Ekspor Rokok Berpotensi Sumbang Pendapatan Besar Negara

Ilustrasi. Foto: Istimewa
Ilustrasi. Foto: Istimewa

Jakarta, Akuratnews.com - Industri Hasil Tembakau (IHT) memiliki rantai bisnis yang luas sehingga menciptakan nilai tambah sekaligus lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung. Di tengah ketergantungan impor bahan baku, lHT masih mampu menyerap bahan baku lokal, yakni tembakau dan cengkeh yang cukup besar.

"Untuk membatasi rokok bagi kesehatan generasi muda kita setuju. Tapi kalo produksinya sendiri sebenarnya ada potensi meningkat untuk ekspor," kata Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo dalam diskusi bertajuk 'Mau Kemana Industri Hasil Tembakau Pasca PMK 146/2017?' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (13/8/2018).

Politisi PDIP ini menuturkan produk tembakau jenis kretek Indonesia memiliki ciri khas dan keunikan dibanding produk lHT negara lain. "Jadi pengendalian di dalam negeri kita setuju. Tapi bisa ditingkatkan produksinya untuk ekspor," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menuturkan setiap produk yang dihasilkan dari rokok nilai terbesarnya dari konten regulasi. "Apakah itu dari cukai, PPN maupun pajak rokok. Bagaimana Pemerintah mengeluarkan regulasi dari industri ini sangat mempengaruhi keberlangsungan industri ini," ucap dia.

Selama enam tahun terakhir, tutur Enny, pertumbuhan IHT memang menurun sesuai target Pemerintah yang berusaha mengendalikan. Sekalipun menurun, industri ini menurutnya tetap mempunyai kontribusi besar lantaran memiliki nilai uniqueness yang tinggi.

Enny lantas mempertanyakan roadmap Pemerintah terkait IHT. "Ketika kebijakan berubah-ubah, kita tidak tau persis Benchmark-nya seperti apa. Pada prinsipnya, pelaku usaha butuh kepastian. Jadi roadmap itu sebagai referensi mereka," ungkap Enny.

"Kalo ada kepastian itu yang akan memberikan kepastian investasi. Sehingga roadmap yang komprehensif sangat penting," tandasnya. (Ysf)

Penulis:

Baca Juga