Digaji Rp100 Juta per Bulan

Dikritik Bergaji Besar Tapi Tak Paham Esensi Pancasila, Begini Respon BPIP

Anggota BPIP. (foto istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - Imam Besar Nasional Front Pembela Islam (FPI) mengkritik keras anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang dianggap bergaji besar, namun tak paham esensi pancasila. Pernyataan keras itu dilontarkan Habib Rizieq via video di Milad ke-21 FPI.

"Lebih parahnya lagi rezim yang tidak paham hakikat Pancasila ini telah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang disingkat BPIP. Dengan anggota yang juga tidak paham esensi Pancasila tapi digaji lebih dari Rp 100 juta rupiah per bulan tiap anggotanya hanya untuk menonton dagelan pengkhianatan pergeseran Pancasila dari dasar negara menjadi pilar negara," kata Habib Rizieq.

Merespon kritikan Habib Rizieq, BPIP menilai, gajinya merupakan kewenangan pemerintah.  Menurut dia, yang membentuk keputusan Perpres termasuk hak keuangan itu bukan BPIP, tapi pemerintah, dalam hal ini Presiden yang tanda tangan, yang menangani itu kan Bappenas, Kementerian Keuangan dan Setneg.

"Dengan pertimbangan-pertimbangan itu. Jadi kami tidak punya kewenangan untuk mengomentari itu. Karena yang membentuk peraturan kan bukan kami," kata Plt Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono seperti dikutip situs nasional, Sabtu (24/8/2019).

Dia menjelaskan, soal kerja BPIP, saat ini sedang berkoordinasi dengan Kemendikbud dan Kemenristekdikti guna membahas soal pendidikan pancasila.

"Sudah ada kan sesuai dengan yang di Perpres itu. Cuma ini kan kita sudah hampir dekade pengaruh soal pancasila ini kan hilang dari ruang publik. Kita harus menata ulang kembali, bagaimana materi pelajaran mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi kami bahas bersama." kilah Haryono.

Menurutnya, untuk kembali menanamkan pendidikan pancasila, harus melibatkan banyak pihak, terutama kalangan teman-teman dari Kemendikbud dan Kemenristekdikti. "Ini sedang dikerjakan, jadi bagaimana pelajaran pancasila mulai PAUD sampai perguruan tinggi itu dijalankan," tandasnya.*

Penulis: Hugeng Widodo
Editor:Ahmad Ahyar

Baca Juga