Digugat Tommy, Kuasa Hukum Arwan Beberkan Dugaan Konspirasi Pengiriman Excavator

Sengketa gugatan Wanprestasi antara Tommy Tuasihan selaku Penggugat sekaligus juga Tergugat Konvensi melawan Arwan Koty sebagai Tergugat sekaligus juga Penggugat Rekonvensi, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. (foto istimewa)

Menurut Wili, awalnya tergugat (Arwan Koty) membeli excavator Volvo EC 210D di PT Indotruck Utama seharga Rp1,265 miliar sesuai perjanjian Jual Beli (PJB) tertanggal 27 Juli 2017. Pembelian Excavator juga dilakukan oleh Anak Arwan Koty bernama Alfin yang membeli excavator Volvo Excavator EC350D seharga Rp2,960 miliar.

"Atas Jasa Pengangkutan alat berat atau Excavator tersebut ditunjuk rekanan dari PT. Indotruck Utama yaitu sdr. Soleh (selaku Forwader) dan sdr. Tommy Tuasihan (Penggugat/Tergugat Konvensi selaku yang mengirim dengan Kapal). Bahwa sdr. Soleh dan sdr. Tommy bertanggung jawab penuh terhadap pengangkutan alat berat dan dokumen-dokumen (Dokumen Perkapalan) selaku forwarder ekspedisi. Namun hingga Gugatan ini diajukan oleh Tommy, pihak Arwan Koty tidak pernah menerima excavator yang sudah dibayar lunas maupun dokumen dokumen yang terkait," kata Wilibrodus Ardy Mau kepada Wartawan, beberapa waktu lalu.

"Adanya transfer langsung oleh Penggugat ke Indotruck Utama sesuai dalil Penggugat angka 4 halaman 2, maka jelas ada hubungan hukum dengan pihak ketiga (Indotruck Utama) demi membuat terang hubungan kausalitas hukum antara Penggugat dan Tergugat serta pihak ketiga. Dalam hal ini Indotruck Utama patut ditarik dalam perkara aquo," kata Wili.

Wili menegaskan, dalam proses jual beli alat berat tersebut, pihak Arwan Koty telah melakukan pembayaran lunas, namun sampai saat ini Alat berat yang sudah dibayar lunas berikut Dokumennya tidak pernah diterima oleh pihak tergugat atau Arwan Koty, sehingga Tergugatlah yang semestinya menderita kerugian secara Real.

"Bahwa keterkaitan Penggugat (Tommy Tuasihan) dan PT. Indotruck Utama serta pihak-pihak lain dalam perkara ini, telah membuat Arwan Koty mengalami kerugian yang sangat besar, oleh karena itu Arwan Koty pernah mengajukan Gugatan wanprestasi di Pengadilan Jakarta utara dengan Tommy Tuasihan sebagai Tergugat Ill dengan Perkara No.507/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Utr," terang Wili.

"Dengan demikian maka wajib hukumnya dalam perkara aquo, pihak PT Indotruck Utama dan pihak yang bernama Soleh ditarik selaku Turut tergugat demi terang dan jelasnya perkara aquo. Dengan tidak dilibatkannya pihak PT Indotruck Utama dan pihak Soleh dalam perkara aquo maka jelas gugatan ini patut dinyatakan kurang pihak (Plurium litis consortium) sehingga perkara aquo patut dan layak untuk ditolak (nief onvanklijk verkiard) dengan alasan kurang pihak," tandasnya.

Gugatan Dianggap Kabur atau Tidak Jelas

Wili juga menyatakan, gugatan Tommy kabur atau Obscuur Libel. Menurutnya, gugatan yang disampaikan oleh Tommy Tuasihan tidak jelas.

Pertama, menurut Wili, gugatan penggugat tidak disusun secara sistematis, Penggugat tidak secara runtut dan jelas dalam mendalilkan gugatannya, Penggugat dalam gugatannya banyak sekali mencantumkan nama, kalimat dan kata yang tidak bisa dipahami; Bahwa dalam proses persidangan Tergugat kembali menemukan bukti yang membuat gugatan aquo semakin tidak jelas dan kabur.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6
Penulis:

Baca Juga