Opini

Dari Kampanye Akbar GBK 13 -4 (April) 2019, Akan Lahirkah Gerakan Kebangsaan 13-4?

Denny JA

Opini, Akuratnews.com - Ketika menyaksikan Reuni 212 (2 Desember) 2017, yang diulangi lagi di tahun 2018, dan agaknya akan diulangi pula di tahun berikutnya, hati saya mendua.

Di satu sisi, saya sangat suka dengan aksi solidaritas dan militansi gerakan ini. Saya sangat suka dengan lahirnya gerakan besar di di zaman ini. Kita hidup di zaman yang lebih besar dibandingkan zaman para pendiri bangsa. Harus pula zaman besar melahirkan gagasan besar dan gerakan besar.

Sayapun sangat suka dengan spirit suka rela, jumlah massa yang besar, dan astaga betapa tertib gerakannya.

Namun pada saat yang sama, saya tak suka dengan gagasan tokoh utama gerakannya: Habieb Rizieq. Dalam momen sepenting itu, yang ia hidupkan adalah gagasan NKRI Bersyariah. Sudah panjang lebar saya membuat tulisan. Masa depan Indonesia, sesuai spirit pendiri bangsa, bukan NKRI bersyariah!

Diam- diam saya memendam rindu. Zaman ini, zaman yang besar itu, harus melahirkan gerakan solidaritas massa yang minimal sama besarnya dengan Reuni 212. Tapi gerakan ini harus menghidupkan spirit yang menjadi roh bagi Indonesia modern.

Yang dihidupkan oleh gerakan alternatif itu bukan NKRI Bersyariah, bukan spirit yang dikritik SBY tidak inklusif, tidak “All for All.” Yang dihidupkan haruslah gagasan modern yang merupakan anak kandung zaman yang terbukti bisa membawa Indonesia kepada model negara yang sangat maju, sejahtera, terlindungi kebebasannya, keberagamanya.

Aha! Abakadabra! Hari ini Sabtu, 13-4 (April) 2019, akan terselenggara kampanye Akbar Jokowi-Ma’ruf di GBK. Akan hadir kerumuman massa dalam jumlah ratusan ribu.

Jika kampanye Akbar Prabowo di GBK dikritik SBY tidak inklusif, tidak “All to All,” sebaliknya rapat akbar ini direncanakan menjadi cermin kebhinekaan dan ke-ika- an Indonesia.

Sayapun berharap satu langkah lebih jauh. Bisakah momen ini melahirkan Gerakan Kebangsaan 13-4? Sehingga Indonesia masa kini tidak hanya memiliki Reuni 212 yang dipimpin oleh Habieb Rizieq.

Tapi Indonesia juga memiliki Reuni Gerakan Kebangsaan 134 (dari momen tanggal 13 bulan 4) yang dipimpin oleh aneka tokoh kebangsaan? Yang dipimpin oleh Jokowi- Ma’ruf bersama para pimpinan agama yang beragam: Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu, dan paham kepercayaan?

Tahun 2018 merupakan momen yang penting bagi bangkitnya Gerakan Masyarakat untuk kembali mempopulerkan Pancasila. Dari survei LSI Denny JA sejak 2005 hingga 2018, menunjukkan sebuah trend yang tersembunyi.

Dukungan kepada Pancasila tetap mayoritas tapi trendnya menurun, dari 85%-90 (2005) persen menuju 72-80 persen (2018). Sementara dukungan terhadap paham keagamaan, termasuk NKRI Bersyariah menaik, dari sekitar 4-7 persen (2005) menjadi 13-15 persen (2018).

Indonesia dalam masa transisi. Kita membutuhkan paham kebangsaan yang satu, yang kokoh, yang menjamin “All for All,” kesetaraan warga negara, kebebasan individu, yang sejalan dengan prinsip hak asasi manusia. Kita membutuhkan Pancasila yang menguat kembali. Yang menghebat kembali. Yang hidup menggelora!

Bersama kawan kawan, seadanya, kita hidupkan gerakan masyarakat untuk Pancasila. Lahirlah KBI, Komunitas Bela Indonesia. Momen awalnya satu hari sebelum hari proklamasi 17 Agustus 2018.

