Ditengah Terpaan Covid-19, Sektor Perekonomian Indonesia Memburuk

Namun demikian, langkah ini adalah yang paling tidak beresiko bagi banyak aspek, seperti menekan tingkat kematian akibat Covid-19, hingga memberikan relaksasi beban bagi medis yang sudah terlalu berat, hingga meringankan efek kejut krisis perekonomian. Oleh karena itu, saat ini konsep tersebut juga mulai diupayakan di Indonesia.

Di sisi lain, progres tengah dilakukan beberapa perusahaan dan lembaga riset untuk menciptakan vaksin Covid-19. Produsen tersebut antara lain Moderna Inc., Johnson & Johnson serta Vaxart Inc. dari Amerika Serikat, BioNTech SE dari Jerman yang menggandeng Shanghai Fosun Pharmaceutical Group, hingga CanSino Biolgics dari Tiongkok.

Namun menurut Direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease NIH, Anthony S. Fauci, vaksin tersebut mustahil tersedia di pasar dalam kurun waktu 12 sampai 18 bulan ke depan. Hal ini seperti berbanding lurus dengan upaya meratakan kurva negara-negara di dunia saat ini. Selain itu, apabila vaksin sudah tersedia pun, dengan memburuknya kondisi ekonomi berbagai negara, kemampuan suatu negara tersebut untuk dapat menyediakan vaksin tersebut menjadi tanda tanya tersendiri.

Jika kita telah sampai pada titik ini, dapat dilihat bahwa ada kecenderungan pandemi ini masih akan berlangsung lama. Dan di saat yang sama, perekonomi negara-negara di dunia, besar kemungkinan semakin “kehausan” dan membutuhkan pemecahan masalah yang hampir serupa, yaitu kebutuhan akan “kucuran” pendanaan. Ketika kondisi tersebut terjadi, IMF-Bank Dunia dapat dipastikan menjadi salah satu lembaga internasional yang paling diandalkan dan akan mendapatkan klien serta aliran dana yang masif.

Dengan analisa sebelumnya mengenai sosok Sri Mulyani, yang kemudian dikaitkan dengan estimasi logis periode pandemi serta eksistensi vaksin Covid-19, bukan sebuah kebetulan ketika rekomendasi kebijakan di bidang keuangan Indonesia yang tidak populis namun tetap dikeluarkan selama Covid-19 ini disinyalir mengerucut pada semakin berkurangnya kemampuan perekonomian negara untuk bertahan. Dan pada akhirnya, kesegaran instan berupa paket pendanaan IMF bukan lagi menjadi pilihan, namun sebuah keniscayaan. Bagaimanapun, hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Redaksi

Baca Juga