Dirjen PAS Pastikan Tak Ada Napi Teroris Yang Kabur

Dirjen PAS saat Konferensi Pers di Kantor Ditjen PAS, Jl. Veteran, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com

Jakarta, Akuratnews.com - Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Sri Puguh Budi Utami mengatakan, dari 1.425 narapidana yang melarikan diri saat terjadi gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, tidak ada satu pun yang merupakan narapidana (napi) tindak pidana terorisme (tipidter).

Ia menuturkan, sebelum terjadinya bencana gempa dan tsunami, lima napi tipidter telah dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah.

"Kebetulan sebelum ada kejadian, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) dengan Kepala Lapas (Kalapas) Palu telah mengirimkan mereka yang kasus teroris lima orang itu dikirim ke Nusakambangan," ujar Utami di Kantor Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), Jl. Veteran, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).

"(Narapidana tipidter) dipindah karena untuk pembinaan dan termasuk high risk. Maka ditaruh di Lapas Nusakambangan,"sambung dia.

Diketahui sebelumnya, gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah juga berdampak terhadap unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen PAS. Sehingga menyebabkan kaburnya warga binaan di beberapa lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) yang ada di sana.

"UPT yang terdampak gempa adalah Lapas Palu, Rutan Palu, Rutan Donggala, Cabang Rutan Parigi, Rutan Poso, Bapas Palu, LPKA Palu, LPP Palu," tukasnya.

Dijelaskan Utami, dari total 3.220 napi yang ada di Sulawesi Tengah, data sementara menunjukkan hanya 1.795 narapidana yang berada di dalam UPT. Sedangkan 1.425 sisanya kabur. Menurut dia, data akan terus berubah seiring masuknya informasi lebih lanjut.

"Kami masih menunggu informasi dari Donggala karena di sana belum ada narapidana yang kembali dan masih kosong," jelasnya.

Rutan Donggala, kata dia, memiliki kapasitas 108 orang dan diisi 343 narapidana pada saat sebelum kejadian. Hingga hari ini, berdasarkan data yang didapatkan oleh Utami, rutan tersebut kosong dan ia belum mendapatkan informasi ada berapa narapidana yang kembali.

Sementara itu, untuk Lapas Palu yang berkapasitas 210 orang diisi oleh 581 orang saat sebelum terjadinya gempa. Pagi hari ini, hanya tersisa 66 narapidana yang ada di dalam lapas tersebut.

Sedangkan Rutan Palu, dengan kapasitas semestinya 120 orang, diisi oleh 463 orang. Pagi ini, terdata hanya tersisa 53 orang narapidana di dalamnya.

"Kemarin (Minggu) saya hitung 56. Itu tidak kabur. Ada keluarga yang meninggal, sehingga mereka melihat keluarganya," terang Utami.

Utami meneruskan, untuk LPP dengan kapasitas sebenarnya100 orang, diisi oleh 84 narapidana dengan tiga balita. Untuk hari ini, disebutkan tersisa sembilan orang narapidana. Kemudian untuk LPKA, dengan kapasitas 100 orang, diisi oleh 29 anak dan pagi ini hanya tersisa lima orang anak.

"Jadi sekali lagi, yang di Lapas Palu, LPP, dan ada anaknya (LPKA) tiga lapas jadi satu di situ sebelum lapasnya jadi dibangun," tandas Utami. (Rhm).

Penulis:

Baca Juga