oleh

Dua Hari Evakuasi Bersama Penemu Black Box Pesawat Lion Air JT-610

Oleh: Yandi Permana

Senin 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air JT-610 rute penerbangan Jakarta-Pangkalpinang dikabarkan hilang kontak pada pukul 6.33 WIB. Perkembangan berita terus diikuti hingga ditemukannya tanda-tanda serpihan puing-puing pesawat di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Senin siang sekitar pukul 14.00 WIB, saya ditugaskan Pimpinan Redaksi untuk ke Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, tempat badan SAR Nasional (Basarnas) membuat Posko Pencarian.

Pukul 14.30 WIB saya tiba di JICT 2. “Mau kemana mas,” tanya sekuriti. “Mohon ijin, mau liputan pak,” jawab saya. “Silahkan parkir di sini saja,” lanjutnya. Saya pun mengikuti perkataan sekuriti tersebut.

Matikan motor, tanggalkan helm dan jaket, mulailah saya berjalan sekira 500 meter dari pintu masuk dan parkiran. Ternyata tenda-tenda posko sudah berdiri tegak. Di bibir pelabuhan tak jauh dari posko sudah puluhan wartawan tengah mengambil gambar puing-puing dan barang bawaan korban yang telah ditemukan beralaskan terpal putih.

Setelah ada pernyataan resmi dari Basarnas, sekira pukul 17.00 WIB, saya bersama 14 wartawan ikut melakukan peliputan evakuasi menggunakan kapal Customs BC 9006 milik Bea Cukai ke perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Dalam perjalanan menuju lokasi, kami sempat berpapasan dengan kapal bertuliskan KPLP menuju arah Jakarta. Ternyata diketahui kapal KPLP tersebut membawa jenazah dan serpihan pesawat Lion Air.

Sekira pukul 18.00 WIB, dari kejauhan tampak lampu-lampu dari kapal yang sedang lego jangkar, yang ternyata tujuan kita. “Mon ijin lempar tali,” teriak Anak buah kapal yang kami tumpangi. Tali pun dilempar, satu-persatu diikat ke kapal Basudewa milik Kantor SAR Jakarta yang dijadikan Posko utama pencarian pesawat nahas itu. Satu per satu barang bawaan seperti ransum (makanan siap saji) dari Kapal Bea Cukai dialihkan ke Kapal Basarnas.

Tak lama berselang, dua thugboat Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL membawa serpihan pesawat dan jenazah ke kapal Basudewa, yang mana sebelumnya sudah ada thugboat lain juga membawa serpihan pesawat dan jenazah.

Kemudian saya bersama 9 wartawan diarahkan pindah kapal untuk bermalam. Sedangkan beberapa wartawan lain yang tidak bermalam kembali ke JICT 2 bersama dengan temuan terakhir pencarian di hari pertama.

Sertu Marinir Hendra Syahputra (duduk belakang), Kopda Marinir Noor Ali (duduk depan kanan) dan salah satu anggota SAR penemu badan pesawat AirAsia QZ 8501 di perairan 97 mil dari Pangkalan Bun (duduk depan kiri). Foto: Yandi

Bau amis menyengat tercium dari geladak belakang kapal Basudewa tempat kami bermalam. Di geladak belakang terlihat berbagai benda yang berhasil dievakuasi seperti tas, laptop yang telah hancur, sepotong sepatu, pelampung yang tidak sempat terpakai oleh penumpang pesawat dan kantung jenazah.

Saat menuju ke geladak atas tempat bermalam, di lorong yang kami lewati tampak alat-alat selam telah digunakan untuk evakuasi dan beberapa anggota SAR beristirahat dengan raut wajah yang tampak kelelahan. Sesampainya di atas kami berbaur dengan para penyelam dari Basarnas dan Denjaka.

Pukul 20.30 WIB sebelum beristirahat untuk tidur, para penyelam dari Denjaka melakukan evaluasi pencarian di hari kedua yang diakhiri doa bersama.

