Empati Mendalam Tien Soeharto Jadi Tonggak Berdirinya YHK dan YDRGK

Jakarta, Akuratnews.com - Almarhumah Raden Ayu Siti Hartinah atau yang akrab disapa ibu Tien Soeharto punya sikap dan suri tauladan yang masih membekas di mata anak-anaknya.

Rasa empati yang menjadi kunci kedalaman hubungan beliau dengan orang lain adalah salah satu dari suri tauladan yang masih membekas.

“Ikut merasakan kesusahan atau penderitaan yang dialami orang lain. Bersimpati dan kemudian tergerak ikut membantu menyelesaikan masalah,” ujar anak sulung Tien Soeharto, Siti Hardiyati Rukmana di sela-sela tasyakuran ’51 Tahun Yayasan Harapan Kita’ (YHK) dan ‘Milad 33 Tahun Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan’ (YDGRK) di Jakarta, Jum’at (23/8).

Wanita yang akrab disapa mbak Tutut ini melanjutkan, Tien Soeharto tak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

“Ketika melihat penderitaan orang lain ibu langsung bertindak. Dalam keterbatasannya sebagai ibu rumah tangga beliau maju berkiprah, turun tangan sendiri membantu orang,” kenang Tutut.

Semangat inilah yang juga menjadi tonggak berdirinya Yayasan Harapan Kita (YHK) dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) dalam rangka memenuhi panggilan kemanusiaan.

Dua yayasan sosial inilah yang menjadi penanda dan jejak pengabdian almarhumah ibu Tien Soeharto.

“Ibu sedikit lain dari sekedar ibu rumah tangga. Setiap kali ada masyarakat yang perlu ditolong, atau ada bencana ibu langsung berinisiatif membantu. Terdepan berada di lapangan memegang langsung komandonya,” ujar Tutut.

Putri sulung Presiden RI Kedua, Soeharto ini juga menjelaskan, bahwa seluruh yayasan yang didirikan orang tuanya sepenuhnya diperuntukkan demi kemaslahatan masyarakat.

Kedua orang tuanya pun mengamanatkan agar putra putri Soeharto tidak boleh sedikit pun menikmati dana yayasan.

“Bapak melarang anak-anaknya menggunakan dana yayasan untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Jadi terpisah. Yayasan ada yang mengurusnya,” terang Tutut.

Saat ditanya tentang pengelolaan Rumah Sakit Harapan Kita, Tutut menjelaskan, bahwa rumah sakit tersebut didirikan Yayasan Harapan Kita. Namun sejak tahun 1998 pengelolaan rumah sakit secara resmi diserahkan ke Pemerintah (Departemen Kesehatan RI).

“Itu juga sesuai keinginan para dokter pada waktu itu,” terang Tutut.

Soal status kepemilikan dan pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Tutut pun mengatakan sama halnya dengan status kepemilikan Rumah Sakit Harapan Kita, situs budaya tersebut juga telah diserahkan ke negara.

“Masyarakat yang mengelolanya, dan hasilnya sepenuhnya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat,” ujar Tutut.

Yayasan yang didirikan orangtuanya tidak hanya berhasil membangun berbagai sarana secara fisik seperti rumah sakit anak dan bersalin, rumah sakit jantung, sarana pendidikan dan kebudayaan, seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Termasuk Perpustakaan Nasional, hingga Taman Anggrek Indonesia Permai.

"Kita dapat menjadi saksi bagaimana Yayasan Harapan Kita (YHK) berhasil mengurangi ketergantungan warga Indonesia berobat ke luar negeri. Yayasan Harapan Kita bertekad kuat sebagaimana  keinginan ibu Tien sebagai pendirinya membela kesehatan rakyatnya,” ujarnya.

Sementara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK), dalam rentang waktu 33 tahun telah menunjukkan berbagai pengabdian bagi korban bencana.

“Kami selalu hadir di mana rakyat menderita karena bencana. Tak hanya sekali. Pada bencana tsunami di pesisir Banten dan Lampung, akhir tahun 2018 hingga awal 2019 lalu, saya sendiri terlibat. Sedikitnya dalam dua kali kedatangan,” kata Tutut.

Selama 33 tahun berkiprah, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) juga telah menyalurkan bantuan sekitar Rp. 64 miliar.

Semua untuk korban bencana, meliputi korban bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan bencana sejenisnya.

“Yayasan telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia. Dilakukan melalui kerjasama luar biasa dengan semua pihak. Kami percaya kehidupan lebih baik, dan sejahtera, bisa diraih bersama melalui tolong-menolong di antara kita,” ujar Tutut.

Atas dukungan semua pihak, Tutut berharap, sumbangsih kedua yayasan ini dapat lebih optimal memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa dan Negara.

“Kami percaya tak ada yang sempurna. Demikian pula dengan berbagai upaya yang telah kami lakukan. Namun di dalam kenaifan ini setidaknya Allah SWT Yang Maha Tahu, apa yang menjadi nawaitu yang bersemayam di lubuk hati kami terdalam. Semoga Allah SWT melimpahkan taufik dan hidayahnya kepada kita semua,” pungkas Tutut.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga