Seminar

Film Indonesia Belum Jadi Tuan Rumah Di Negeri Sendiri

Film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Seminar film oleh FORWAN dan Pusbang Film Kemendibud, Kamis (28/03) ( Fajar, Akuratnews)
Film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Seminar film oleh FORWAN dan Pusbang Film Kemendibud, Kamis (28/03) ( Fajar, Akuratnews)

Jakarta, Akuratnews.com | Dalam rangka memperingati hari Film Nasional yang ke 69 yang jatuh pada tanggal 30 Maret 2019, Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film Kemdikbud) bekerjasama dengan Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia menggelar acara Seminar Forum Koordinasi Dengan Komunitas Bertajuk “Film Indonesia Menjadi Tuan Rumah Di Negeri Sendiri Dan Tamu Mulia Di Negeri Lain”, yang dihelat di Gedung Film, Jl. MT. Haryono Kav 47-48, Pancoran Jakarta Selatan, Kamis (28/3).

Hadir sebagai narasumber adalah Djohny Syafruddin ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Dian Srinursih Kepala Perijinan dan Pengendalian Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ahmad Yani Ketua Lembaga Sensor Film, Ody Mulya Hidayat (Produser Max Picture), Yan Wijaya Pengamat Film, Dimas Supriyanto (Wartawan senior), Nini Suny dan Didang Prajasasmita (Wartawan senior/Forwan).

Lewat Seminar Film tersebut, terungkap bahwa meski saat ini penonton film mengalami peningkatan tajam serta jumlah produksi Film Indonesia juga mengalami peningkatan, namun ternyata film Indonesia belum menjadi tuan rumah di Negeri sendiri.

Menurut pengamat Film Yan Wijaya, Film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri, semua itu karena dominasi film asing yang masih kuat. "Pada periode tahun 2018 saja, film asing khususnya dari Hollywood, India masih menguasai pasar film Indonesia," ujar Yan

Mantan wartawan Majalah Film ini, menambahkan secara bisnis film asing masih jauh lebih menguntungkan. "Memang dengan raihan penonton film Dilan 1991 yang mencapai angka lebih dari 5 juta kita patut berbangga, namun secara penghasilan dengan jumlah penonton yang hampir mengimbangi penonton film Captain Marvel, ternyata penghasilanya yang diraih film Captain Marvel jauh lebih besar ketimbang dengan yang dihasilkan Dilan 1991," papar Yan.

Sementara Djonny Syafruddin selaku pengusaha Bioskop,  berharap pemerintah segera menurunkan dan menyeragamkan nilai pajak tontonan hingga sepuluh persen. "Kalau bioskop bisa tumbuh di daerah-daerah sebagai basis penonton film Indonesia, pemerintah harus menurunkan pajak tontonan hingga sepuluh persen dan harus berlaku di seluruh Indonesia," kata DJohny.

Selain pajak tontonan yang masih tinggi, Djohny juga menyoroti tingginya tarif dasar listrik untuk film. "Mestinya pemerintah juga memberlakukan tarif khusus untuk bioskop, karena tarif yang ada sekarang masih terlalu tinggi," jelas Djohny.(Fajar)

Forwan
Forum Wartawan Hiburan selepas melakukan seminar bekerja sama dengan Pusbang Film Kemendikbud di Gedung Film, Kamis (28/03).

Penulis: Fajar

Baca Juga