Para penyelam tertidur menggunakan alas seadanya begitu pun dengan wartawan. Bahkan, sebagian penyelam ada yang menggunakan kantung jenazah untuk alas tidur mereka.

Tidur Beralas Kantong Jenazah

Briefing evaluasi pencarian untuk esok hari. Foto: Yandi

Sekira pukul 23.00 WIB, saya bersama Wiki dari Antara Foto turun menuju sandaran KRI Tenggiri 865 di sebelah kiri kapal kami. Komandan KRI Tenggiri Kapten Laut (P) Yohanes kepada kami, menuturkan, bahwa KRI Tenggiri adalah kapal pertama yang tiba di lokasi setelah menerima informasi dari masyarakat.

“Kami ikut evakuasi juga tadi siang,” tuturnya.

Selanjutnya kami berbincang dengan ABK KRI Tenggiri. Ia bercerita bahwa dirinya menemukan beberapa potongan tubuh korban dan puing-puing pesawat.

Usai berbincang dengan ABK, tak lama kapal cepat Basarnas tiba membawa bekal makanan.  pukul 01.00 WIB saya bersama wartawan Antara, Net TV dan Tempo meminta ijin kepada Kasi Ops Basarnas Jakarta, Oka untuk makan. Dan, beliau pun mengijinkan.

Malam semakin larut, angin dan ombak semakin besar. Pukul 01.30 WIB, kami beristirahat di geladak atas kapal. Sejam berselang hujan turun, kami pun berteduh tetapi tidak lama.

Hujan reda kami kembali ke tempat istirahat. Saya beristirahat beralaskan kantong jenazah. Udara semakin dingin membuat tubuh menggigil. Tetapi kami tidak bisa memejamkan mata lantaran  ombak semakin besar hingga terdengar benturan antara kapal Basudewa dengan KRI Tenggiri.

Menjelang pagi pukul 05.00 WIB, hujan turun lebat. Kemudian kami menuju kabin kemudi kapal untuk berteduh. Kondisi cuaca di luar hujan lebat disertai angin.

Hujan mulai reda pukul 06.00 WIB, persiapan sudah dilakukan untuk evakuasi di hari kedua. Para komandan dari beberapa satuan mengadakan briefing yang akan melaksanakan pencarian korban dan puing serta black box pesawat Lion Air JT-610.

Kami diikutsertakan dalam proses evakuasi dengan menggunakan thugboat. Sebanyak delapan thugboat diterjunkan, masing-masing dua dari Basarnas, Denjaka, Kopaska, dan Taifib Marinir. Saya bersama Iqbal, wartawan foto merdeka.com, ikut di thugboat Intai Amfibi (Taifib) TNI AL.

Selama 30 menit perjalanan menuju lokasi pencarian, kami sempat menemukan benda berwarna putih yang mengapung. “Itu bang sebelah sana,” Iqbal menunjuk salah satu benda terapung yang diduga puing pesawat. Tetapi setelah didekati ternyata hanya kaleng cat kosong dan botol mineral.

Setiba di titik lokasi, kami pun berputar-putar di atas permukaan laut mencari benda atau korban yang bisa dievakuasi. Dari kejauhan tampak KRI Rigel TNI AL tengah menyusuri di sekitar lokasi titik pencarian menggunakan sonar sejak kemarin. Juga ada KRI Banda Aceh tengah lego jangkal juga mengandalkan sonar bawah laut.

Saya meminta kepada salah satu prajurit untuk mendekat KRI Rigel supaya dapat mengambil foto. Namun permintaan itu ditolak. “Gak boleh dekat mas nanti bisa mengganggu sonar makanya kita menjaga jarak,” ujar salah satu prajurit Taifib menjawab permintaan saya.

Di lokasi pencarian cuaca cukup cerah tetapi tinggi ombak mencapai satu meter disertai angin kencang sehingga thugboat turun naik mengikuti gelombang ombak. Saat berhenti pun thugboat terombang ambing cukup keras yang membikin wartawan foto merdeka.com beberapa kali muntah.

