Dudung Nilai Status Tersangkanya oleh KPK Janggal

Jakarta, Akuratnews.com - Mantan Direktur Utama PT Duta Graha Indah (DGI) Tbk, Dudung Purwadi, menilai penetapannya sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek pembangunan wisma atlet oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) janggal.

Dudung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (31/7/17), menyampaikan alasan demikian karena menurutnya tidak ada satu putusan pengadilan pun yang menyatakannya bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus ini.

"Karena untuk 4 terpidana Mohammad El Idris, Rosa [Mindo Rosalina Manulang], M Nazaruddin, dan Wafid Muharam semuanya terbukti bersalah, tapi tidak terbukti saya bersama-sama. Di dalam putusan itu, tidak ada saya bersama-sama masing-masing terpidana ini," ujar Dudung.

Begitupun putusan pengadilan terhadap Rizal Abdullah pada 27 November 2015, lanjut Dudung, pengadilan tindak pidana korupsi tidak menyatakan Rizal bersama-sama dengannya melakukan tindak pidana korupsi.

"Kemudian anehnya, 15 Desember 2015, itu saya dijadikan tersangka tanpa memperhatikan putusan sidang tindak pidana korupsi tadi," kata Dudung.

Dua minggu kemudian, KPK mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) pada tanggal 5 Januari 2016 atau dua minggu setelah vonis Rizal Abdullah. Permohonan banding di antaranya meminta agar pengadilan menyatakan Rizal Abdulah bersama-sama Dudung melakukan tindak pidana korupsi.

"Pihak KPK membanding putusan dari Pengadilan 27 November 2015 dan meminta agar saya dijadikan sebagai tersangka bersama-sama. Namun hasil putusan banding pengadilan tinggi 7 Maret 2016, itu tetap pada putusan 2015 tanggal 27 November. Artinya, saya tidak terbukti bersama-sama dengan Rizal. Saya heran juga," katanya.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum KPK dalam surat dakwaan pertamanya tentang korupsi pembangunan rumah sakit Unud Bali, mendakwa Dudung Purwadi memperkaya PT DGI yang kini bersulih nama menjadi PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE) sejumlah Rp 24,778.603.605 dengan rincian Rp 6.780.551.865 pada tahun 2009 dan Rp 17.998.051.740 pada tahun 2010.

Selain itu, Dudung juga memperkaya Muhammad Nazaruddin dan korporasi di bawah kendalinya yakni PT Anak Negeri dan Grup Permai sejumlah Rp 10.290.944.000.

Akibatnya, negara mengalami kerugian keuangan atau perekonomian sebesar Rp 25.953.784.580 sesuai Laporan Hasil Audit dalam Rangka Audit Perhitungan Kerugian Negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Atas perbuatan tersebut, jaksa penuntut umum mendakwa Dudung melanggar dakwaan kesatu primer yakni Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Adapun dakwaan subsidernya, melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan untuk kasus korupsi wisma atlet dan gedung serbaguna Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang menjadi dakwaan kedua untuk Dudung, jaksa juga menyampaikan bahwa Dudung memperkaya PT DGI Tbk yang kini bernama PT NKE Rp 42.717.417.289.

Selain memperkaya PT DGI yang kini bernama PT NKE itu, terdakwa Dudung juga memperkaya Muhammad Nazaruddin atau Permai Grup sebesar Rp 4.675.700.000, serta Rizal Abdullah sebesar Rp 500 juta.

Perbuatan terdakwa Dudung bersama-sama Muhammad Nazaruddin dan Rizal Abdullah itu merugikan keuangan negara Rp 54.700.899.000 sesuai hasil perhitungan yang dilakukan BPK.

Atas perbuatan itu, jaksa penuntut umum mendakwa Dudung melanggar dakwaan kedua primer, yakni Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 Undan-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun dakwaan subsidernya, melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. (Fajar)

Penulis:

Baca Juga