Kami memecahkan rekor dunia untuk pendidikan politik. Panitia dari World Guiness Book Record datang ke Indonesia menyaksikan dan memberikan penghargaan itu.

Kepada teman-teman saya katakan bukan penghargaan itu tujuan kita. Tapi pengharaan dunia itu sekedar indikator Indonesia negara yang besar. Pendidikan politik untuk negara yang besar harus besar pula. Kita memerlukan ini sebagai momentum menghidupkan Gerakan Masyarakat untuk Pancasila ke seluruh Indonesia.

Sayapun menulis buku putih gerakan: Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia. Bersama teman teman, dari buku putih itu diturunkan buku pelatihan juru bicara Pancasila berjudul: Pancasila di Era Google.

Apa yang baru dari Gerakan ini. Lima hal yang ditekankan. Pertama, Gerakan mempopulerkan Pancasila agar signifikan haruslah Gerakan Masyarakat, bukan gerakan pemerintah (pemerintah hanya mem- back-up saja). Kedua, rumuskan kembali Pancasila dalam paham yang sesuai dengan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Ketiga, hidupkan kembali solidaritas ke seluruh negeri. Kita memantiknya melalui pelatihan Pancasila terutama kepada mereka yang punya passion menyebar gagasan: ulama/pendeta, aktivis, penulis, guru, jurnalis.

Keempat, ini era media sosial. Latih para juru bicara itu dengan kemampuan menulis, berdebat dan berkampanye di media sosial. Kelima, buat forum dunia maya berskala nasional, sehingga para juru bicara itu bisa sharing pengalaman, dan saling menghidupkan spirit.

Abakadabra! Telah berlangsung pelatihan 1000 juru bicara Pancasila di 25 Provinsi. Pesertanya warga negara yang beragam dari 34 provinsi.

Saya harus menyebut dua nama yang ikut berjasa dalam pertumbuhan awal gerakan ini. Pertama, Tito Karnavian, yang tengah menjabat Kapolri. Kedua, Imam besar Mesjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Dua tokoh ini membolehkan kami memasang figur mereka sebagi simbol Islam yang ramah dan ketegasan terhadap terorisme yang menggunakan simbol agama.

Tapi apa selanjutnya? Gaung yang lebih besar, yang lebih melibatkan kelompok besar masyarakat dibutuhkan. Aksi solidaritas massa dalam jumlah fenomenal, yang terjadi setiap tahun, sangatlah penting untuk katalisator.

Zaman yang besar ini harus juga melahirkan momen yang besar. Sudah lahir dan agaknya akan terus dihidup-hidupkan Reuni 212 setiap tanggal 2 Desember. Namun spirit NKRI Bersyariah tak bisa dipisahkan dari gerakan ini. Tak bisa dihindari Habieb Rizieq menjadi bapak “ideologi” nya.

Sementara yang kita perlukan justru roh yang berbeda. Yang lebih inklusif, lebih “All for All.”

Aha! Hari ini datang momen itu; kampanye akbar 13-4 (April) 2019. Tapi ini bukankah ini momen kampanye pemilu presiden?

Dalam rapat akbar 13-4 (April) memang sudah disepakati walau baju putih sebagai nada dasarnya, tapi nuansanya inklusif. Dari rapat akbar ini harus lahir aroma all for all, spirit bhineka tunggal ika.

Saya pun bermimpi. Semoga kampanye akbar ini memiliki signifikansi melampaui pemilu presiden. Ia juga melahirkan Gerakan Kebangsaan 13-4. Lalu setiap tahun, kita merayakan Reuni Kebangsaan 134.

Indonesia pun, di zaman ini segera memiliki dua jenis reuni. Reuni 212 dan Reuni Gerakan Kebangsaan 134. Terserah kepada 250 juta penduduk Indonesia akan memilih yang mana.

Memilih untuk aktif pada reuni yang mana, pada dasarnya memilih masa depan Indonesia. Dan itu signifikansinya lebih besar daripada memilih calon presiden!*

Penulis: Denny JA

Baca Juga