Faktor Kebiasaan Belajar Mengajar Dinilai akan Sulit Kembali Pasca Pandemi

Jakarta, Akuratnews.com - Masa Pandemi Covid-19 memaksa para siswa, guru, mahasiswa, dosen dan pelaku belajar mengajar harus merubah konsep serta teknis dalam penyelenggaraan pendidikan. Belajar mengajar daring, mau tidak mau harus dilakukan dari mulai tingkat sekolah dasar hingga bangku perkuliahan. Proses tersebut tentunya akan menjadi sebuah kebiasaan baru yang akan familiar dalam kehidupan belajar mengajar di tanah air, bahkan di seluruh dunia. Menjadi tanda tanya besar, bagaimana kebiasaan proses belajar mengajar tersebut di pasca pandemi ? Apakah akan kembali seperti sedia kala, atau kah ada kebiasaan baru dalam proses tersebut pasca pandemi ?

Rektor Universitas Budi Luhur Dr. Ir. Wendi Usino, M.Sc., MM, menjelaskan dengan melansir pandangan ahli, bagaimana sudah diperkirakan oleh para ahli bahwa akan terjadi perubahan. Ada terjadi normal baru oleh mahasiswa maupun dosen. Sekarang ini yang pernah merasakan kapok atau justru menimbulkan ide baru dalam proses belajar mengajar tersebut.

"Mungkin ada yang menjadi sebuah ide atau sebuah pembelajaran baru yang akan mereka nikmati, yaitu bagaimana lebih mudah belajar di rumah misalnya dibandingkan harus ke kampus itu konsekuensi yang harus dihadapi tapi ada juga yang lebih suka di kampus karena ada sosialisasi," ujarnya dalam diskusi webinar Zoom Meeting yang diselenggarakan oleh Universitas Budi Luhur dan dihadiri lebih dari 190 peserta, Kamis (21/5).

Lebih jauh Wendi, memaparkan manusia Indonesia khususnya , dan manusia pada umumnya adalah makhluk sosial dan tetap selalu ingin berinteraksi. Dirinya menggambarkan dari video viral, bagaimana sebuah alat menjadi sarana orang berpelukan tapi tidak bersentuhan.

"Hal itu menggunakan plastik yang bisa masuk tangan, dimana sebuah upaya atau ide-ide kreatif walaupun tidak bisa bersentuhan tapi boleh berpelukan. Berpelukan sebuah upaya merasakan kehangatan, bagaimana kita saling merindukan misalnya antara Ayah dengan anak, kakek dengan cucu atau nenek, kakak dengan adik dan sebagainya. Merupakan salah satu cara untuk melepas rindu tapi tetap aman dari transmisi virus," paparnya.

Dirinya menegaskan, mengenai pengembalian faktor kebiasaan pasca pandemik belum dapat diprediksi apakah akan mudah dilakukan melihat kondisi setiap orang yang berbeda-beda.

"Oleh karena itu mengenai pengembalian kebiasaan mungkin akan berat. Tidak bisa lagi seperti kemarin. Mungkin kita kan berubah, mungkin jarak bangku duduknya tidak bisa nempel-nempel lagi. Kita kan jaga jarak nya juga, dengan pakai masker dan sebagainya. Itu kita tidak tahu seperti apa nantinya," pungkasnya.

Penulis:

Baca Juga