Dokter yang Beri Peringatan Dini Soal Coronavirus Meninggal Dunia

Jakarta, Akuratnews.com - Li Wenliang (34), yang menjadi salah satu dokter di China, yang mencoba memberikan peringatan dini soal coronavirus jenis baru meninggal pada Jumat (7/2) akibat virus tersebut.

Li merupakan dokter spesialis mata di sebuah rumah sakit di Wuhan, kota yang menjadi tempat pertama coronavirus terdeteksi pada akhir 2019. Pada Januari, dia dan tujuh orang lainnya ditegur oleh polisi Wuhan karena dituduh menyebarkan informasi ilegal dan palsu soal penyebaran coronavirus jenis baru.

Dia tertular coronavirus dari seorang pasiennya dan telah dirawat di rumah sakit sejak akhir Januari. People's Daily melaporkan, Li meninggal pada Jumat pukul 02.58 waktu setempat.

Netizen China menggambarkan Li sebagai pahlawan. Mereka mengecam ketidakmampuan pihak berwenang setempat untuk menangani wabah coronavirus pada masa awal penyebarannya.

Pada Jumat, total angka kematian global akibat coronavirus menyentuh 638. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan virus itu telah menginfeksi 31.161 orang. Coronavirus menyebabkan infeksi pernapasan parah dan gejala biasanya dimulai dengan demam, diikuti oleh batuk kering.

Presiden China Xi Jinping berusaha meyakinkan warganya dan dunia bahwa Tiongkok akan mengalahkan coronavirus.

"China telah menanggapi coronavirus dengan segala kekuatannya dengan langkah-langkah pencegahan dan kontrol yang sangat teliti dan ketat," jelas Xi dalam pembicaraan via telepon dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, masih terlalu cepat untuk mengatakan bahwa wabah coronavirus telah mencapai titik paling parah. Namun, seorang pejabat China meyakini bahwa krisis tersebut telah melewati titik kritis dan kondisi akan segera membaik.

"Saya memiliki keyakinan penuh bahwa kita dapat mengatasinya," kata pejabat itu. "Tantangan terbesar adalah upaya pengendalian penyebaran wabah dan merawat seluruh pasien hingga pulih."

Pemerintah China menerapkan langkah-langkah lebih ketat untuk mencoba mengendalikan penyebaran coronavirus jenis baru. Kota Hangzhou dan Nanchang menerapkan pembatasan bagi anggota keluarga per rumah tangga yang dapat meninggalkan rumah setiap harinya.

Sementara itu, Wuhan dilaporkan kewalahan menangani pasien terinfeksi coronavirus. Meskipun dua rumah sakit dengan kapasitas masing-masing 1.000 dan 1.600 tempat tidur telah dibangun dalam hitungan hari, jumlah pasien yang terus bertambah menimbulkan kekhawatiran akan kekurangan tempat tidur.

Coronavirus, yang disebut 2019-nCoV, telah merebak ke lebih dari 20 negara termasuk Amerika Serikat, Thailand, Vietnam, Malaysia, Nepal, hingga sejumlah negara Eropa.

Singapura, yang sejauh ini mencatat 30 kasus coronavirus, mengatakan pada Jumat bahwa mereka merencanakan evakuasi kedua untuk memulangkan warganya yang berada di Wuhan.

"Kementerian Luar Negeri Singapura terus melakukan diskusi dengan otoritas China terkait rencana kami memulangkan warga Singapura," jelas pernyataan Kemlu Singapura.

Pada 31 Januari, negara itu mengevakuasi 92 warganya dari Wuhan.

Penulis: Redaksi

Baca Juga