Opini

Fenomena Komedi Tunggal Dalam Pembangunan Kritik Multidimensi

Ilustrasi Stand Up Comedy Foto oleh Suvan Chowdhury dari Pexels
Ilustrasi Stand Up Comedy Foto oleh Suvan Chowdhury dari Pexels

Stand Up Comedy menjadi salah satu tren pop yang kini digandrungi masyarakat Indonesia. Semua kalangan masyarakat mengenali komedi ini semenjak kemunculannya dalam berbagai sarana teknologi, informasi dan komunikasi.

Dibalik suguhan komedi yang dapat membangkitkan gelak tawa, terselip kritik-kritik yang multi dimensi, seperti misalkan beberapa komika (sebutan bagi para pelaku stand up comedy) yang menyelipkan unsur kritik didalam penampilannya.

Penulis meneliti fenomena stand up comedy sebagai upaya aksi non kekerasan (non-violent action) yang bertujuan sebagai pembangunan sarana kritik.

Gene Sharp dalam menjelaskan bahwa aksi non-kekerasan didasarkan pada sebuah ambisi untuk mengakhiri kekerasan,—baik itu kekerasan fisik atau kekerasan yang terstruktur (structural violence) seperti perampasan hak, pengucilan sosial, penindasan, tanpa memunculkan kekerasan lagi.

Tujuan utama dari kampanye non kekerasan adalah terjadinya perubahan sosial dan politik. Sharp meneliti dan mengkatalogkan 198 metode aksi non-ke¬kerasan yang kemudian hasilnnya di¬pilah menjadi tiga klasifikasi besar, yaitu (1) protes dan persuasi, (2) tidak bekerja sama dan (3) intervensi non-kekerasan. Hal ini lebih lanjut dikelompokkan dalam beberapa bagian. (Sharp, 1973)

Secara umum Stand Up Comedy adalah lawakan atau komedi yang dilakukan diatas panggung oleh seseorang yang melontarkan serangkaian lelucon yang berdurasi 10 menit sampai 45 menit. Dan menurut istilah Stand Up Comedy merupakan bentuk dari seni komedi atau melawak yang disampaikan secara monolog kepada penonton. (Nugroho, 2011 : 1)

Diskursus akademik mengenai korelasi stand-up comedy masih tergolong baru. Salah satu yang paling komprehensif dalam A Vulgar Art - A New Approach to Stand-Up Comedy oleh Ian Brodie, profesor cerita rakyat (folklore) di Universitas Cape Breton.

Dalam pendekatan cerita rakyat, Brodie mendefinisikan stand-up comedy sebagai "suatu bentuk pembicaraan [yang] menyiratkan konteks yang memungkinkan adanya reaksi, partisipasi, dan keterlibatan dari mereka yang diajak bicara oleh stand-up comedian." Meski stand-up comic tidak bisa disangkal menjadi pusat perhatian, pembicaraan dalam bentuk dialog ini “dilakukan bukan untuk tetapi dengan penonton” (Brodie, 2014 : 5).

Selanjutnya 1 2 3

Baca Juga