Empat Tahun Hidup di Penjara Israel, Jurnalis Al Quds Ini Ajak Suarakan Kebenaran Demi Keadilan Palestina

Jakarta, Akuratnews.com - Kondisi Palestina saat ini masih terjajah dan mengalami blokade Israel. Dan memberitakan hal ini juga bukan hal yang mudah bagi para jurnalis Palestina.

Seperti yang dialami Bushro Jamal Al-Thaweel (22). Ia memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap otoritas Israel.

Sejak saat itulah, ia terpanggil menjadi seorang aktivis dan wartawan untuk menyampaikan sesuatu yang terjadi di Palestina serta membawa misi untuk disampaikan keseluruh dunia tentang realita yang sebenarnya terjadi.

Dan Rabu (4/11), Adara Relief International (Adara) berkesempatan menghadirkan Bushro Jamal Al-Thawil, wartawan perempuan Al Quds yang pernah empat kali ditawan Israel untuk
berbagi pengalamannya via online press gathering.

“Dengan profesi wartawan, saya dapat menyaksikan pelanggaran verbal, fisik, perampasan tanah, penghancuran bangunan, rumah yang dilakukan tentara Israel," ujar Bushro saat berbicara dalam press gathering online bertajuk 'Kesaksian Wartawan Palestina' ini.

Ia menyebut, otoritas Israel tak segan memberi hukuman pada wartawan terkait pemberitaan Palestina. Wartawannya bisa dikenakan tahanan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa tuduhan yang jelas.

"Jangankan berita tentang tawanan, sesuatu tentang Palestina misalnya Al-Aqsa dll banyak orang tidak tahu, Hukum internasional sebenarnya tidak memperboleh menangkap orang atau wartawan yang memberitakan sesuatu yang benar-benar terjadi, tapi itulah yang terjadi di Palestina,” kata Bushro.

Sejak tahun 2000, 27 wartawan yang ditawan dan sampai sekarang masih 25 orang yang ditawan.

Selama ini, lanjut Bushro, intimidasi kepada keluarga wartawan masih dilakukan otoritas Israel. Hal itu dialami Bushro. Ayah dan ibunya juga ditangkap dan tak boleh dikunjungi.

"Israel melakukannya agar saya kapok, jera dan tidak menjalankan profesi sebagai jurnalis,” ucapnya.

Busro juga menyangkan, penangkapan dan penahannya oleh tentara Israel tidak mendapat perhatian dari asosiasi wartawan di Palestina.

“Sangat disayangkan otoritas Palestina, khusunya asosiasi wartawan di Paletina kurang peduli terhadap apa yang pernah saya alami,” imbuhnya.

Wartawan yang menghabiskan empat tahun di penjara Israel ini berharap, awak media di Indonesia dapat  menjadi penyambung lidah wartawan Palestina.

"Semoga semakin banyak media yang mengedukasi dan memberitakan kebenaran karena menulis untuk Palestina berarti menulis untuk keadilan," pungkasnya.

Untuk diketahui, Bushro terakhir ditangkap dari rumah keluarganya di lingkungan Ain Misbah Kamis, 11 Desember 2019 lalu.

Pengadilan Ofer saat itu mengeluarkan keputusan administratif empat bulan tambahan, terhadap wanita yang juga aktivis hak asasi manusia ini.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga