Dibuat Asal Jadi Kerap Bikin Film Horor Nasional Tak Dapat Tempat

Jakarta, Akuratnews.com - Tak bisa dipungkiri jika genre film horor sudah hadir di layar perak nasional puluhan tahun dengan segala keragaman warnanya.

Dan pada perjalanannya, genre film horor ini mengalami banyak perubahan yang disebabkan berkembangnya teknologi yang mengiringinya. Dimulai dari efek ala kadarnya, hingga kini yang menggunakan efek visual editing modern sampai yang sedang tren dengan Computer Generated Imagery (CGI).

Seiring hal itu, meski genre film horor tengah menemukan babak barunya dalam karya kreatif seni perfilman, banyak pula karya film horor yang dianggap sebagai film murahan akibat penggarapan yang sekadar jadi.

Dalam kategori box office, masih bisa dihitung jari berapa banyak film horor nasional yang mampu menyedot penonton di atas satu juta. Mayoritas malah hanya berkutat dipuluhan ribu saja.

Sebelum era kelahiran kembali film nasional sekitar 16 tahun silam, pergumulan film horor nasional juga mengalami problem yang sama dengan saat ini, yaitu minimnya perolehan jumlah penonton.

Bedanya di era keemasan film horor periode antara tahuan 1970an hingga 1990an, memang tak memiliki catatan bahwa ada film horor (saat itu) yang bisa mencapai jutaan jumlah penonton.

‘Jailangkung’ (film 2017, 2.5 juta penonton), ‘Jailangkung 2’ (2018, 1.4 juta penonton), ‘Mata Batin’ (2017, 1.2 juta penonton), ‘Munafik 2’ (45 juta RM) diputar di Malaysia, ‘Pengabdi Setan’ (2017, film remake 80an, 4,2 juta penonton) diputar di Malaysia, ‘Sabrina’ (2018, 1.3 juta penonton) diputar juga di Singapura, Jepang, Thailand, Malaysia, ‘Suzzana: Bernapas dalam Kubur’ (2018, 3.3 juta Penonton Hari ke-27),’The Doll 2′ (2017, 1.2 juta penonton), ‘Danur2: Maddah’ (2,5 juta penonton), ‘Asih’ (1.7 juta), ‘Terowongan Casablanca’ (2007, 1,2 juta penonton), ‘Sebelum Iblis Menjemput’, (1.1 juta penonton) dan ‘Roh Fasik’ (2018, 1 Juta RM) diputar juga di Malaysia, adalah sejumlah contoh film horor nasional yang mampu menyedot penonton cukup besar di Indonesia, Malaysia dan negara ASEAN.

Bukan saja soal raihan jumlah penonton yang bikin dipandang sebelah mata, genre horor pun masih minim dan miskin prestasi di ajang festival sekelas Festival Film Indonesia (FFI) atau Forum Film Bandung (FFB)

“Padahal, potensi pasar dan penggarapan film horor nasional sangat besar dan menjanjikan apabila digarap dengan baik dan sungguh-sungguh mampu menghasilkan devisa bagi negara,” ujar Ketua Umum Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) Muhammad Bagiono, SH di Jakarta, baru-baru ini.

Ia melihat, potensi yang besar itu seharusnya mampu membuat film horor nasional bisa ‘dianggap’ dan tak terasa seperti ‘dianaktirikan’ di peta perfilman Indonesia.

“Buktinya, dengan penggarapan yang baik dan serius, di tahun 2017 FFI mentasbihkan 10 Piala Citra untuk Film Pengabdi Setan besutan sutradara Joko Anwar,” papar Bagiono.

Oleh karenanya, sudah saatnya, lanjut Bagiono yang juga Ketua Bidang Hukum Badan Perfilman Indonesia (BPI), kualitas film horor nasional ditingkatkan agar ada ruang yang memadai, yang lebih besar lagi serta bisa mendapat kesempatan di ajang ajang perfilman nasional maupun internasional.

“Besarnya potensi film horor nasional, tapi disayangkan seolah-olah ‘dikurung’ dalam stigma kasta rendah yang tidak diperhitungkan atau tidak dianggap. Mungkin dibutuhkan ajang festival film horor guna memacu kualitas film horor nasional,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan bintang film ‘Munafik 2’, Weni Panca. Ia mengungkapkan dirinya selaku aktris film horor juga merindukan akan adanya ajang khusus bagi para insan film horor dan pencinta film horor.

“Dimana tentu rasanya akan berbeda dengan penghargaan-penghargaan film lainnya. Film horor bisa memiliki gengsinya sendiri sebagai film yang juga banyak disukai oleh penonton Indonesia,” ujar Weni.

Lanjut Weni, dengan demikian, film horor terlepas dari segala batasnya sebagi karya seni, juga punya kepatutan untuk dianggap dalam forum festival.

“Banyak sisi yang layak untuk dijadikan apreasiasi para juri,” imbuhnya.

Sedangkan produser senior Ody Mulya Hidayat juga menekankan bahwa genre film horor juga harus mendapat perlakuan sama dengan genre lainnya.

“Jadi jangan lagi anggap film horor itu sebelah mata, buktinya banyak juga yang hasilkan ratusan ribu hingga jutaan penonton. Bahkan dalam pembiayaan banyak juga yang digarap secara serius. Juga tak sedikit juga rumah produksi yang melakukan post production ke luar negeri demi mendapatkan hasil visual dan sound yang maksimal,” jelas Ody.

Berangkat dari sejumlah fakta di atas, maka Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI) akan menggelar diskusi ringan bertema ‘Menjadikan Film Horor sebagai Tontonan Menghibur dan Tuntutan Selera’ yang akan membahas dan mengupas upaya peningkatan kualitas dan wacana festival film horor nasional. Rencananya diskusi ini akan di gelar Agustus mendatang.

“Kita ingin membedah kenapa film horor nasional punya alasan kuat untuk diperhitungkan. Karena dari mulai cerita, akting pemain, scorring, efek visual, originalitas, penulisan skenario dan lainnya, film horor pun juga punya kekuatan yang layak dinilai di ajang festival,” papar Kicky Herlambang, Ketua Penyelenggara Diskusi.

Diskusi ini, lanjut Kicky, nantinya akan memberikan rekomendasi ke publik bahwa film horor selain masih menjadi primadona yang juga memuat banyak konten lokal yang layak disampaikan ke masyarakat.

Sekaligus mengedukasi publik untuk memilih jenis film horor seperti apa yang bagus untuk ditonton. Sineas dan filmmaker juga dituntut untuk selalu membuat karya terbaik, bukan asal bikin dengan label horor,” pungkas Kicky.

Penulis: Rianz
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga