Dibacok Jamaah Saat Shalat Maghrib, Imam Masjid di OKI Ini Tutup Usia

Palembang, Akuratnews.com - Kabar duka datang dari Muhammad Arif (61). Warga Kelurahan Tanjung Rancing, Kecamatan Kota Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan yang juga imam masjid ini akhirnya meninggal dunia, Senin (14/9).

Imam masjid ini awalnya menjadi korban penganiayaan jamaahnya sendiri. Ia menghembuskan nafas setelah dirawat tiga hari di salah satu rumah sakit di Palembang. Arif mengalami luka akibat benda tajam di wajah dan punggungnya.

Arif dibacok saat sedang memimpin shalat maghrib berjamaah di Masjid Nurul Iman, tak jauh dari rumahnya.

Peristiwa itu berawal saat korban menyampaikan kepada pelaku berinisial M untuk memberikan kunci kotak amal kepada bendahara.

Ketika pelaksanaan shalat maghrib, pada saat rakaat pertama, pelaku keluar dari safnya pulang ke rumah dan mengambil sebilah parang, setelah itu pelaku kembali ke masjid.

"Saat itulah pelaku langsung melakukan penganiyaan terhadap korban," jelas Kapolres Ogan Komering Ilir, AKBP Alamsyah Pelupessy seperti dilansir dari Kompas TV.

Menurut informasi, jenazah tidak akan disemayamkan di rumah duka, tapi dari rumah sakit di Palembang langsung dibawa ke Desa Tanjung Laut, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir, yang merupakan desa asal Arif.

Saat ini, M yang menjadi pelaku penyerangan saat ini sudah berada ditahan di Mapolsek Kayuagung.

Alamsyah memastikan, pelaku M dalam keadaan normal dan tidak menderita gangguan jiwa saat melakukan penganiayaan terhadap korban.

"Saat melakukan aksinya, pelaku juga tidak dalam pengaruh obat-obatan atau minuman keras," kata Alamsyah.

Ia mengatakan, motif pelaku melakukan penyerangan adalah dendam karena tersinggung saat diminta mengembalikan kunci kontak amal ke bendahara masjid.

"Motifnya rasa tersinggung pelaku terhadap korban, karena diminta menyerahkan kunci kotak amal ke bendahara masjid," kata Alamsyah.

Alamsyah menambahkan, karena korban sampai meninggal dunia, pasal yang dikenakan kepada tersangka ada penambahan, yaitu Pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman maksimal tujuh tahun penjara.

"Namun masih kita kembangkan apakah ada unsur perencanaan dalam kejadian tersebut," kata Alamsyah.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga