Data SSGI Menunjukkan Separo Populasi Balita di Matim Alami Stunting Dinilai Tidak Masuk Akal

Sekertaris Daerah Manggarai Timur Ir. Boni Hasudungan Siregar menggelar konferensi pers di ruangan Media Center Setda, Rabu 9 Maret 2022. || Foto: AKURATNEWS // Yohanes Marto.

Ia mengatakan, 42% Prevalensi Stunting di Manggarai Timur berdasarkan data survei SSGI, "Berarti ½ total populasi balita di Manggarai Timur ini mengalami masalah stunting," tegas Sekda Boni.

AKURATNEWS - Masalah Stunting atau Gizi Balita di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) belakangan ini ramai dibicarakan pasca Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting di Indonesia (RAN PASTI) tingkat Provinsi NTT berlangsung di Hotel Aston Kupang, Jumat, 4 Maret 2022.

Berdasarkan sumber resmi (nttprov.go.id), sejak tahun 2018, trend stunting di tingkat Kabupaten dan kota se-Provinsi NTT telah mengalami penurunan. Namun Prevalensi Stunting Nasional menempatkan Provinsi NTT di level tinggi mencapai 20.9% tahun 2021.

Berdasarkan siaran PERS kepala BKKBN, Hasto Wardoyo membeberkan data Studi Status Gizi Indonesia 2021 menyebutkan Provinsi NTT masuk dalam daftar 10 besar prevalensi stunting di Indonesia mencakup 5 Kabupaten yaitu Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat dan Manggarai Timur.

Masuknya Manggarai Timur sebagai salah satu dari lima Kabupaten di Provinsi NTT dengan prevalensi stunting tertinggi telah menimbulkan perdebatan serius di media sosial. Dimana data SSGI disiarkan secara resmi oleh BKKBN menyebut prevalensi stunting di Manggarai Timur mencapai 42.9% pada tahun 2022.

"Terkait hal tersebut maka Pemda Matim merasa perlu menyampaikan beberapa hal sebagai bentuk pertanggungjawaban," hal itu disampaikan oleh Sekda Matim Ir. Boni Hasudungan Siregar dihadapan wartawan saat menggelar konferensi pers di ruangan Media Center Setda, Rabu, 9 Maret 2022.

Berdasarkan Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat secara online (e-PPGBM) oleh Pemda Manggarai Timur melalui dinas terkait, tercatat prevalensi stunting sebesar 12% tahun 2022. Angka itu bahkan menunjukkan capaian positif dari target penurunan prevalensi stunting tahun 2021 yaitu sebesar 13%.

Jika mengacu pada data e-PPGBM maka potensi data invalid SSGI yaitu sebesar 30,9%. Dapat dikatakan bahwa separuh dari jumlah populasi balita di Manggarai Timur mengalami masalah stunting atau gizi kronis, "Seolah-olah di Matim ini, kita tole kiri - kanan hanya melihat orang-orang stunting semuanya," ungkap Boni.

Meskipun tidak membantah terhadap data hasil survei SSGI namun kepada sejumlah wartawan, Sekda Boni mengatakan 42,9% angka prevalensi stunting di Matim seperti survei SSGI seolah-olah menggambarkan Pemda Manggarai Timur tidak memiliki keseriusan menangani masalah stunting.

Ia mengatakan, 42% Prevalensi Stunting di Manggarai Timur berdasarkan data survei SSGI, "Berarti ½ total populasi balita di Manggarai Timur ini mengalami masalah stunting," tegas Sekda Boni.

Survei SSGI pada tahun 2021 dilakukan di 22 Desa. Masing-masing Desa itu diambil sampel balitanya yaitu sebanyak 10 orang. Metode tersebut menurut Sekda Boni tidak sesuai dengan jumlah rata-rata populasi balita Manggarai Timur yang diperkirakan kurang lebih 100 balita per desa.

Selain itu, sampel SSGI hanya diambil dari 22 Desa. Sedangkan di Manggarai Timur terdapat 159 Desa, 17 Kelurahan, dan 38 Desa persiapan. "Sedangkan sampel yang dipakai SSGI hanya 220 balita total dari 22 Desa yang dipilih" jelasnya.

Meskipun tidak meragukan terkait akurasi data hasil survei SSGI, namun Sekda Boni menegaskan bahwa metode pengambilan sampel jelas sangat berpengaruh terhadap hasil survei, "Metodologi pengambilan data yang berbeda sangat mempengaruhi hasil yang diharapkan," kata Sekda Boni.

Sekda Boni menjelaskan, berbeda dengan metode pengumpulan data e-PPGBM oleh petugas gizi para di Puskesmas sesuai hasil penimbangan di Posyandu setiap bulannya. Berdasarkan data e–PPGBM pada tahun 2021, Prevalensi Stunting Kabupaten Manggarai Timur sebesar 12 %.

Sekda Boni mengungkapkan, perdebatan muncul karena adanya perbedaan antara hasil survei SSGI sebesar 42,9% dengan data yang dirilis oleh Pemda Matim tahun sebelumnya yaitu sebesar 12%, "Untuk ini, tahun 2021 Kabupaten Manggarai Timur mendapatkan penghargaan peringkat dua pelaksanaan konvergensi stunting Provinsi NTT," jelas sekda Matim.***

Penulis:

Baca Juga