat respon.

"Saya sudah coba WA di dua nomor ketua komnas PA yang saya dapat, tapi tidak ada respon,Pesan saya hanya dibaca saja. Melalui e-mail juga sama, tidak ada tanggapan," keluh RN sambil menunjukan isi pesannya kepada Ketua Komnas PA.

Demikian halnya saat RN menghubungi Saiful Bachri, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Komnas PA Kota Surabaya, di nomor +62813-9556-3XXX, RN tidak mendapatkan jawaban yang diharapkannya.

"Kalau yang LPA Surabaya itu mas slow respon, hanya dibalas dua kali, itupun hanya tanya posisinya anak saya di mana. Sama juga dengan KPAI, saya sudah email tapi semua sama slow respon, dan tidak ada kabar selanjutnya." keluhnya.

"Kalau gak salah sudah ada 6 yang saya hubungi, Woman Crisist Center di Malang, KPAI, ketua Komnas PA, LPA Surabaya, dan beberapa saya sudah lupa namanya, tapi tidak ada yang merespon keluhan saya," sebut RN.

Sebelumnya diberitakan, TA (17) diduga menjadi korban pelecehan seksual, yang dilakukan oleh AR (44), guru spiritual JK (36), ayah kandungnya.

Saat ditemui akuratnews.com di tempat tinggalnya di Surabaya, pada Rabu (25/2/21) RN, ibu kandung TA menceritakan, bahwa putri pertamanya itu mengalami pelecehan seksual selama 8 tahun.

"Kata anak saya, dia mulai mendapatkan pelecehan itu sejak kelas empat SD. Bahkan dia (TA) masih ingat itu terjadi pertama kali pada bulan Februari 2013, sampai oktober 2020," ungkap RN dengan mata berkaca-kaca seakan tidak menyangka anaknya mengalami hal bejat tersebut.

Perlu diketahui, kasus ini sudah dilaporkan dengan nomor LP-B/31/I/RES.1.4/2021/UM/SPKT Polda Jatim, dan tengah ditangani oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim.

Namun saat dikonfirmasi, Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Ali Mahfud, masih enggan berkomentar.

Penulis:

Baca Juga