Gus Yaqut; Jangankan Kekuasaan, Nyawa Akan Saya Berikan

AKURATNEWS - Prinsip keseimbangan atau equilibrium dalam menjaga, memelihara dan memupuk keindonesiaan bukan persoalan gampang.

Menjaga suatu keadaan dimana interaksi yang terjadi antara komponen-komponen anak bangsa dapat berjalan harmonis dan berimbang, dengan tujuan (goal) akhirnya memberikan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia, telah diikhtiarkan para penggagas dan founding fathers kita.

Karenanya, pendulum kebangsaan Indonesia, yang didukung kaum nasional dan agamawan di Indonesia, harusnya benar-benar berada di titik seimbang, tidak dapat ditawar lagi.

Meski berbagai percobaan pernah dilakukan beberapa pendiri bangsa, untuk menarik pendulum ke titik terlalu kanan, hasilnya tidak berjalan baik. Demikian juga di titik lawannya, jika terlalu kiri, juga membahayakan.

Jika Nasionalisme, paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara (nation) terlalu ke kiri pendulumnya, akan menjadi komunis dikhawatirkannya. Soekarno pernah melakukan itu, dan gagal total dibuatnya, karena PKI ditimbang terlalu mesra dengannya.

Demikian sebaliknya, masyarakat yang agamis yang terlalu kanan, sebagaimana diikhtiarkan DI/TII, di bawah pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo juga menjadi berbahaya.

Karenanya ide kebangsaan telah jauh hari dipikirkan bahkan jauh selum Soekarno dan Kartosoewirjo masih sama-sama "ngangsu ilmu", "ngenger" dan "ngekos" di rumah H.O.S Cokroaminoto di Surabaya.

Yaitu saat para pemimpin Indische Partij atau acap dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai, yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hadjar Dewantara pada 1912-1914 memformulasikan gagasan kebangsaan yang ideal untuk sebuah negara bernama Indonesia.

"Karena itu pendulum kebangsaan Indonesia harusnya benar-benar berada di titik paling seimbang, jangan terlalu ke kanan, juga jangan terlalu ke kiri," kata Yaqut Cholil Qoumas kepada dr.Sugeng Ibrahim M.Biomed (AAM) dan Louis Farahan Damarjati  di kediamannya, di Rembang, baru-baru ini.

Gus Yaqut, putra K.H. Muhammad Cholil Bisri, dan adik K.H. Yahya Cholil Staquf, itu sangat paham sekali betapa pentingnya menjaga pendulum kebangsaan di tempat yang sangat berimbang. Tidak ke kanan dan tidak ke kiri.

Karenanya para kyai sepuh di Indonesia, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, KH Mas Mansyur, KH A Wahab Hasbullah, Buya Hamka, hingga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sepenceritaan Gus Yaqut, tidak pernah berniat membuat negara Islam.

"Karenanya Indonesia yang terdiri dari kaum Nasional dan kaum Agamawan, sepatutnya lebih dari bisa menciptakan kesetimbangan gagasan kebangsaan yang kita inginkan bersama," katanya.

Karena, imbuh Gus Yaqut, "Jalan tengah adalah jalan satu-satunya, dan gagasan Kebangsaan inilah yang saya lakukan. Sebagaimana pernah dilakukan Gus Dur, dulu," katanya sembari menyebut
Capres yang ada sekarang cenderung miskin gagasan. "Hanya ada dua yang memiliki gagasan Kebangsaan, Jokowi dengan Nawacita-nya dan Prabowo dengan gagasan Kebangsaannya. Yang lain, belum jelas," katanya lagi.

Karena itu, sebagai Menteri Agama di era kepemimpinan presiden Jokowi, Gus Yaqut senantiasa berpikir tentang keberlanjutan bangsa ini agar laras atau seimbang

"Saya tidak pernah bicara pencapresan...Karena yang ada dalam fikiran dan hati saya adalah gagasan kebangsaan. Namun bila Ibu pertiwi memanggil. Jangankan kekuasaan, nyawa akan saya berikan," pungkasnya.***

Penulis: Irish
Editor: Redaksi

Baca Juga