Amandemen UUD 1945

Era Megawati Adalah Sumber Kekacauan Saat Ini, Kata Rachma

Rachmawati Soekarnoputri. (Foto. istimewa).

“Justru insubordinasi Mega itu yang dapat disebut makar terlebih dahulu karena melibatkan kekuatan bersenjata,”

Jakarta, Akuratnews.com - Bukan hal aneh jika Rachmawati kerap berbicara keras perihal kakaknya sendiri, Megawati Soekarnoputri. Kedua anak dari Presiden Pertama Indonesia ini telah berbeda visi dalam melihat nasib bangsa Indonesia.

Rachmawati mengatakan, krisis multi dimensi yang terjadi di Indonesia adalah kesalahan Ketum PDI Perjuangan saat menjabat sebagai Presiden RI hasil limpahan dari Presiden Abdurrahman Wahid.

Rachmawati menuding kesalahan itu bermuara pada pemerintahan Megawati pada tahun 2001-2004. Salah satu yang paling dipermasalahkan Rachmawati adalah soal amandemen UUD 1945 yang dihasilkan saat era pemerintahan Mega.

Rachma pun menyebut, era Megawati adalah sumber kekacauan yang terjadi pada saat ini. Menurut dia, pengambilalihan kekuasaan dari Gus Dur pada bulan Juli 2001, adalah babak pembuka bagi berbagai kesalahan lainnya, yakni saat Megawati mengizinkan dilanjutkannya amandemen UUD 1945 yang sebelumnya telah dilakukan saat awal reformasi.

"Itu yang paling fatal," Tegas Rachmawati, Sabtu (11/5/2019).

Mengutip situs nasional, di awal reformasi, dua amandemen UUD 1945 telah dihasilkan, Pertama pada tanggal 14-21 Oktober 1999, kedua dilakukan pada tanggal 7-18 Agustus 2000.

Dan di Era pemerintahan Megawati itulah dihasilkan dua amandemen tambahan, yakni pada tanggal 1-9 November 2001 dan pada tanggal 1-11 Agustus 2002. Rachma menyebutkan, ciri liberal kapitalistik semakin kuat dalam dua amandemen terakhir, hasilnya adalah penjualan BUMN, seperti PT Indosat.

“Bahkan Mega juga yang mengawali TNI dan Polri tidak bersikap netral. Ketika Gus Dur menunjuk Jenderal Chaerudin Ismail sebagai Kapolri baru, Mega melakukan pembangkangan dengan menunjuk Jenderal S. Bimantoro,” cerita Rachma.

“Justru insubordinasi Mega itu yang dapat disebut makar terlebih dahulu karena melibatkan kekuatan bersenjata,” Tandasnya.

Sejauh ini, dikritik sebagaimana pun oleh sang Adik, Ketum PDI Perjuangan itu kerap tak menaggapi dan lebih memilih abai.

Penulis:

Baca Juga