Diduga Karena Pindah Agama, Mahasiswi IPB Tak Dapat Beasiswa

Medan, Akuratnews.com - Arnita Rodelina Turnip, pada 2015 menerima Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari pemerintah daerah Kabupaten Simalungun. Dia terpilih untuk kuliah di Fakultas Kehutanan IPB dan dilepas keberangkatannya ke Bogor oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun pada tanggal 7 Agustus 2015.

Namun, ketika memasuki semester kedua, datang surat pemberitahuan yang menyatakan bahwa namanya dicoret dari peserta BUD.

Karena dinyatakan dicoret, Arnita tak sanggup membayar sendiri biaya kuliah sebesar Rp11 juta per semester sejak semester kedua hingga keempat. Karena itu pula otoritas IPB akhirnya memberhentikan status kemahasiswaannya.

Sebelumnya diketahui, Arnita lahir dari keluarga pemeluk agama Kristen. Saat baru menjalani semester pertama kuliah, dia memutuskan memeluk Islam, tepatnya pada 21 September 2015.

Sementara Lisnawati, ibu Arnita yang tetap memeluk agama Kristen, menceritakan, awalnya dia kaget dengan pilihan putri sulungnya itu meski akhirnya menghormati keyakinan Arnita. Tetapi dia tak habis pikir alasan beasiswa Arnita diputus, padahal putrinya tak melanggar apapun dan tidak menyalahgunakan narkoba bahkan nilai akademiknya cukup baik.

Lisnawati pun menanyakan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun. Namun jawabannya amat normatif, yaitu masalah anggaran dan etika. Dia mencoba mengklarifikasi alasan “etika” itu bermakna gara-gara pindah agama atau maksud lain. Tetapi tak ada jawaban.

Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui Dinas Pendidikan membantah kabar yang menyebut beasiswa kuliah untuk Arnita Rodelina Turnip di Institut Pertanian Bogor (IPB) diberhentikan gara-gara pindah agama.

Disdik Simalungun berdalih kalau beasiswa dihentikan dan nama gadis itu dicoret dari daftar penerima Beasiswa Utusan Daerah (BUD) karena masalah teknis. Instansi tersebut mengaku sempat kesulitan untuk mentransfer dana beasiswa itu kepada Arnita karena sulit dihubungi.

“Ini urusan uang. Pemda Simalungun mau membayar uang kuliah, mau ditransfer ke mana. Kita sangat berhati-hati untuk itu,” kata Kepala Disdik Simalungun, Resman Saragih saat berada di kantor Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara Jalan Mojopahit, Medan, Selasa (31/7/2018).

Resman juga membantah pemberitaan beberapa media massa yang menyebut kasus yang dialami Arnita karena kebijakan Dinas Pendidikan bermotif suku, agama, ras dan antargolongan (Sara). Dia berterus terang telah menyampaikan itu juga kepada Ombudsman sebagai klarifikasinya mewakili Pemerintah Kabupaten.

“Saya perlu klarifikasi, untuk pemutusan BUD atas nama Arnita Rodelina Turnip di IPB tidak ada unsur mengandung SARA,” jelasnya.

Resman merasa lega karena Ombudsman telah memfasilitasi pertemuan antara dia dengan keluarga Arnita yang diwakili sang ibu, Lisnawati Damanik, dalam kesempatan itu. Kendala komunikasi yang menjadi sebab beasiswa kuliah untuk Arnita disetop katanya, kini sudah terselesaikan.

Setelah pertemuan itu, Dinas akan berkoordinasi dengan IPB agar Arnita bisa diterima lagi berkuliah di kampus itu. Tentu saja dengan beasiswa penuh, yakni Arnita mendapatkan dana sebesar Rp20 juta per semester.

Kasus ini bermula dari laporan seorang ibu bernama Lisnawati kepada Lembaga Negara Pelayanan Publik Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumatera. LNPP Ombudsman kemudian beberapa kali memamggil pihak Pemerintah Daerah Simalungun. (HSP)

Penulis:

Baca Juga