Dolar Menguat, Jubir BPN Prabowo-Sandi: Indonesia Belum Krisis

Jakarta, Akuratnews.com - Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga S Uno, Handi Risza Idris mengatakan Indonesia belum bisa dikatakan menuju krisis ekonomi layaknya yang terjadi pada tahun 1998 silam.

"Ini (krisis ekonomi) banyak faktor juga yang mempengaruhi. Kalau hanya sebatas nilai tukar saja saya tidak yakin, walaupun ada indikasi mengarah kesana," ujarnya dalam diskusi publik
yang digelar Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) yang bertajuk 'Dolar Menguat, Apakah Indonesia Menuju Krisis?' di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/2018).

Menurut Handi, ada dua faktor yang mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia. Antara lain faktor eksternal berupa kebijakan-kebijakan negara besar yang banyak berhubungan dengan Indonesia. Selain itu, masalah kenaikan nilai tukar mata uang tidak terjadi secara tiba-tiba.

"Contoh Bank Central Amerika kalau mau menaikkan suku bunga pasti sudah diumumkan. Artinya tidak terjadi tiba-tiba, bisa diprediksi jauh-jauh hari sehingga bisa diantisipasi," tukasnya.

Selain itu, lanjut dia, juga terdapat beberapa faktor internal dimana adanya bauran kebijakan baik dari sisi Bank Central maupun pemerintah. "Ada hal-hal yang seharusnya bisa dikondisikan tapi belum maksimal," imbuhnya.

"Contohnya, ketika rupiah melemah harusnya ada keuntungan yang bisa kita ambil. Tapi itu tidak terjadi, memang terjadi peningkatan ekspor tapi peningkatan impor lebih tinggi sehingga terjadi defisit perdagangan yang kemudian melahirkan defisit neraca berjalan," tambah Handi.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini kemudian menjelaskan beberapa variabel yang mempengaruhi ekspor Indonesia tidak kuat hingga saat ini.

"Bisa saja ada kebijakan industri yang tidak berjalan baik, kualitas barang kita yang tidak bisa bersaing, kebijakan insentif yang tidak didapatkan pengusaha, kebijakan buruh dan tenaga kerja yang dianggap terlalu mahal sehingga para pengusaha tidak bisa bersaing," jelasnya.

Handi menegaskan, pemerintah harus mengidentifikasi variabel tersebut satu per satu, kemudian memperhatikan fundamental dan kebijakan yang mana harus diselesaikan permasalahannya dalam beberapa tahun ini.

"Jika tidak, siklus ini akan timbul terus-menerus, sehingga kita tidak akan mendapatkan apa-apa dan menyebabkan ekonomi ini semakin melemah" imbuhnya.

Di tempat yang sama, Direktur Indonesia Publik Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, indikator ekonomi selain nilai tukar mata uang bisa dibilang masih cukup baik dan inflasi masih terkendali dibandingkan dengan tahun 1998 lalu.

"Seandainya inflasi itu tinggi pasti problem, itu indikator buruk," tuturnya. (Rhm)

Penulis:

Baca Juga