Ekspor China Melambat, Bursa Asia Terpukul Dua Kali

Ekspor China mengalami perlambatan. Menjadi sentimen negatif bagi perdagangan di bursa Asia hari ini, Senin (10/12). (LH/Foto Istimewa).
Ekspor China mengalami perlambatan. Menjadi sentimen negatif bagi perdagangan di bursa Asia hari ini, Senin (10/12). (LH/Foto Istimewa).

Jakarta, Akuratnews - Pertumbuhan ekspor China melambattajam pada bulan November, karena efek dari frontloadingpengiriman sebagai dampak Perang Dagang AS – China, yang mungkin sudah mulaiberkurang.



Total ekspor tumbuh 5,4% dari tahun sebelumnya, melambat
dari peningkatan 15,6% pada Oktober, Demikian diungkapkan Biro Umum Bea Cukai pada
Sabtu (08/12) Sejumlah Ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal
memperkirakan pertumbuhan ekspor masih mampu tumbuh sebesar 10,0%.

Pertumbuhan ekspor China merosot pada November karena
permintaan global melemah, menambah tekanan pada Beijing menjelang pembicaraan
perdagangan dengan Washington.  Tentu
saja angka ini meleset dari perkiraan dan jauh mengagetkan publik atas dampak Perang
Dagang tersebut.

Sementara nilai Impor China juga meningkat 3,0% pada tahun
lalu, turun dari peningkatan 21,4% di bulan sebelumnya, perkiraan median ekonom
yang hilang sebesar 14,4%.

Hal itu menambah tanda perlambatan ekonomi terbesar kedua di
dunia semakin mendalam karena para pemimpin China mempersiapkan negosiasi dengan
Presiden Donald Trump mengenai kebijakan teknologi Beijing dan iritasi lainnya.

Total surplus perdagangan China melebar menjadi $ 44,74
miliar dari $ 34,0 miliar pada Oktober, menurut data pabean. Para ekonom
mengharapkan surplus $ 33,5 miliar.

Melemahnya ekspor China ini berdampak pada perdagangan di
lantai bursa saham Asia pada Senin (10/12). Pasar memang telah mendapat sentiment
negatif dari hasil perdagangan di bursa AS pada akhir pekan kemarin yang
berakhir buruk. Dengan tambahan sentiment negatif ini, bursa Asia dipaksa turun
setidaknya 1%.

Sektor keuangan mengalami penurunan di hampir seluruh
wilayah, dibantu oleh penurunan imbal hasil obligasi yang berkelanjutan; Obligasi
tenor 10 tahun turun menjadi 2,83%.

Indek Nikkei Jepang, mengalami kerugian sepanjang sesi,
turun 2% di tengah penurunan 0,4% dolar terhadap yen. Sedangkan Indek bursa saham
Hong Kong HSI, turun sekitar 1,5%. Indeks Komposit Jakarta turun 0,8%, setelah
berada di antara beberapa yang telah meningkat minggu lalu. (LH)

Penulis:

Baca Juga