GEMPARI Kecam Tindakan Persekusi Terhadap Anak

Jakarta, Akuratnews.com - Maraknya tindakan persekusi atau main hakim sendiri terhadap warga khususnya anak dibawah umur yang dilakukan oleh ormas menuai kecaman.

Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Anak dan Remaja Indonesia (GEMPARI) Hj. H. Patrika S.A Paturusi S.H, mengatakan, tindakan persekusi tersebut apapun alasannya tidak bisa dibenarkan.

"Apapun alasannya persekusi, apalagi terhadap anak dibawah umur tidak bisa dibenarkan," ujar Anggi kepada Akuratnews.com Senin, (12/06/17).

Wanita yang biasa dipanggil Anggie ini menambahkan, Indonesia sebagai negara hukum. Dan oleh sebab itu, aparat penegak hukum harus bertindak tegas dan segera menjerat para pelaku sesuai hukum yang berlaku di tanah air.

"Persekusi itu hanyalah bagian kecil kekerasan terhadap anak sebetulnya. Namun tentu saja persekusi harus ditolak, karena itu merupakan tindakan sewenang-wenang seseorang, atau golongan terhadap orang lain, Aparat harus turun tangan menindak pelakunya," tegasnya.

Ia mengimbau kepada semua masyarakat agar melaporkan kepada Kepolisian bila menemukan dan melihat segala bentuk tindakan persekusi khususnya terhadap anak dan remaja.

Menurutnya berdasarkan perundang-undangan bentuk kekerasan terhadap anak dan remaja tersebut sangat luas. Kekerasan. Tak hanya secara fisik, namun tindakan secara verbal atau yang menghardik atau ancaman dengan kata-kata kasar juga merupakan kekerasan.

"Terkadang para anak itu tidak sadar, bahwa ‎dia telah mengalami kekerasan. Makanya kami memberikan pemahaman, edukasi kepada anak dan remaja tentang bentuk kekerasan. Dan setiap orang harus tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara," tutur dia.

Diketahui, Polda Metro Jaya telah menetapkan Abdul Mujib (22) dan Matusin (57) menjadi tersangka atas pemukulan pada Putra Mario Alvian Alexander (15). Pemukulan ini sendiri dipicu saat Mujib dan Matusin ikut menginterogasi Mario yang di status facebooknya diduga menghina ulama dan FPI.

"Keduanya menjadi tersangka dalam kasus tindak pidana kekerasan terhadap anak," kata Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan, di Mapolda Metro Jaya.

Peristiwa ini bermula pada 26 Mei lalu saat Mario memasang status di facebooknya, yang menghina FPI dan Habib Rizieq. Pada 28 Mei malam, massa FPI datang ke Cipinang Muara, dan menginterogasi Mario.

Tersangka dijerat dengan pidana tindak kekerasan pada anak yang dimaksud dalam pasal 80 jo pasal 76 C UU RI No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan pasal 170 KUHP tentang penganiayaan. (Ahyar)

Penulis:

Baca Juga