Empat Demonstran Tewas, Sejumlah Polisi Luka-luka

Gedung Capitol AS Diserbu, Pendukung Trump Sempat Kuasai Kursi Ketua DPR AS

BBC Demonstran pendukung Trump saat duduk di kursi Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, dan meninggalkan pesan, "Kami tak akan mundur."

Washington DC, Akuratnews.com - Pendukung Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC dan memaksa anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat berlindung dan harus menghentikan rapat pengesahan Joe Biden sebagai presiden terpilih Amerika Serikat (AS) oleh Kongres usai pemilu pada November 2020 lalu.

Para pendukung Trump itu menyerbu Gedung Capitol dan membuat kerusuhan serta sempat menduduki gedung. Empat orang tewas termasuk seorang perempuan yang ditembak polisi setelah mereka memanjat dan menerobos bangunan ikonik itu.

Dilansir dari CNN, Kamis (7/1), kerusuhan melanda ibukota AS ini setelah Trump mendesak para pendukungnya berperang melawan penghitungan seremonial dari suara elektoral. Perolehan suara sendiri mengkonfirmasi kemenangan presiden terpilih Joe Biden.

Sejak Rabu (6/1) siang, ratusan pengunjuk rasa pendukung Trump menerobos penghalang yang dipasang di sepanjang perimeter Gedung Capitol. Mereka bentrok dengan petugas yang dilengkapi pengaman anti huru-hara. Beberapa menyebut petugas itu sebagai pengkhianat. Wakil Presiden Mike Pence juga dievakuasi dari dalam ruangan.

Dalam kerusuhan itu, seorang perempuan meninggal setelah ditembak di dada di halaman Capitol. Dilansir dari AFP, Kamis (7/1), wanita pendukung Trump yang tewas ini bernama Ashli Babbit, pensiunan Angkatan Udara AS. Ia disebut sangat mendukung Trump.

Babbitt mengidentifikasi dirinya sebagai seorang veteran di akun Twitter-nya dan menuliskan kecintaannya pada AS. Dia baru-baru ini me-retweet pesan mendukung Trump dan dari mereka yang datang ke Washington pada Rabu (6/1) ini.

"Tidak ada yang akan menghentikan kami mereka dapat mencoba dan mencoba dan mencoba tetapi badai ada di sini dan turun ke DC dalam waktu kurang dari 24 jam gelap ke terang!" tulisnya dalam cuitan di akun Twitter pada hari Selasa.

Kepolisian Washington juga telah mengonfirmasi kematian wanita tersebut meski tak merinci situasi penembakan yang saat ini masih diselidiki. Babbit dilaporkan ditembak di tengah kekacauan dan kekerasan di dalam gedung Capitol ketika aparat kepolisian mulai mengacungkan senjata saat massa mendekat.

Kepala Polisi Washington DC, Robert Contee menjelaskan, tiga orang lainnya meninggal karena keadaan darurat medis selama kerusuhan itu.

“Seorang perempuan dewasa dan dua pria dewasa tampaknya kesakitan dalam keadaan darurat medis yang terpisah, yang mengakibatkan kematian. Kehilangan nyawa di distrik itu merupakan peristiwa tragis,” kata Contee, Rabu (6/1) malam.

Beberapa petugas juga terluka. Setidaknya satu petugas diangkut ke rumah sakit. Granat asap digunakan di sisi Senat Capitol. Jendela di sisi barat Senat telah rusak, dan ratusan petugas berkumpul di lantai satu.

Polisi sempat mendorong demonstran keluar dari tangga di sisi timur gedung. Para pengunjuk rasa terlihat mendorong pagar besi dan polisi menggunakan pagar untuk mendorong pengunjuk rasa kembali. Sementara petugas lain mengulurkan tangan ke atas. Polisi juga menembakkan gas air mata untuk membubarkan perusuh.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi
Photographer:BBC

Baca Juga