Digugat Tommy, Kuasa Hukum Arwan Beberkan Dugaan Konspirasi Pengiriman Excavator

Sengketa gugatan Wanprestasi antara Tommy Tuasihan selaku Penggugat sekaligus juga Tergugat Konvensi melawan Arwan Koty sebagai Tergugat sekaligus juga Penggugat Rekonvensi, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. (foto istimewa)

Bahwa alasan digugurkan perkara tersebut karena Pemohon PKPU (TOMMY TUASIHAN) tidak pernah hadir di muka persidangan selama tiga kali berturut-turut;

Wili mengatakan, sangat aneh dimana Penggugat selalu menuduh kepada Tergugat tidak pernah beritikad baik dan selalu menghindar. Namun sebaliknya fakta yang sesungguhnya Penggugatlah yang (diduga) tidak pernah beritikad baik dan selalu menghindar atas tanggung jawabnya sebagai pengirim barang alat berat milik Tergugat sesuai dengan fakta

pertama, terkait dengan permohonan PKPU yang diajukan oleh Penggugat, namun Penggugat tidak pernah hadir (Bukti T/PR-4),

kedua, Gugatan Wanprestasi yang diajukan oleh Tergugat namun Penggugat selaku Tergugat III tidak pernah hadir (Bukti T/PR-2.1 s/d R/PR-2.5) maka mestinya perkara a quo memenuhi kriteria NEBIS IN IDEM yaitu atas suatu perkara dengan obyek yang sama dan para pihak yang sama telah diuji dan diputus dalam suatu perkara yang telah berkekuatan hukum tetap.

Tentang Kerugian Arwan Koty selaku Penggugat Rekonvensi

Wili juga menuturkan, kerugian kliennya akibat dugaan pengiriman yang dinilai tidak jelas, bahwa atas perbuatan para pelaku dan Penggugat/Tergugat Rekonvensi (Tommy) mengakibatkan Tergugat/Penggugat Rekonvensi mengalami kerugian yang sangat besar, yaitu:

- 1 (satu) unit excavator jenis Volvo EC 210D Rp.1.265.000.000;
- 1 (satu) unit excavator jenis Crawler EC 350D;
(milik Anak Penggugat Rekonvensi) Rp.2.960.000.000,-
- 2 (dua) unit Mesin Genset Rp.867.000.000.-
- 1 (satu) unit mobil Merk Mitsubishi Strada Rp. 350.000.000.-
- Biaya pengiriman /ekspedisi Rp.375.000.000.-
- Biaya hotel, akomodasi, pengurusan ijin pertambangan, pendekatan masyarakat serta tokoh masyarakat di lokasi pertambangan dan pengurusan ijin kerja pekerja asing yang diperkirakan sebesar Rp.5.000.000.000.-

"Sehingga Total kerugian pihak Arwan Koty mencapai Rp.10.817.000.000." terang Wili.

Dari uraian fakta dan peristiwa diatas, dalam kesimpulannya, Arwan Koty selaku Tergugat Konvensi/Penggugat Rekonvensi memohon kepada Majelis hakim yang memeriksa dan mengadili Perkara aquo untuk berkenan memutuskan dalam amar sebagai berikut :

DALAM EKSEPSI

1. Menerima dan mengabulkan semua eksepsi Tergugat.

DALAM KONVENSI

1. Menolak Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Surat Pernyataan Hutang (SPH) tertanggal 2 november 2017 CACAT HUKUM (plurium litis consortium);
3. Menghukum Penggugat membayar segala biaya perkara

DALAM REKONVENSI

1. Mengabulkan Gugatan Penggugat Rekonvensi untuk seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa Penggugat Konvensi / Tergugat Rekonvensi telah melakukan Perbuatan melawan hukum;

3. Menghukum kepada Penggugat Konvensi / Tergugat Rekonvensi untuk membayar ganti kerugian kepada Tergugat Konvensi / Penggugat Rekonvensi sebesar Rp10.817.000.000.- (sepuluh milyar delapan ratus tujuh belas juta Rupiah);

4. Menghukum Penggugat Konvensi / Tergugat Rekonvensi untuk membayar kerugian immaterial sebesar Rp. 1.000.000.000.- (satu milyar rupiah);

5. Menyatakan sah dan berharga atas sita jaminan dokumen berupa:

• 1 (satu) set BPKB Mobil TOYOTA HILUX DS 1704 KC a/n. YUBAO GAO
• 1 (satu) set BPKB Mitsubishi – Triton B 9701 PBC an. ALFIN;
• 1 (satu) PPJB No. 703/SAD-MAP/PPJB/VIII/2008 an. ARWAN KOTY agar tidak disalahgunakan atau dioperalihkan oleh Penggugat konvensi/Tergugat Rekonvensi.

6. Menghukum Penggugat Konvensi/Tergugat Rekonvensi untuk membayar seluruh biaya yang ditimbulkan dalam perkara ini.

Untuk diketahui, Sengketa gugatan Wanprestasi antara Tommy Tuasin melawan Arwan Koty sebagai Tergugat, disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Tommy Tuasihan menggugat Arwan Koty dengan tuduhan bahwa Arwan Koty masih berhutang sebesar Rp500 juta dengan Surat Pernyataan Hutang (SPH) tertanggal 2 November 2017. Utang awal semula Rp1 miliar dengan diterbitkannya 2 buah Giro atas nama Tommy, masing-masing senilai Rp500 juta, namun baru 1 Giro yang sudah dicairkan oleh Tommy. Sisanya Pihak Arwan Koty yang tidak membolehkan Giro itu dicairkan hingga Giro kadaluarsa.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6
Penulis:

Baca Juga