Pandangan prajurit Taifib tidak lepas dari monitor sonar bawah air. Selama tiga jam melaksanakan pencarian di hari kedua saya mengikuti evakuasi, tidak menemukan tanda-tanda ada di permukaan maupun di bawah laut. Thugboat pun kembali ke posko di Kapal Basudewa atas perintah komandan.

Setiba di kapal, saya melihat telah banyak penemuan puing dan jasad korban. Bau amis tercium seperti semalam. Kapal-kapal bantuan berdatangan dan helikopter serta pesawat CN TNI AU, saya kurang tahu jenisnya, berputar-putar.

Menemukan Black Box

Penemuan barang dan korban pesawat Lion Air di geledak Kapal Basudewa. Foto Yandi

Yang menarik dalam proses evakuasi korban Lion Air JT-610, saya sempat berbincang-bincang dengan Sertu Marinir Hendra Syahputra dan Kopda Marinir Noor Ali, dua Prajurit Marinir dari kesatuan Intai Amfibi (Taifib) TNI AL yang berhasil menemukan dan mengangkat kotak hitam pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Siapa yang sangka, prajurit Taifib yang memiliki sesanti Maya Netra Yamadipati yang berarti “Senyap Mematikan” itu selalu rendah diri.

Di atas thugboat Taifib, Sertu Marinir Hendra Saputra dengan rendah hati mengaku telah beberapa kali melaksanakan tugas SAR baik di darat maupun di laut. Berbagai tugas pencarian pernah ia kerjakan di antaranya tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menewaskan 45 orang di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat pada 9 Mei 2012.

“Kita ini bukan yang paling top mas. Bagi kita, top itu kalau kita sudah menemukan tanda-tanda keberadaan pesawat lalu kita evakuasi, baru itu namanya top,” kata Hendra pada akuratnews.com, di atas thugboat.

Ia pun membandingkan evakuasi antara di laut dan di darat.

“Waktu pesawat Sukhoi di Gunung Salak juga saya ikut melakukan pencarian mas. Tapi itu kan darat, jadi lebih mudah. Kalau ini kan (Lion Air JT-610) susah juga di lautan luas seperti ini, kita tunggu arahan saja. Kalau sudah ada tanda-tanda baru kita nyelam. Kalau nyelamnya sekarang, takutnya nanti pas ada tanda-tanda tenaga kita habis duluan,” tuturnya.

Selain itu, ia juga pernah terjun langsung dalam pencarian tenggelamnya kapal penumpang KM Sinar Bangun di kawasan perairan Danau Toba di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Senin 18 Juni 2018.

“Karena memang di sana dalam sekali 450 meter, jadi gak bisa diangkat,” tutur Hendra dalam perbincangannya.

Di hari keempat pencarian, Kamis (1/11), Sertu Marinir Hendra Syahputra dan Kopda Marinir Noor Ali berhasil menemukan blck box (kotak hitam) pesawat Lion Air JT-610. Kotak hitam tersebut ditemukan di kedalaman 25-32 meter perairan Tanjung Karawang dan berhasil diangkat ke atas Kapal Baruna Jaya I pada pukul 09.31 WIB.

Atas keberhasilan menemukan black box, Sertu Marinir Hendra Syahputra dan Kopda Marinir Noor Ali mendapat apresiasi dan penghargaan dari Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Pangkoarmada I, Laksda Yudo Margono, pada Jumat (2/11) di JICT.

Sertu Marinir Hendra Syahputra dan Kopda Marinir Noor Ali adalah sekian dari ratusan anggota SAR yang menjunjung tinggi dedikasi, loyalitas dan profesionalitas. Tanggung jawab kemanusiaan mereka utamakan untuk mencari korban kecelakaan baik di darat maupun di laut. Mereka patut menjadi inspirasi kita bersama.

Penulis adalah Jurnalis Akuratnews.com  

Komentar

News Feed