oleh

FFI 2018: Dominasi ‘Marlina ‘ Hingga Wacana Hilangnya Kategori Pemeran Anak

Jakarta, Akuratnews.com – Malam penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2018 telah menobatkan ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ sebagai jawara umum.

Minggu (9/12) malam, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta jadi saksi film besutan Kaninga Pictures ini memborong sepuluh Piala Citra dari 14 nominasi.

Kemenangan film ini memang sudah sedikit terprediksi. Banyak menyebut penghargaan dalam festival-festival film luar negeri, kemenangan ‘Marlina’ kemungkinan hanya bisa digeser oleh satu nominasi lain yakni ‘Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta’ yang baru saja menjadi film terpuji di Festival Film Bandung (FFB) baru-baru ini.

‘Marlina’ juga menyabet dua piala penting dalam kategori Pemeran Wanita Terbaik yang diraih Marsha Timothy dan Mouly Surya di kategori Sutradara Terbaik.

Sedangkan di kategori Pemeran Pria Terbaik diraih Gading Marten di film ‘Love for Sale’.

Selain ‘Marlina’, film ‘Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212’ menyusul dengan tiga kemenangan Piala Citra. Film yang diangkat dari kisah pendekar ciptaan Bastian Tito ini kuat di visual dan artistik.

Namun, sejumlah catatan penting lagi-lagi mengiringi penyelenggaran ajang FFI, tak terkecuali kali ini.

Dari sisi penyuguhan acara yang ditayangkan langsung di Metro TV, kemasan acara malam anugerah FFI 2018 tak sesuai dengan jaman milineal yang serba digital dan penuh visualisasi.

“Kesan saya menyaksikan siaran itu hanya ‘replika’ atau pengulangan acara serupa 30 – 40 tahunan silam. Cuma memamah biak yang telah ada sebelumnya. Tak ada inovasi sama sekali,’ ujar Wina Armada Sukardi, wartawan senior yang juga anggota Dewan Pers di Jakarta, Senin (10/12).

Ketua dewan juri Lomba Kritik Film 2018 ini pun melihat dari aspek penyiaran dan sudut pandang sebagai tontonan, acara ini menjadi monoton dan tidak menarik.

“Membosankan,” tandas pria yang sudah malang melintang dalam dunia kritik dan penjurian film ini.

Pendapat Wina ini memang tak salah, banyak penonton yang hadir malam itu tak sampai selesai acara sudah meninggalkan Teater Besar TIM.

“Soal pembagian kursi tempat duduk pun nggak rapi. Undangan yang hadir harus ngantri dulu dapat nomor kursi. Kayak ngantri beras aja,” ujar seorang undangan yang enggan disebutkan namanya.

Hal senada diungkapkan sutradara senior Akhlis Suryapati. Mantan penyelehnggara FFI 2014 ini menyebut, penyelenggaraan FFI bukan hanya sekadar pemberian anugerah semata pada insan perfilman.

“Gelaran FFI itu adalah pestanya semua insan film, termasuk masyarakat. Semua harus terlibat. Makanya harusnya dalam gelaran FFI itu ada serangkaian acara terkait film yang menyertainya,” ujar Akhlis di Jakarta, Minggu (9/12).

Rangkaian acara itu, jelas Akhlis bisa berupa diskusi film, pawai artis, bazaar yang mrlibatkan masyarakat dan insan film. Dan puncak acara di malam anugerah FFI.

FFI 2018 juga bakal menjadi FFI terakhir bagi Piala Citrra untuk kategori Pemeran Anak. Tahun depan, seperti yang diungkapkan Ria Irawan selaku Koordintaror Pemilihan dan Penilaian FFI 2018, kategori Pemeran Anak Terbaik akan dihilangkan.

“Ini kaitannya untuk menyetarakan pemeran anak dengan aktor dewasa. Kita harus konsisten jika ingin mereka disebut aktor. Harus ada kompetensi dalam profesi aktor, dan untuik dapat kompetensi kan harus sudah dewasa,” ujar Ria.

Dijelaskannya, posisi pemeran anak akan setara dengan aktor dewasa lainnya dalam penilaian di FFI tahun depan.

“Jadi bisa saja, nominasi di kategori Aktor dan Aktris Terbaik nantinya akan diisi oleh pemeran anak,” paparnya.

Namun hal ini tak sepenuhnya disambut positif oleh sejumlah insan film.

“Harusnya (kategori pemeran anak) tetap ada. Saya tidak setuju,” ujar aktor senior, Roy Marten di sela-sela malam penganugerahan FFI 2018.

Hal senada juga diungkapkan Reza Rahardian. Aktor peraih Piala Citra 2016 sebagai Aktor Terbaik ini mengaku baru tahu jika kategori Pemeran Anak akan dihapuskan dari FFI tahun depan.

“Baru denger nih. Saya sih tidak setuju kalau dihapus. Ini kan kebanggaan dan ajang penghargaan bagi mereka (pemeran anak),” ujar Reza.

Sedangkan di mata sutradara Fuad Akbar penghapusan kategori Pemeran Anak dalam FFI tahun depan ada untung dan ruginya tersendiri.

“Bagi saya sih fifty-fifty. Akting itu memang bukan soal umur, akting itu juga bicara soal gimmick, ekspresi,” ucapnya.

Dalam malam penganugerahan FFI 2018, Pemeran Anak Terbaik diraih Ni Kadek Thaly Titi Kasih dari film ‘Sekala Niskala’.

Ia berhasil mengungguli Alifa Lubis (Koki-Koki Cilik), Bima Azriel (Petualangan Menangkap Petir), Fatih Unru (Petualangan Penangkap Petir), Ida Bagus Putuh Radithya Mahijasena (Sekala Niskala), Lil’li Lastisha (Kulari ke Pantai), Maisha Kanna (Kulari ke Pantai).

(DN)

Komentar

News Feed