Agen Intelijen dan Broker Politik

Direkrut Rusia Dipenjara Amerika, Begini Jejak Spionase Mariia Butina

Agen Spionase Rusia, Mariia Butina. (foto Net).

Akuratnews.com - Menjadi agen spionase Rusia, Mariia Butina menjadi terkenal setelah memanaskan hubungan politik antara Rusia dan Amerika, Mariia Butina juga dituduh sebagai salah satu agen yang turut memenangkan Donald Trump dalam pemilihan Presiden beberapa waktu lalu. Bagaimana kisah sepak terjang Mariia Butina ini?

Melansir Nytimes yang dikutip situs nasional, diberitakan, seorang perempuan muda Rusia bernama Mariia Butina yang pernah berupaya memediasi pertemuan rahasia Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama masa kampanye pilpres 2016, memulai proses investigasi dan penyidikan oleh pengadilan AS. Butina didakwa dan dituduh telah bekerja sama dengan orang-orang Amerika dalam satu misi rahasia Rusia untuk mempengaruhi kebijakan politik AS. April lalu, pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman 18 bulan penjara terhadap dirinya dikurangi masa tahanan.

Bagaimana perjalanan Mariia Butina, seorang perempuan biasa yang baru lulus kuliah bisa terseret ke dalam kasus yang sempat membuat hubungan Washington-Moskow memanas, termasuk menyeret nama Presiden AS, Donald Trump, yang diduga menang pilpres 2016 atas dukungan agen asing. Berikut penelusuran wartawan The New York Times.

Membangun Koneksi dan Jaringan

Atas perintah seorang pejabat senior Rusia, Mariia Butina membangun koneksi dan networking di AS melalui Asosiasi Senjata Api Nasional (NRA), termasuk organisasi-organisasi keagamaan. Ia juga aktif menghadiri acara tahunan National Prayer Breakfast dalam rangka upaya mempengaruhi arah kebijakan-kebijakan Partai Republik agar lebih pro-Rusia. Demikian menurut dokumen catatan pengadilan.

Secara pribadi, Butina melihat dirinya seperti seorang propagandis Uni Soviet di era Perang Dingin yang bekerja menginfiltrasi organisasi-organisasi non pemerintah di Amerika, dan membangun jalur komunikasi lewat “pintu belakang” dengan para politisi Amerika. Seorang agen FBI menulis dalam sejumlah dokumen pengadilan, “Jalur-jalur komunikasi ini bisa diakses dan digunakan Federasi Rusia untuk melakukan penetrasi ke lingkungan pejabat pembuat kebijakan nasional AS supaya mendukung agenda Rusia.”

Berkas dakwaan Butina telah diajukan dan masih tersegel pada hari Sabtu (14/07), sehari setelah 12 perwira intelijen Rusia didakwa atas tuduhan meretas komputer Partai Demokrat selama masa kampanye 2016. Butina, wanita 29 tahun ini ditangkap pada hari Ahad dan muncul di pengadilan pada hari Senin. Berbagai dokumen catatan pengadilan dibuka beberapa jam setelah Trump bertemu Putin di Helsinki, dan setelah Trump mengatakan bahwa ia melihat tidak ada alasan bagi pemimpin Rusia untuk mencoba mempengaruhi hasil pilpres di Amerika.

Pernyataan Kontradiktif Trump

Fakta menarik bahwa para komandan atau agent-handler intelijen pribadi Trump menyimpulkan sebaliknya, dan dua paket dakwaan pengadilan menjadi “bukti penjelas” latar belakang KTT Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sementara Presiden Trump cenderung meremehkan hasil temuan selama proses penyidikan dan penyelidikan, Departemen Kehakiman justru membuktikan adanya berbagai upaya yang dilakukan Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilu Amerika melalui spionase komputer, seks, dan bantuan mediasi orang-orang Amerika sendiri.

Hingga hari Senin (16/07) saat sidang kasus Butina digelar, Presiden Donald Trump masih menyatakan ragu ada campur tangan Rusia dalam pilpres 2016 di Amerika. Padahal, komunitas intelijen termasuk 7 organisasi telik sandi Amerika lainnya jelas-jelas menyalahkan Rusia yang dituding telah mengintervensi pemilu 2016. Demikian juga ketika Putin menyangkal terlibat dalam berbagai aktifitas semacam itu, dokumen-dokumen pengadilan menunjukkan sebaliknya. Butina memberitahukan kepada rekan-rekannya bahwa berbagai aktifitas rahasianya itu disetujui oleh administrasi atau pemerintahan Putin.

Agen Intelijen dan Broker Politik

Butina, pemilik nama depan yang lebih sering ditulis dengan ejaan Maria (Rusia: Mariia), pernah dua kali terlibat dalam upaya gagal yang mengatur pertemuan antara Trump dengan Putin pada tahun 2016. Dakwaan yang diumumkan pada hari Senin itu tidak menyebut nama Trump, tetapi jelas bahwa berbagai “tawaran pribadi” Butina itu menunjukkan bagian dari operasi intelijen Rusia yang dilakukan secara hati-hati.

Mariia Butina merupakan orang ke-26 Rusia, dan orang pertama yang ditangkap, untuk menghadapi dakwaan terkait dugaan intervensi Kremlin terhadap pemilu presiden AS. Pada bulan Februari, Departemen Kehakiman mendakwa 13 orang berkewarganegaraan Rusia dan 3 perusahaan dengan tuduhan mencuri identitas warga AS, menyamar sebagai aktifis politik, dan menggunakan celah imigrasi, agama, dan ras untuk memanipulasi kampanye pemilu 2016.

Robert N. Driscoll, pengacara Butina dalam satu pernyataan resmi mengatakan, “Maria Butina bukanlah seorang agen Federasi Rusia.” Ia (Driscoll) menggambarkan dakwaan itu sebagai sesuatu yang dibesar-besarkan. Driscoll berdalih bahwa mengatur acara makan malam dan menjalin pertemanan yang dilakukan oleh kliennya itu telah dianggap sebagai kejahatan. “Jadi jelas tidak ada indikasi bahwa saudari Butina ingin mempengaruhi atau merendahkan suatu kebijakan atau hukum tertentu,” katanya menambahkan.

Menurut seorang mantan pejabat, surat dakwaan terhadap Butina diajukan oleh para jaksa keamanan nasional di bawah Departemen Kehakiman AS. Sidang kasus Butina ini sempat dilakukan hingga beberapa kali, bersamaan dengan investigasi yang dilakukan oleh lembaga konsul khusus, Robert S. Muller III. Pengacara Mariia Butina mengatakan bahwa FBI akhirnya meringkus kliennya itu pada bulan April saat berada di rumahnya.

Visa Pelajar

Butina masuk ke negara AS menggunakan visa pelajar pada tahun 2016, tetapi menurut jaksa penuntut bahwa sebenarnya Butina direncanakan sudah melakukan misinya itu pada tahun 2013. Saat itu, politisi seperti mantan gubernur Jeb Bush dan senator Marco Rubio, keduanya dari Florida, memberikan isyarat mereka tidak berminat menjadi sekutu bagi kepentingan Rusia. Sehingga keduanya terlihat seolah mereka adalah kandidat capres terkuat Partai Republik. Yang jelas bahwa catatan pengadilan menggambarkan ada upaya mengubah cara pandang partai terhadap Rusia.

Ketika upaya pencapresan Donald Trump yang tidak biasa itu tiba-tiba terlihat menguat, pemerintah Rusia datang mendukung Trump untuk mengalahkan Hillary Clinton. Akhirnya Rusia pun mendukung Trump untuk maju dalam pilpres AS. Demikian keterangan para jaksa dan pejabat-pejabat intelijen.

Atas Perintah Thorsin

Departemen Kehakiman AS mengatakan, Butina bekerja atas perintah seorang pejabat tinggi pemerintah Rusia yang identitasnya tidak diketahui. Sebelumnya, identitas pejabat tinggi Rusia itu diduga adalah Alexander Torshin, wakil gubernur Bank Sentral Rusia yang juga terkait dengan dinas intelijen Rusia, dan juga terkait dengan berbagai aktifitas kejahatan terorganisir. Torshin termasuk di antara lebih dari 20 orang Rusia yang mendapatkan sanksi tahun ini atas “kejahatan” mereka, termasuk melakukan upaya menumbangkan demokrasi Barat.

Alexander Torshin termasuk di antara tokoh penting di tubuh partai politik pimpinan Putin, yaitu Rusia Serikat. Ia pernah bicara berapi-api mengenahi Trump. Torshin menggambarkan Trump sebagai seorang “pendukung nilai-nilai keluarga tradisional” dan “pria sejati” yang “benar-benar siap bekerja sama dengan Rusia.”

Menurut data catatan pengadilan, Butina melihat NRA (Asosiasi Senjata Api Nasional) sebagai faktor yang kuat untuk mengubah kebijakan Partai Republik. Butina mendiskripsikan organisasi itu sebagai sponsor terbesar bagi pemilu Kongres AS, termasuk sponsor Konferensi Aksi Politik Konservatif. Dalam catatan terbaru di pengadilan, nama NRA memang tidak disebut secara eksplisit, namun dalam laporan sebelumnya NRA terkait dengan Butina dan Torshin. Dan hingga saat ini NRA belum merespon permintaan komentar.

Di bulan Mei 2016, Torshin dan Butina mengusulkan pertemuan Trump dengan Putin dalam sebuah event konvensi asosiasi senjata api NRA di Louisville. Oleh menantu Trump yang bernama Ky. Jared Kushner, proposal pertemuan tersebut ditolak. Namun putra tertua Trump, Donald Trump Jr., sempat bertemu dengan Torshin dan Butina dalam sebuah acara makan malam di konvensi NRA, meskipun (akhirnya) pengacara Trump menghentikan pertemuan singkat tersebut. Menurut sejumlah pihak, para investigator Kongres berhasil mendapatkan foto mereka tengah berada di acara itu.

Dukungan Intel Warga Negara Amerika

Jaksa mengatakan, seorang intel-politik warga Amerika membantu Butina dalam mengidentifikasi pejabat-pejabat politik, media, dan tokoh-tokoh bisnis yang akan dijadikan target. Butina menemui kolega intel Amerika-nya itu di Moskow. Mengutip dari email, para jaksa membeberkan bukti paling eksplisit bahwa orang-orang Amerika secara sadar membantu pengaruh Rusia. Dalam satu email, orang Amerika itu mengatakan telah memberikan sebuah peta kepada Butina tentang bagaimana cara melakukan pekerjaannya. “Saya dan kawan-kawan anda di Amerika tidak bisa memberikan yang lebih mudah dari ini,” tulis agen politik tersebut.

Butina dan Torshin pernah menghadiri sejumlah agenda acara yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok afiliasi Partai Republik, di antaranya: dua kali NPB (National Prayer Breakfasts) tahun 2016 dan 2017. Dalam satu email, Butina menulis, “Pak Torshin menyarankan Presiden Putin untuk hadir dalam acara NPB pada bulan Februari 2017, di mana Trump akan hadir memberikan pidatonya.” Dan, “Presiden Putin tidak mengatakan ‘jangan’!” tulis Butina dalam emailnya.

Meskipun intel Amerika itu tidak teridentifikasi namanya, namun koran The New York Time sebelumnya pernah memberitakan bahwa Butina menjalin hubungan erat dengan Paul Erickson. Erickson adalah anggota asosiasi senjata api NRA, dan juga seorang aktifis yang sudah lama menjadi bagian dari upaya mendorong dan mengatur pertemuan Putin dengan Donald Trump. Bahkan Butina secara terus terang mengatakan pernah menjamu Erickson di Moskow. Sementara itu, Erickson sendiri dan pengacarnya belum memberikan respon apapun atas permintaan komentar. Sejauh ini, nama Erickson belum disebut dalam dokumen pengadilan, dan juga belum dinyatakan sebagai terdakwa.

Masih menurut jaksa, bahwa Butina juga bekerja sama dengan seorang Amerika lainnya yang identitasnya belum diketahui. Pasca pilpres pada bulan November 2016, Butina mengirim pesan kepada Torshin via Twitter, “Saya siap melaksanakan perintah selanjutnya.” Demikian keterangan jaksa menambahkan. (*)

Penulis:

Baca Juga