Dampak Nyata Resesi 2020: Deflasi dan Jumlah Orang Miskin Naik

Jakarta, Akuratnews.com - Perekonomian Indonesia diprediksi bisa terperosok ke jurang resesi pada kuartal-III 2020.

Seperti diketahui, pada kuartal-II 2020 Biro Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi sudah minus 5,32 persen. Dan negara dinyatakan resesi jika mengalami minus selama dua kuartal berturut-turut atau lebih.

Terkait hal ini, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menjelaskan, dampak yang akan dialami Indonesia bila mengalami resesi di antaranya adalah munculnya sejumlah fenomena sosial mewarnai dinamika kehidupan.

Pendapatan masyarakat berkurang, daya beli menurun, PHK massal, pengganguran dan jumlah orang miskin makin banyak. Dan kondisinya yang sekarang ini adalah adanya penurunan pendapatan bagi semua kelompok masyarakat dan kelompok usaha. Jadi pendapatan turun, daya beli turun, otomatis ada PHK massal, dan penggangguran meningkat,” kata Bhima di Jakarta, baru-baru ini.

Saat ini, lanjut dia, kondisi pasar tak sama seperti gejolak ekonomi tahun 1998 silam. Di mana kala itu terjadi inflasi hingga 70 persen.

Kini, yang terjadi di lapangan ialah deflasi, yang mana harga menurun untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

"Tahun 2020 justru terjadi deflasi dalam beberapa bulan. Deflasi itu penurunan harga, bukan malah naik. Ini mengindikasikan bahwa permintaan menurun, sehingga penjual tidak berani menaikan harga," jelas Bhima.

Dia pun meminta masyarakat bersiap alias mengantisipasi sebelum resesi terjadi di tanah air. Di antaranya dengan cara berhemat, berinvestasi di deposito dan emas yang secara nilai tak terlalu berisiko.

"Masyarakat diminta berinvestasi di aset yang aman, jangan yang berisiko. Misalkan, deposito dan emas. Jadi lebih banyak menabung yang sifatnya darurat. Jaga likuiditas secara mencukupi," ujarnya.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga