Dihadapan Capaja dan Taruna AAU, Menag: Sikapi Keragaman Dengan Kearifan

Yogyakarta, Akuratnews.com - Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaifudin memberikan ceramah pembekalan kepada calon perwira remaja (Capaja) dan Taruna AAU di Gedung Sabang Merauke Akademi Angkatan Udara, Senin (10/7). yang dihadiri oleh Gubernur AAU Marsda TNI Iman Sudrajat, pejabat teras AAU, Dosen AAU Gol IV serta segenap pengasuh AAU.

Menteri Agama menyampaikan, bahwa sebagai Aparat Negara dalam hal ini sebagai calon perwira TNI maka sudah seharusnya para Capaja dan Taruna memiliki tanggungjawab yang mulia dalam mempertahankan kedaulatan negara.

"Kepercayaan dari masyarakat, negara dan karunia Tuhan merupakan suatu kebanggaan sehingga para Capaja dan Taruna harus mensyukuri kehormatan dan kebanggaan  karunia dari Tuhan YME," ungkap Lukman.

Ia juga mengamanatkan untuk senantiasa menjaga dan merawat amanah yang ada, melalui implementasi dalam penugasan dengan menerapkan kode etik dan mentaati peraturan atau Undang-undang yang berlaku.

"Kembangkan terus   kepercayaan dan kehormatan ini, sehingga selalu mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman," katanya.

Lukman menambahkan, sebagai bangsa yg religius kita selalu menerapkan kehidupan beragama yang sangat kuat. Dalam konteks tersebut ada pola dimana negara mengesahkan kehidupan agama dalam masyarakat, serta mengatur secara resmi pelaksanaannya.

"Ada pula pola negara sekuler yg memisahkan negara dengan kehidupan beragama. Itulah sebabnya melalui Pancasila Bung Karno menggali materi yang memuat nilai-nilai agama dalam kondisi kebhinekaan Indonesia yang luar biasa, supaya kita bisa bersinergi membangun negara di tengah keberagaman tersebut," imbuhnya.

Untuk itu, lanjut Lukman, perlu adanya pemahaman terhadap adanya keragaman tersebut sebagai sarana menyempurnakan keterbatasan kita semua. "Sikapi keragaman dengan kearifan, baik dalam agama yang sama maupun dengan agama yang lainnya".

"Kita harus rendah hati dalam memahami perbedaan dan itu merupakan sisi luar agama. Kemudian sisi dalam agama maka semua agama bicara tentang bagaimana kebaikan yang universal dan menjunjung tinggi sisi martabat kemanusiaan, keadilan," ujarnya.

Ia mempertegas bahwa, munculnya konflik agama terjadi karena adanya kepentingan tertentu, keterbatasan wawasan, hubungan yang personal dengan Tuhan, sehingga kadang merasa benar sendiri dan menafikan pihak lainnya dengan perspektif yang tidak sama.

"Maka sudah seharusnya kita semua harus menebarkan kebajikan dan berlomba lomba dalam kebaikan," tegasnya. (Yandi/Dispenau)

Penulis:

Baca Juga