Menanggapi Korban Jiwa Akibat Banjir di Tanah Jawa

Gusmiyadi: Pemerintah Lamban dan Tidak Efektif dalam Tangani Bencana di Simalungun

Anggota DPRD Sumut, Gusmiyadi
Anggota DPRD Sumut, Gusmiyadi

Simalungun, Akuratnews.com - Akibat intensitas curah hujan cukup tinggi, yang mengguyur Kabupaten Simalungun dan sekitarnya, pada hari Senin (11/11/2019) sore, mengakibatkan banjir dan korban jiwa.

Hujan deras yang mengguyur, mengakibatkan banjir besar menimpa wilayah Afdeling VI, Kebun Bahjambi, Nagori Totap Majawa, Kecamatan Tanah Jawa.

Menurut informasi yang dihimpun dari sejumlah warga setempat, diperkirakan sekitar 400 kepala keluarga terkena dampak banjir dan seorang warga atas nama Sri Wati tewas akibat kesetrum arus listrik saat banjir tersebut.

Camat Tanah Jawa, Farolan Sidauruk ketika dikonfirmasi membenarkan peristiwa di wilayahnya tersebut, bahwa tewasnya Sri Wati kesetrum saat mencoba mencabut stop kontak barang elektronik kulkas dari dalam rumah yang sudah digenangi banjir.

“Masih diarahkan ke Polsek. Iya dia keseterum. Ia mencoba mencabut kabel kulkas. Jenazah ibu ini sudah ditangani oleh personel Polsek Tanah Jawa Simalungun", ujarnya.

Farolan mengatakan, banjir terjadi akibat luapan air dari perkebunan PTPN IV, karena tanggul jebol.

Ia juga mengatakan, bahwa banjir besar ini terjadi pada sore hari hingga setinggi pinggang orang dewasa.

“Sore hari itu terjadi luapan air dari PTPN IV, mungkin ada tanggul mereka yang jebol mengarah ke pondok. Biasanya gak ke pondok. Kalau sekarang sudah surut,” ungkapnya.

Farolan mengutarakan, bahwa banjir telah menyapu Desa Totap Majawa, Blok X, Kecamatan Tanah Jawa dan sekitarnya. Saat ini kondisi banjir sudah mulai surut", sambungnya.

“Sekarang sudah surut, memang tadi banjirnya sampai sepingganglah,” ucapnya.

Menanggapi permasalahan ini, Anggota DPRD Sumut, Komisi B Gusmiyadi yang juga Sekretaris Fraksi Gerindra, saat dikonfirmasi Media Akuratnews.com mengatakan, bahwa pola penanganan yang diambil oleh pihak PTPN, Pemkab dan Pemprov telah di pahami dan disepakati. Akan tetapi, apa yang terjadi hari ini membuktikan bahwa kegagalan dalam mengantisipasi.

"Kami memahami, bahwa telah terjadi kesepakatan pola penanganan yang diambil oleh pihak PTPN, Pemkab dan Pemprov. Tetapi apa yang terjadi, hari ini membuktikan bahwa kita gagal dalam melakukan antisipasi", kesalnya.

Gusmiyadi juga turut berdukacita atas tewas nya Ibu Sri Wati yang jadi korban bencana banjir tersebut.

"Hari ini ada satu korban tewas akibat dampak banjir Tanah Jawa kabupaten Simalungun. Korban meninggal akibat tersetrum listrik.

"Ini merupakan berita duka bagi kita, sekaligus menampar wajah pemerintah yang lamban dan tidak efektif dalam menangani bencana ini" katanya.

Dalam harapannya, Gusmiyadi memaparkan, Pertama, harus ada empat atau perhatian dari pihak-pihak terkait pada keluarga korban.

Kedua, lakukan rekonsolidasi untuk mengevaluasi kondisi terkini, dan mulailah dengan bekerja dengan terintegrasi guna menghasilkan penyelesaian masalah secara permanen. "Tidak boleh parsial", tegas nya.

Baca Juga