Fundamental Ekonomi AS Bagus, Dolar Menguat Rupiah Merana

Rupiah
Rupiah

Jakarta, Akuratnews.com – Dolar Amerika Serikat menguat dalam perdagangan hari Rabu (27/11) atas sejumlah mata uang lainnya. Indek mata uang ini naik 0,04%, setelah pernyataan wakil gubernur Bank Sentral AS, Richard Clarida, menyatakan bahwa kondisi ekonomi AS masih terus ekspansif.

Lebih juah dikatakan olehnya bahwa agar tidak terjadi overheating, perlu dilakukan sejumlah pencegahan. Fundamental ekonomi dan pasar tenaga kerja sendiri memang masih kuat. Laju pertumbuhan akan tetap kuat setidaknya sampai tahun depan," kata Clarida.

Keyakinan pasar bertambah bahwa The Federal Reserve dalam pertemuan terakhir di tahun ini akan kembali menaikkan suku bunga acuan. Probabilitas akan kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin pada rapat 19 Desember adalah 79,2%. Naik dibandingkan seminggu lalu yaitu 72,3%.

Langkah Bank Sentral AS dalam menaikkan suku bunga, direspon negatif oleh Presiden AS Donald Trump. Secara terbuka lewat akun twitternya, Trump mengkritik kebijakan pengetatan ini. Cuitan yang terbaru, menyatakan penyesalannya mengajukan Jerome Powell sebagai Gubernur Bank Sentral AS. Menurutnya, langkah normalisasi yang dilakukan bank sentral dengan menaikkan suku bunga, dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi AS.

"Sejauh ini, saya bahkan sedikit pun tidak senang dengan pilihan saya terhadap Jay. Saya melakukan beberapa hal dan saya tidak didukung oleh The Fed. Mereka membuat kesalahan sebab saya memiliki nyali dan nyali saya kadang mengatakan lebih banyak dibandingkan otak orang lain," tegas Trump dalam wawancara dengan Washington Post.

Tahun depan, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga setidaknya tiga kali. Petunjuk yang lebih jelas ke arah sana akan dicari dalam notulensi rapat The Fed edisi November 2018 yang akan dirilis besok.

Oleh karena itu, pasar kembali memihak kepada dolar AS. Sebab dengan kenaikan suku bunga acuan, maka imbalan berinvestasi di AS akan ikut terkerek. Permintaan dolar AS menjadi membludak dan nilainya pun menguat.

Penguatan Dolar AS menjadi pukulan telak bagi Rupiah. Nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenbacks kembali melemah. Rupiah tidak mampu membendung keperkasaan dolar AS yang menguat secara global.  Pada Rabu (28/11/2018), US$ 1 dihargai Rp 14.511 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah tipis 0,01% dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin.

Dalam perdagangan sebelumnya, Rupiah telah tertekan dan mengakhiri perdagangan dengan terdepresiasi sebesar 0,28%. Rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia. Dengan pelemahan 0,17%, rupiah menjadi mata uang terlemah kedua di Asia. (LH)

Penulis:

Baca Juga