oleh

Demokrat Kuasai DPR, Rupiah Jaya

Jakarta, Akuratnews.com  – Dolar melemah terhadap sekeranjang mata uang asing lainnya setelah kemenangan Partai Demokrat di DPR Amerika dalam Pemilu Sela yang hasilnya dihitung hari  Rabu (07/11). Alhasil, Rupiah meninggalkan level Rp 14.600 per Dolar AS, dengan berakhir di Rp 14.575 pada perdagangan pasar spot.

Kemenangan Partai Demokrat di DPR AS ini memberikan tenaga untuk menjadi penghalang dan mengkritisi pemerintahan Presiden Donald Trump. Awalnya, sejumlah analis mengatakan terpecahnya kendali Kongres untuk sementara bisa membebani dolar karena penguasaan Partai Demokrat terhadap DPR kemungkinan akan dilihat sebagai penolakan atas Presiden Donald Trump dan kebijakan yang mendorong pertumbuhan perusahaan.

Jika Kongres terpecah, dimana Demokrat mengontrol DPR dan Republik menguasai Senat, prospek kebuntuan legislatif terbuka dan bisa menyulitkan Presiden untuk meloloskan sejumlah kebijakan seperti pemotongan pajak bagi kelas menengah, dan itu merupakan katalis negatif untuk dolar AS.

Indek Dolar AS (DXY), turun 0,28 % ke 96,04. Dolar mengungguli sebagian besar mata uang utamanya tahun ini, mengambil keuntungan dari ekonomi domestik yang kuat dan suku bunga yang lebih tinggi.

Meski melemah dengan hasil Pemilu Sela ini, terlalu dini untuk mengatakan bahwa Dolar AS telah berbalik dari tren kenaikannya. Pasalnya, The Fed masih akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali diakhir tahun ini. Data ekonomi terkini, dimana ketenaga kerjaan AS sangat solid memperkuat keyakinan tersebut. Pasar mengantisipasi hasil pertemuan FOMC yang akan dirilis pada Kamis besok dengan kemungkinan tidak aka nada perubahan dengan rencananya.

Disisi lain, hasil pemilu Kongres yang merupakan DPR di AS dianggap tidak mungkin memiliki dampak material terhadap perselisihan perdagangan AS – China. Oleh sebab itu, Dolar diperkirakan juga akan mendapatkan dorongan kembali jika ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing meningkat.

Melihat pergerakan rupiah yang cukup beringas, Bank Indonesia (BI) sebagai penjaga stabilitas nilai tukar menegaskan akan membiarkan pergerakan nilai tukar bekerja sesuai dengan mekanisme pasar. “Rupiah perlu diberikan ruang untuk menguat karena selama tahun 2018 telah (melemah) terlalu tajam,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah sebagaimana dilansir dari laman CNBC Indonesia.

BI masih melihat penguatan rupiah yang secara drastis masih dalam batas wajar. Pasalnya, sepanjang 2018 mata uang Garuda benar-benar digilas habis oleh greenback. “Rupiah selama 2018 sudah kena hit terlalu tajam sehinggga sudah seharusnya kalau pulih menguat tajam,” katanya. Meski demikian, Nanang menegaskan bank sentral tak serta merta berdiam diri. Komitmen BI sudah jelas bahwa akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah. (LH)

Komentar

News Feed