Hadapi Kemungkinan Serangan Iran, Israel Waspada

Jakarta, Akuratnews.com - Israel dalam keadaan waspada menghadapi kemungkinan serangan balasan atas pembunuhan jenderal tertinggi Iran Qassem Soleimani oleh AS. Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan retorikanya, sementara para pemimpin Iran mengancam AS dan Israel.

Tak lama setelah beredar kabar tewasnya Qassem Soleimani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu langsung memuji Presiden Trump atas pembunuhan pemimpin Garda Revolusioner itu.

"Seperti halnya Israel memiliki hak membela diri, AS memiliki hak yang sama. Qassem Soleimani bertanggungjawab atas kematian warga Amerika dan banyak orang tak berdosa lainnya. Israel mendukung AS dalam upaya menuju perdamaian, keamanan dan pertahanan diri."

Netanyahu juga mempersingkat lawatannya ke Yunani untuk pulang ke Israel segera. Israel khawatir aksi balasan bisa datang langsung dari Iran atau lewat proxy Iran, Hezbollah. Pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah mengatakan pembunuhan itu adalah awal perang baru dengan AS, dan menyerukan milisi-milisi Syiah untuk menyerang aset-aset militer AS di seluruh Timur Tengah. Dia juga mengatakan Israel telah meminta AS untuk membunuh Soleimani.

Trump telah mengancam akan menarget 52 sasaran di Iran apabila Teheran menyerang kepentingan-kepentingan AS.

Para pejabat Israel mengatakan Hezbollah memiliki lebih dari 100.000 roket yang bisa mentargetkan semua bagian negara itu. Pada waktu yang sama, mereka tidak yakin Hezbollah menghendaki peperangan besar-besaran dengan Israel.

Israel menutup resor ski Gunung Hermon di perbatasan dengan Suriah dan Lebanon pada Jumat (3/1), karena khawatir kemungkinan adanya serangan, dan masih menutupnya Sabtu (4/1) karena sebuah badai besar di wilayah itu. Namun resor itu sekarang sudah buka kembali, yang artinya para pejabat intelijen tidak yakin akan ada serangan segera.

Israel juga mendesak kedutaan-kedutaannya di luar negeri untuk memperketat prosedur keamanan, karena mengkhawatirkan adanya serangan. Tapi mantan kepala intelijen militer mengatakan apabila ada serangan balasan, kemungkinan akan menarget kepentingan-kepentingan AS.

Para analis Israel juga memperdebatkan seberapa seriusnya dampak kematian Soleimani terhadap Iran. Dan Orbach, seorang pakar sejarah militer, mengatakan kepada Radio Israel bahwa Garda Revolusioner Iran merupakan organisasi yang ter-desentralisasi dan pembunuhan Soleimani tidak akan melumpuhkan organisasi itu.

"Di sisi lain, Soleimani adalah sosok yang sangat karismatik, dia punya banyak pengalaman dan pengetahuan. Dia mengarahkan operasi terutama di dunia Arab dan melawan Israel. Kita tidak tahu pasti tetapi penerusnya, Ismail Raraby, mungkin malah tidak bisa berbahasa Arab," jelasnya.

Para pejabat Israel mengatakan mereka akan terus mempertahankan kewaspadaan yang tinggi baik di Israel dan luar negeri selama beberapa bulan kedepan.

Penulis: Redaksi

Baca Juga