Situasi Papua Mulai Bangkit

Gercin Ajak Rakyat Bergandengan Tangan Membangun Papua

Kerusuhan di Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu meletus sebagai ujung dari aksi demonstrasi antirasialisme yang diduga terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

Jakarta, Akuratnews.com - Namun aksi tersebut kini sudah berakhir menyusul banyaknya tokoh adat, kepala suku, pemuda, ormas serta segenap masyarakat yang meminta Papua damai dan tetap berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Gerakan Rakyat Cinta Indonesia (Gercin) Hendrik Yance Udam sebagai salah putra daerah Papua mengaku sangat berterimakasih kepada Presiden Jokowi yang telah mengutus Panglima TNI dan Kapolri datang ke Papua membahas persoalan konflik horizontal ini.

"Kondisi Papua hari ini telah kondusif. Kami berterima kepada bapak Presiden yang sudah membangun tanah Papua yang jauh lebih baik dari kemarin. Kami juga berterima kepada Presiden Jokowi yang sudah mengutus Panglima TNI dan Kapolri yang sudah turun ke Papua dan berbaur dengan masyarakat dalam rangka menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif dan juga bersama-sama menandatangani kesepakatan Papua damai. Kita harus menjaga bangsa ini dari perpecahan." ujar Hendrik Yance Udam di FX Senayan, Jakarta Selatan, Senin (9/9/2019).

Hendrik menjelaskan mengenai pemantik terjadinya sejumlah aksi demo di Papua dan Papua Barat yaitu munculnya isu rasialis yang terjadi di Jawa Timur yang kemudian disebarkan oleh oknum-oknum yang penyebar ujaran kebencian kepada masyarakat Papua yang ada di asrama Papua.

"Kami lihat dari beberapa oknum susah ditetapkan sebagai tersangka." ujar Hendrik lagi.

Di Papua sendiri ada 5 wilayah adat dan di Papua Barat ada 2 wilayah adat. Ini yang mewakili keterwakilan rakyat Papua.

Persoalan Papua sangat kompleks dimana persoalan-persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah seperti UU Otonomi Khusus. Hal itu yang memicu munculnya referendum. Referendum Papua meminta keluar dari NKRI.

"Namun saat UU Otsus diberlakukan (2001-2021) baru 2 kebijakan yang dibuat. Pertama pembentukan majelis rakyat Papua dan kedua pembentukan anggota DPR Papua 14 kursi pada 2018." Jelas Hendrik.

Seperti dijelaskan Hendrik, di Papua ada 4 kelompok besar. Pertama adalah kelompok yang tidak puas dengan integrasi Papua masuk ke NKRI. Kelompok ini terdiri dari anak cucu dan korban pelanggaran HAM yang belum diselesaikan oleh pemerintah.

"Mereka juga yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah. Isu yang mereka mainkan adalah isu referendum." kata Hendrik lagi.

Kelompok kedua menurut Hendrik Yance Udam adalah yang memainkan isu kesejahteraan. Kelompok ini terdiri dari anak cucu pejuang, tokoh Papua yang menandatangani Papua masuk ke dalam NKRI yaitu Pepera.

"Kelompok ketiga adalah kelompok abu-abu. Kelompok ini yang sangat berbahaya. Kelompok ini terdiri dari elit politik, Pengusaha dan birokrasi yang main dua kaki. Kelompok ini saya sebut kelompok opportunis. Mereka yang memprovokasi elit dan rakyat Papua ketika kepentingan politik mereka tidak tersalurkan." tambah Hendrik.

Menurut Hendrik, terjadinya aksi demonstrasi kemarin adalah ulah dari kelompok ketiga. Mereka memanfaatkan kelompok pertama yaitu kelompok yang memainkan isu referendum.

Sementara itu menurut Hendrik, mereka yang masuk dalam kelompok keempat adalah non Papua masyarakat dan berada di seluruh nusantara. Tujuan mereka adalah kesejahteraan dan ingin membangun Papua dan ingin hidup damai.

Kami masyarakat Papua berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena membangun Papua.

Soal demo kemarin ada elit politik nasional yang ingin menciptakan wacana jika Jokowi tidak bekerja.

"Gerakan Rakyat Cinta Indonesia (Gercin) memiliki pendekatan kasih damai." terang Hendrik.

Hendrik kemudian mengajak kepada seluruh rakyat Papua dimanapun berada untuk bergandengan tangan membangun Papua lebih baik lagi ke depan agar tanah Papua jadi pergerakan bangsa ke depan untuk merawat dan menjaga kebhinekaan dalam bingkai NKRI.

"Saya meminta semua kelompok anak bangsa, elit politik nasional dan lokal apapun profesinya, supaya jangan lagi memanfaatkan isu-isu rasialis di Surabaya untuk kepentingan tertentu dan juga memanas-manasi isu rasial itu sehingga terjadi kegaduhan politik di Papua dan Papua Barat. Saya juga menghimbau jangan lagi menunggangi isu di Jawa Timur untuk kepentingan kelompok tertentu karena sudah selesai dan tak ada lagi gerakan yang mengatasnamakan Papua yang memainkan isu rasialis itu. Saya meminta kepada elit-elit Papua mendukung kesepakatan damai dan kita harus juga menjaga kepentingan bangsa di atas segala-galanya." tutup Hendrik.

Penulis: Alamsyah
Editor: Redaksi

Baca Juga