Disurati Pemerintah Berkali-kali Masih Ngeyel, Perusahaan Tambang Ini Akhirnya Ditutup!

Ilustrasi penambangan batubara
Ilustrasi penambangan batubara

AKURATNEWS - Sebuah perusahaan tambang di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, ditengarai mengabaikan surat resmi yang telah dilayangkan pemerintah.

Bahkan bukan pemerintah daerah, melainkan pemerintah pusat. Dalam hal ini adalah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) sebagai institusi pemerintah yang menangani masalah pertambangan.

Hal ini jelas mengundang perbincangan banyak pihak. Pasalnya, lewat surat dari Kementerian ESDM c.q Dirjen Minerba, tertanggal 14 Maret 2022, telah menjatuhkan sanksi administratif peringatan ketiga. Yang berarti sebelumnya juga sudah dilayangkan peringatan serupa.

Tapi PT GST, seperti yang dikatakan warga Seruyan, seolah tak bergeming. Mereka tetap melakukan operasinya

Hingga kemudian, datanglah surat keputusan (SK) Pemerintah RI bernomor 20220405-01-59757 tentang pencabutan ijin a.n PT GST di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Dengan adanya SK tersebut, seperti yang juga dicantumkan dalam SK tadi, maka SK No 08 Tahun 2012 tentang Perpanjangan Pertambangan Operasi Produksi a.n PT GST dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Perusahaan ini, diketahui milik seorang pengusaha WNA Singapura; Desmond Goh Khian Leong. Saat ditanya wartawan, Goh menyatakan bahwa pihaknya akan mengurus segala kekurangan administrasi yang diperlukan.

Menanggapi hal tersebut, Charles, seorang pegiat lingkungan di Kalteng, mengaku sangat menyayangkan tindakan perusahaan, yang sampai disurati beberapa kali oleh pemerintah.

"Artinya, mereka benar-benar melakukan pelanggaran serius. Dan apa yang sudah dilakukan pemerintah menurut saya betul. Ini juga mengantisipasi agar tidak terjadi over eksploitasi yang berakibat pada kerusakan lingkungan," tutur Charles saat dikonfirmasi lewat sambungan telpon WhatsApp, Kamis,7 April 2022.

Sementara ketika hendak dimintai komentar lebih jauh, pihak manajemen PT GTS tak bisa ditemui.***

Penulis: Iwan Prast/Sams
Editor: Redaksi

Baca Juga