Pasar Uang

Dolar Masih Melemah, Rupiah Menguat Tipis

Rupiah (LH/Akuratnews)
Rupiah (LH/Akuratnews)

Jakarta, Akuratnews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di perdagangan pasar spot awal pekan ini. Bahkan rupiah juga gagal mempertahankan status sebagai juara Asia.

Pada Senin (27/5/2019), US$ 1 dibanderol Rp 14.375 kala penutupan pasar spot. Rupiah menguat tipis 0,07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.Ini merupakan titik terkuatnya sejak 10 Mei.

Sebenarnya penguatan rupiah sempat cukup meyakinkan, nyaris mencapai 0,3%. Namun kemudian penguatan itu menipis, hingga akhirnya tinggal tersisa 0,07%.

Diawal perdagangan, rupiah berada di jalan yang benar untuk mempertahankan status sebagai raja Asia, gelar yang diperoleh sejak Kamis pekan lalu. Akan tetapi gelar tersebut lepas hari ini, beralih ke dolar Taiwan.

Dolar AS masih tertekan dalam perdagangan global. Indek Dolar AS terkoreksi 0,04%. Bahkan dalam sepekan, Indek melemah 0,36%. Sementara selama sebulan ke belakang, pelemahannya adalah 0,44%.

Dolar AS sedang menjalani fase konsolidasi. Maklum, penguatannya sudah begitu tajam beberapa waktu belakangan. Pekan lalu, Dollar Index sempat berada di level 98, terkuat sejak pekan keempat April.

Reli dolar AS tentu mengundang investor untuk melakukan profit taking. Pelaku pasar yang sudah mendapat cuan lumayan banyak tergoda untuk mencairkannya. Dolar AS pun terkena tekanan jual.

Selain itu, investor juga mencemaskan prospek perekonomian AS yang tidak terlampau cerah. Berlanjutnya perang dagang dengan China diprediksi memukul perekonomian AS sendiri.

Harga produk impor (termasuk bahan baku dan barang modal) asal China menjadi semakin mahal gara-gara bea masuk, sehingga menurunkan aktivitas investasi. AS pun akan kesulitan menjual produk ke China, khususnya produk pertanian, karena kenaikan bea masuk.

Dunia usaha pun mulai melihat prospek perekonomian ke depan agak gloomy. Perkiraan angka Purchasing Manager's Index (PMI) edisi Mei versi IHS Markit ada di 50,6%. Turun lumayan jauh dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 52,6 dan menjadi yang terendah sejak September 2009.

Tidak hanya dunia usaha, rumah tangga juga sepertinya menahan diri. Terlihat dari penjualan rumah baru yang pada April tercatat 673.000 unit. Turun 6,9% dibandingkan bulan sebelumnya.

Permasalahan di investasi dan konsumsi membuat prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Adidaya menjadi suram. Mengutip proyeksi terbaru tanggal 24 Mei, The Federal Reserve/The Fed memperkirakan ekonomi AS pada kuartal II-2019 hanya tumbuh 1,3% secara kuartalan yang disetahunkan (quarterly annualized). Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 3,2%.

Perlambatan investasi, konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi membuat pelaku pasar mulai berani bertaruh The Fed bakal menurunkan suku bunga acuan tahun ini. Penurunan Federal Funds Rate bisa ditempuh sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Mengutip CME Fedwatch, probabilitas suku bunga acuan tetap di 2,25-2,5% pada akhir 2019 hanya 23,1%. Sementara peluang untuk turun 25 basis poin ke 2-2,25% lebih tinggi yaitu 42%.

Kemungkinan penurunan suku bunga acuan yang semakin tinggi tentu menjadi sentimen negatif bagi dolar AS. Sebab, penurunan suku bunga acuan akan membuat berinvestasi di instrumen berbasis dolar AS menjadi kurang menarik. Akibatnya, arus modal meninggalkan AS, bertebaran ke segala penjuru, termasuk ke Indonesia.(HQM)

Penulis:

Baca Juga