Dua Obat Anti Virus Corona Segera Didatangkan, Ini Spesifikasinya

Jakarta, Akuratnews.com - Jumlah kasus positif virus Corona di Indonesia sudah menembus angka 369 orang, dimana 17 orang berhasil sembuh dan 32 orang meninggal.

Sebagai tindakan preventif, pemerintah telah menyiapkan dua obat yang akan dipakai untuk perawatan pasien. Kedua obat itu adalah Avigan dan Klorokuin.

Hal ini dikatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jumat (20/3). Pertimbangan Jokowi menggunakan kedua obat itu berdasarkan hasil riset dan pengalaman beberapa negara.

“Obat tersebut akan sampai kepada pasien yang membutuhkan dari dokter keliling rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas dari kawasan yang terinfeksi,” ujar Presiden Jokowi.

Jokowi mengatakan, BUMN farmasi ditugaskan memproduksi obat tersebut secara massal. Pada pengadaan obat gelombang pertama ini, Jokowi menyebut baru 5.000 unit Avigan yang sudah siap digunakan. Sedangkan sisanya sedang dalam proses pemesanan, yakni 2 juta unit Avigan dan 3 juta unit Klorokuin.

Berikut spesifikasi dan rincian dua obat ini:

1. Avigan

Avigan yang dikenal juga dengan nama Favipiravir. Obat ini dikembangkan oleh perusahaan asal Jepang, Fujifilm Toyama Chemical sebagai obat anti-influenza sejak 2014 silam. Otoritas Kesehatan China mengklaim Avigan secara efektif bisa mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona.

Terkait hal itu, Fujifilm Toyama Chemical selaku produsen obat enggan memberikan komentar. Meski demikian, sejak diumumkannya Avigan sebagai obat yang bisa menyembuhkan pasien COVID-19 di China, saham perusahaan Fujifilm langsung melesat naik hingga 14,7 persen dengan pencapaian 5.207 yen.

Dokter di Jepang juga telah menggunakan obat yang sama dalam studi klinis pada pasien virus corona dengan gejala ringan hingga sedang, berharap apa yang diklaim China benar-benar terjadi dan bisa mencegah virus berkembang biak di tubuh pasien.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan, obat Avigan tidak efektif mengobati pasien COVID-19 dengan gejala kronis.

“Kami telah memberi favipiravir pada 70 hingga 80 pasien, tetapi tampaknya tidak berfungsi dengan baik ketika virus sudah berlipat ganda,” ujar juru bicara Kemenkes Jepang, kepada Mainichi Shimbun.

Klaim keampuhan Avigan dalam menyembuhkan pasien COVID-19 bermula saat uji klinis terhadap 340 pasien di rumah sakit Wuhan dan Shenzhen. Pasien positif dinyatakan sembuh empat hari setelah diberikan obat anti-influenza tersebut. Sedangkan pasien yang tidak diberikan Avigan, rata-rata membutuhkan 11 hari sampai akhirnya dinyatakan negatif virus corona.

“Ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan jelas efektif dalam perawatan,” kata Zhang Xinmin, Direktur Pusat Nasional untuk Pengembangan Bioteknologi China, dalam konferensi pers di Beijing, China, Selasa (17/3), seperti dilansir dari The Guardian.

Selain itu, hasil sinar-X menunjukkan adanya peningkatan kondisi paru-paru pasien yang diobati dengan Avigan, peningkatannya mencapai 91 persen. Sedangkan mereka yang tidak diobati Avigan, hanya mengalami peningkatan sekitar 62 persen.

2. Klorokuin

Nama Klorokuin Fosfat awalnya sempat menjadi kontroversi, setelah beredarnya pesan WhatsApp di Nigeria bahwa Klorokuin bisa dipakai untuk mengobati virus Corona. Pesan WhatsApp itu disertai dengan gambar satu boks berisi tablet Klorokuin. Pengirim pesan mengatakan, dokter merekomendasikan orang untuk mengonsumsi 500 mg klorokuin fosfat selama delapan hari untuk menyembuhkan virus corona.

Kabar tersebut disebut hoaks. Janet Diaz, kepala perawatan klinis dalam Program Emergensi WHO, membantah kalau Klorokuin ampuh menyembuhkan pasien COVID-19. Bantahan ini disampaikan dalam konferensi pers pada 20 Februari lalu.

"Untuk Klorokuin, tidak ada bukti bahwa itu adalah pengobatan (COVID-19) yang efektif saat ini," kata Diaz seperti dilaporkan AFP.

Tak hanya salah, anjuran mengonsumsi Klorokuin 500 mg selama delapan hari juga berbahaya. Menurut Goke Akinrogunde, Direktur Klinis di GTAK Health Clinic di Lagos, Nigeria, takaran 500 mg selama delapan hari dapat menyebabkan overdosis. Bahkan, ketika obat itu masih digunakan untuk menyembuhkan malaria di Nigeria, durasi konsumsi obat hanya berlangsung selama tiga hari.

Bahkan, Klorokuin sudah dilarang beredar di Nigeria sejak 2005. Pelarangan obat tersebut dibuat setelah WHO memperingatkan tingkat kegagalan obat yang tinggi dan temuan kasus resistensi obat di sejumlah negara.

Namun, nyatanya Klorokuin diyakini juga bisa membantu penyembuhan pasien virus corona. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi salah satu sosok yang mendukung penggunaan Klorokuin sebagai perawatan pasien COVID-19.

Padahal, Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan (Food and Drug Administration/FDA) AS, belum memberikan izin untuk obat Klorokuin dalam menangani virus corona. FDA saat ini masih melakukan pengujian terhadap Klorokuin.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga