Galon Sekali Pakai Dinilai Membawa Masalah, Daur Ulang Bukan Solusi Terbaik dalam Pengurangan Sampah

Ilustrasi sampah plastik botol kemasan/pixabay

Jakarta, Akuratnews.com – Munculnya petisi “Tolak Galon Sekali Pakai” secara massif terus berkembang. Di tengah kondisi pergeseran budaya dalam pengurangangan sampah di tanah air, seakan tercederai dengan hadirnya produk-produk yang dinilai tidak mengusung semangat pengurangan sampah, salah satunya gallon sekali pakai.

Peneliti Greenpeace Indonesia Afifah Rahmi Andini mengatakan, pihaknya melihat kemunculan dari galon sekali pakai sudah membawa masalah. Kondisi sampah saat ini, terutama pencemaran sampah plastik sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan, dimana masalahnya belum kunjung usai.

“Sekarang muncul narasi-narasi neo destruktif dari galon sekali pakai. Kemudian yang membahayakan yang saya sebut neo destruktif karena seolah-olah galon sekali pakai untuk kemudian bisa dimainstreamkan penggunaannya. Dalam kampanyennya bahwa,  produk galon sekali pakai ini cenderung lebih higienis, lebih baik, terutama digunakan saat masa-masa pandemi. Padahal hal ini kemudian menjadi mengkhawatirkan, yang mana masyarakat sudah mulai bertransisi ke gaya hidup yang minim sampah, dengan membawa tumbler sendiri dan lain-lain,” ujar Affifah dalam diskusi daring di Jakarta bersama media, Kamis 25 Februari 2021.

Lebih jauh dia menjelaskan, dengan narasi-narasi yang ada Greenpeace menilai akahirnya menjadi kekhawatiran seluruh pihak yang awalnya diketahui sudah sampai titik yang lebih baik dalam pengelolaan sampah, khususnya di masyarakat yang berusaha untuk mengurangi.

“Tetapi kemudian ada narasi yang menarik mundur upaya yang sudah dilakukan publik dan tidak bisa dipungkiri masyarakat masih sangat bergantung pada kesediaan pasar. Apa yang disediakan pasar konsumen akan mengikuti. Oleh karena itu kami melihat keberadaan galon sekali pakai akan memperumit permaslahan sampah plastik di tanah air,” ungkapnya.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga