Sengketa Pembelian Excavator

Difasilitasi Indotruck di Nabire? Wilibrodus Ardi Mau: Refunding Saja! 

Arwan Koty (Kiri) dan Kuasa Hukumnya, Wilibrodus Ardi Mau. (Foto istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - PT. Indotruck siap memfasilitasi untuk melihat excavator yang saat ini berada di Polair Nabire-Papua dan bersama-sama melengkapi dokumen kepemilikan excavator yang kini jadi sengketa dengan keluarga Arwan Koty.

"Terkait dalam pengambilan barang, kita siap menfasilitasi untuk melihat barang (excavator) itu ke Nabire. Kalau dikatakan barang tidak bisa diambil dari penitipan di Polair mari kita sama-sama. Dokumen kita lengkapi,” Kata Pengacara PT. Indotruck Utama, Yudistira seusai persidangan di gedung Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPKS) DKI Jakarta, Senin (15/7/2019).

Menanggapi pernyataan Pengacara PT. Indotruck Utama, Wilibrodus Ardi, Tim Kuasa Hukum Arwan Koty yang didampingi langsung oleh Arwan Koty mengatakan sikap dari PT. Indotruck masih belum jelas.

Sebelumnya, Wili sempat memaparkan, pada proses persidangan, terungkap jika Vini tidak bisa mengambil excavator yang di klaim Indotruck dan forwader serta agency, telah dititipkan di polair Nabire. Namun alat berat itu tidak bisa diambil oleh Vini lantaran tak ada bukti kepemilikan sebagai pemilik alat berat tersebut.

Wili mengaku terkejut sebab kliennya tak bisa mengambil tanpa dokumen kepemilikan yang dianggap sah. Menurut Wili bagaimana bisa seseorang mengklaim bahwa alat berat itu adalah miliknya jika terjadi persoalan terhadap alat berat tersebut tanpa disertai dokumen kepemilikan yang sah. Inilah yang terjadi pada kliennya.

"Tadi Bu Vini bilang, 'saya mau ambil nggak boleh. Oleh kapolres dibilang, dokumen mu mana?' Pasti dokumen yang dimaksud kan dokumen kepemilikan. Akhirnya saya tanya, coba Indotruck jawab secara resmi, apa syarat kepemilikan Excavator, sebagai contoh kalau mobil, ada STNK ada BPKB, berdasarkan serial mesin, ya kan, nggak bisa rubah itukan. Kalau Excavator bagaimana? dijawab Indotruck kalau Excavator? (hanya ada) jual beli, invoice, satu lagi pelunasan." Ungkap Wili.

"Waduh..ini (misalnya) ada seribu barang di lapangan, yang mana kita punya? (kalau) yang ada di kapal tenggelam? yang mana yang kau klaim? Sekarang kalau kapal ini tenggelam, maka kepada siapa dia menuntut? Kepada Indotruck atau kepada forwader?" Tandas Wili. Menurut dia, PT INdotruck hanya mengulur-ulur waktu saja. Oleh karena itulah, pihak Arwan Koty menginginkan 'refunding' atau meminta dana pembelian excavator tersebut dikembalikan.

“Mereka hanya mengulur-ulur waktu saja. Kita berharap PT. Indotruck Utama 'Refunding' saja. Itu mungkin yang lebih baik. Kami sudah lelah. Kita masih banyak urusan,” Tandas Willidradus.

Hal senada juga diamini oleh istri Arwan Koty, Vini Fong yang menginginkan dana pembelian excavator yang sudah dibayar lunas dikembalikan. “Saya mau Refunding aja,” tegas Vini Fong yang dihubungi lewat telepon.

Ketika ditanya, apakah menuntut bunga uang seandainya termohon mau Refunding? Tegas Vini Fong menjawab, "Tidak!, Uang saya kembali, cukup! Saya tidak mengharapkan bunga,” Tandasnya.

Penjelasan Pengacara Indotruck Utama

Sebelumnya, Pengacara PT. Indotruck Utama, Yudistira menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman terkait dengan dokumen kepemilikan escavator yang berbeda dengan kendaraan bermotor lainnya.

Menurut dia, jika kendaraan bermotor lainnya, memilik BPKB dan STNK, namun, kalau alat berat tidaklah demikian, surat kepemilikan itu hanya berbentuk Perjanjian Jual Beli (PJB), Invoice dan bukti pembayaran. Karena disitu katanya ada serial membernya. Serial nomer unit tiap-tiap excavator.

Diketahui, Perselisihan antara pihak keluarga Arwan Koty dengan pihak PT. Indotruck Utama bermula dari transaksi antara Arwan Koty bersama anaknya yang bernama Alfin telah membeli, masing-masing, 1 unit Excavator merek Volvo kepada PT. Indotruck Utama. Transaksi jual beli antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 unit Excavator Volvo EC 210D seharga Rp1,265 miliar. Sedangkan transaksi jual beli antara Alfin dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 Unit Crawler Excavator EC350D seharga Rp2,960 miliar.

Kedua Transaksi itu terjadi pada tahun 2017. Saat itu, baik Arwan maupun Alfin telah membayar pelunasan pembelian Excavator sesuai dengan harga yang diberikan oleh PT. Indotruck Utama, termasuk membayar biaya pengiriman kedua alat berat itu ke Nabire-Papua.

Namun, persoalan timbul setelah pembayaran telah dilakukan. Menurut keluarga Arwan Koty, kedua alat berat itu tak kunjung diserahterimakan kepada Arwan dan Alfin. Atas dasar itulah, Arwan Koty kemudian mengadukan persoalan pembelian excavator ini ke BPSK. Namun pengaduan pembelian excavator ke BPSK hanya untuk sengketa pembelian yang dilakukan Arwan Koty saja sedangkan pembelian Alfin, tidak diajukan di BPSK.**

Penulis:

Baca Juga