Framing Media Sudah Tak Ampuh Pengaruhi Publik?

Jakarta, Akuratnews.com - Pemberitaan sebuah majalah mingguan belakangan ini mendapat sorotan publik.

Salah satunya dari Ketua BEM Universitas Az Zahra, Ryan Jaya. Ia melihat, hal ini belakangan dinilai tendensius dan jauh dari kode etik jurnalistik berimbang. Apakah ini kecenderungan dari upaya media melakukan framing agar mempengaruhi presepsi publik?

"Sangat disayangkanya warisan para pendahulu majalah tersebut seakan disalahgunakan. Pemberitaanya hari-hari ini terlihat menyerang sebagian kelompok untuk kepentingan. Data yang disajikan seringkali tidak tepat. Bahkan ketika terbukti tidak benar, mereka santai saja tidak melakukan klarifikasi pemberitaan," ujar Ryan di Jakarta, Sabtu (27/2).

Ryan mencontohkan, kasus dugaan korupsi bansos yg diberitakan media yang diduga melibatkan Gibran Rakabuming yang dituduh terlibat pengadaan goodie bagi bansos.

"Asal sebut namanya dan tidak terbukti ketika Juliari Batubara sendiri tegaskan Gibran Rakabuming tidak terlibat korupsi bansos. Bahkan hingga saat ini KPK menyatakan tidak menemukan indikasi keterlibatan Gibran," tambahnya.

Lebih jauh, aktivis ini mengatakan, media berinisial itu cenderung santai saja, padahal nama orang-orang yang dituduhkan tanpa bukti tersebut sudah terlanjur dicitrakan rusak.

"Dimana tanggungjawabnya?" ujar Ryan.

Masih kata Ryan, sangat disayangkan nama besar media itu terkerdilkan kejumawaan dan ketidakmauan meminta maaf.

Pada pemberitaan kasus yang disebut sebagai 'Bancakan Bansos Banteng' ini, selain Juliari, belum ada kader PDIP lain yang menjadi tersangka. Namun nama baik mereka-mereka yang disebut di dalam pemberitaan sampai dijadikan ilustrasi cover sudah kadung dirusak kredibilitasnya.

"Gambar di cover dan sebutan Madam seakan jadi gaya-gaya media itu dalam mengarahkan pada orang-orang yang ingin dijatuhkan. Karena semua orang paham siapa dua orang wanita yg kuat dan tinggi posisinya di PDIP yaitu Puan Maharani dan Megawati," katanya

Ia pun mengingatkan, masyarakat saat ini sudah paham kredibilitas dan framing framing yang diciptakan media.

Buktinya, dalam empat survey terakhir yang dilansir Februari ini tentang elektabilitas parpol, PDIP menempati posisi teratas bahkan lebih tinggi dari perolehan Pemilu 2019.

"Jadi framing yang dilakukan media tersebut terbukti tidak mampu mempengaruhi persepsi publik. Masyarakat sudah tidak percaya dengan kata menurut sumber penegak hukum, sumber di kementerian dan yang disebut sumber sumber yang kemudian ditutupi jati dirinya," ucapnya.

Ryan berharap media dapat memberi pembelajaran yang baik kepada masyarakat, khususnya kelompok milenial dan mahasiswa.

"Selalu berimbang, menyajikan hanya fakta, bukan opini semata tanpa dasar kuat, bukan framing yang menggiring dan merusak reputasi,” pungkasnya.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga