Meragukan Keganasan Covid-19

Dokter Surya Mendukung Jerinx SID yang Ingin Disuntik Virus Corona

Dokter Surya
Dokter Surya

Dari 3.427.343 orang di dunia yang terinfeksi virus Corona (COVID-19) pada 3 Mei 2020, tercatat 243.808 orang meninggal oleh keganasan virus ini.

Medan, Akuratnews.com - Ketika virus Corona (COVID-19) telah menyerang lebih dari 200 negara di dunia dan berdampak besar terhadap seluruh sendi kehidupan umat manusia di muka bumi ini, seorang dokter hewan asal kota Medan, Sumatera Utara, justru meragukan keganasan virus Corona.

Adalah Dokter Surya Jaya Junjungan. Dokter hewan ini meragukan keganasan virus Corona yang telah memakan banyak korban jiwa tersebut. Dokter yang pernah menangani kasus flu burung ini menjelaskan empat hal terkait keberadaan virus Corona ini.

"Pertama virus ini adalah virus lemah. Alasannya kenapa? Ini kan virus menyerang kebanyakan orang usia tua dan punya penyakit kompleks. Sebenarnya kalau virus mematikan itu tidak mengenal usia. Sebagai contoh virus pada Hepatitis, Demam Berdarah, HIV. Kalau penyankit ini datang, mau tua mau muda ya kena. Jadi secara empiris di lapangan membuktikan kalau virus ini lemah. Kalau orang gunakan dalil imunitas, tentunya tak hanya usia tua yang kena." ujar Dokter Surya Jaya Junjungan, Minggu (3/5/2020).

Lemahnya virus ini dikatakan Dokter Surya juga karena secara struktur mudah rusak.

"Virus ini mudah rusak karena dibungkus oleh protein dengan panas matahari, alkohol dan sabun detergen bisa rusak." jelasnya lagi.

Hal ketiga yang membuat keraguannya makin kuat terhadap keganasan virus Corona yakni ada beberapa kepala negara di sejumlah negara Eropa yang membiarkan rakyatnya terpapar.

"Ada Wali Kota di Jerman yang mau dirinya terpapar oleh virus ini. Belanda dan Inggris pada awalnya membiarkan rakyatnya terpapar. Kalau virus ini mematikan, sudah pasti orang tidak mau terpapar. Terpapar dalam hal ini artinya terinfeksi. PM Belanda mengatakan biar rakyat saya terpapar agar kebal. Wali Kota di Jerman mau terpapar supaya kebal. Artinya secara di lapangan virus ini lemah. Saya sendiri kalau dipaparkan dengan virus  Rabies. Hepatitis, Demam Berdarah, saya ngga mau, karena virus tersebut mematikan." terangnya.

Keempat, virus itu kata Dokter Surya sebenarnya tidak ada obatnya.

"Jadi salah satu penanggulanngannya yang efektif adalah vaksinasi atau pada manusia disebut imunisasi. Kenyataannya, tanpa ditemukan vaksinnya orang banyak sembuh. Artinya orang diobati berdasarkan gejala bukan penyebab. Misalnya kita demam dikasih obat demam, flu dikasih obat flu. Sampai hari ini vaksinnya belum ada, yang sembuh udah banyak sekali. Ini membuktikan virus ini lemah." imbuhnya.

Dokter Surya juga meragukan bahwa virus ini sebenarnya belum pernah diteliti oleh orang Indonesia.

"Artinya orang Indonesia nggak pernah lihat virus ini. Secara penelitian mereka belum pernah lihat, secara infeksi juga belum pernah lihat. Nah PCR (Polymerase Chain Reaction-red) itu juga pemeriksaannya melalui proses reaksi engimatic. Jadi sebenarnya sampai awal sampai akhir belum pernah ada yang lihat." pungkasnya.

Semua yang bersifat kedokteran menurutnya harus diuji dengan eksperimental lab atau penelitian di laboratorium.

"Jadi jangan bilang di Indonesia ini sudah diteliti. Ini cerita ke cerita semua. Karena dari agen penyakitnya itu kita dapat dari luar. Bahkan kita temukan virusnya di dalam PCR, itu primernya dari luar semua." paparnya lagi.

Sementara itu terkait penamaan Covid-19, dokter Surya mengatakan jika penamaan tersebut juga diragukannya.

"Inikan namanya covid 19 artinya corona virus disease 19: penyakit virus corona 2019. Sementara menurut orang luar penyebabnya sarkov penyebab SARS yang bermutasi kenapa namanya tidak SARS 2 aja seolah ini membuat payung pembenaran penyebabnya virus corona secara umum. Apa ini ada kaitannya dengan kejadian penyakit ini lemah, ada dimana-mana dengan dalih penyebaran cepat, harus dikubur maksimal 4 jam dengan dalih menghindari penyebaran tanpa ada patologi autopsi untuk menentukan penyebab utama kematian." ulasnya.

Dia juga mempertanyakan apakah Indonesia sendiri sudah punya peneliannya yang memastikan sarkov 2 alias covid 19 ini zoonosis. "Setahu saya yang ada hanya study dari penelitian orang luar." demikian ujar dokter lulusan IPB ini.

Tidak Menyalahkan Tantangan Jerinx SID

Karena meragukan keganasan virus Corona, dokter Surya juga tak menampik jika dirinya ingin mengikuti langkah drummer band SID, Jerinx yang baru-baru ini heboh ingin disuntik dan berinteraksi langsung dengan pasien positif Corona.

"Saya tidak menyalahkan Jerinx SID mengatakan seperti itu. Saya malah dukung dia. Saya mengerti dia bukan melawan pemerintah. Dia hanya protes pada keadaan ini. Jadi jangan dibilang Jerinx melawan pemerintah. Dia ngak marah-marahin orang kok. Dia hanya bermaksud hanya mengatakan jika ini ngga benar."

Terakhir dokter Surya kembali mengatakan soal keraguannya terhadap keganasan virus Corona ini.

"Sampai saat ini saya ragu kalau ini Covid-19. Saya baru sampaikan soal keraguan ini di chanel Youtube saya yang berjudul ""Covid 19 Diragukan" . Ke masyarakat saya sampaikan, jangan takut. Dokter yang menyebut jika ini covid sebenarnya mereka berhipotesa. Untuk membuktikan itu covid, seharusnya mereka buktikan dengan eksperimental lab atau penelitian laboratorium. Kalau mereka mengatakan ini covid, paling tidak pernah melihat bentuk dari virusnya, menguji dan tahu urutan DNA nya." pungkasnya.

Penulis: Alamsyah

Baca Juga